.widget img{ max-width:100%; height:auto;}
Ahlan wa Sahlan di blog pribadi ana atriyuanda.web.id | Meniti Manhaj Salaf
Kisah tentang Besarnya ganjaran pahala menutup rapat aib seseorang

Kisah tentang Besarnya ganjaran pahala menutup rapat aib seseorang

Seorang pria mendatangi desa tertentu, bertanya tentang seseorang yang dia sendiri tidak kenal

Satu persatu orang yang dia temui ditanyai tapi tak ada yang tahu, lalu berkata ke sekumpulan orang : dimanakah fulan ibnu fulan ?

Ada yang berkata : dia tinggal disana (sambil menunjuk)

Ketika dia pergi kesana, dia lihat penampilannya sederhana dan biasa-biasa saja, tidak tampak seorang ahli ibadah

Lalu didatangi dan berkata, anda fulan ibnu fulan ?

Fulan : ya

Pria : saya ingin anda memberi tahu saya tentang amalan sholeh antara anda dan Allah yang mana tak ada seorang pun yang tahu kecuali Allah

Fulan : amal apa yang anda maksudkan ?

Pria : anda punya amal sholeh rahasia, saya tak kenal anda begitu juga sebaliknya, saya datang dari tempat yang jauh, kenapa saya datang ? karna ada perkara yang saya alami berkaitan tentang anda yaitu perihal amal sholeh tersembunyi antara anda dengan Allah.

Fulan : baiklah kalau begitu, saya akan sampaikan kepada anda

Pria : oke

Fulan : saya telah menikahi wanita yang masih dekat hubungan kerabat dengan saya

Ketika aku sah telah menikahinya, tak lama kemudian istriku berkata : tutuplah aibku, semoga Allah tutup pula aibmu.

Lalu aku berkata : ada apa dengan kamu ?

Istrinya : aku telah hamil di luar nikah, jika keluargaku tahu, mereka akan langsung membunuhku, sekarang aku ada dihadapanmu, jika kamu hendak memberi tahu mereka maka lakukan, namun jika kamu tutup aibku, semoga Allah tutup pula aibmu.

Fulan : ketika itu aku diam (merenung) dan menjaga aibnya, lalu kami pindah ke negeri lain yang mana tak ada yang mengenal kami, di negeri itu aku larang istriku keluar rumah dan menemui siapapun hingga dia melahirkan.

Ketika telah lahir, aku bawa bayi (cowok) tersebut pada akhir malam ( menjelang azan subuh). Saya mendekati pintu masjid, ketika semua jamaah masuk masjid melaksanakan shalat berjamaah.

Saya letakkan bayi tersebut dibelakang pintu lalu masuk ke shaf melaksanakan sholat berjamaah.

Tak lama setelah selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah, si bayi menangis, lalu manusia berkumpul dekat bayi tersebut, (salah seorang berkata) ini bayi siapa ?, siapa yang tahu anak ini ?

Berkata si fulan tersebut kepada mereka : tidak apa-apa jika tidak ada yang tahu, berikan anak tersebut kepada saya, biar saya saja yang memeliharanya, akan tetapi kalian bersaksi bahwa ini bukanlah anakku, akan tetapi aku menemukannya di masjid.

Lalu dia bawa anak tersebut

Fulan : aku ambil dan bawa ke ibunya kembali. ini anakmu, peliharalah dia, sekarang aibmu terlindung dari pandangan manusia (tak malu keluar rumah bawa anak)

Fulan : sekarang anda sudah tahu kisah rahasia tersebut, apa yang kamu inginkan dari kejadian tersebut ?

Pria : aku bertemu Rasulullah (dalam mimpi) yang memberikan kabar gembira kepadamu dengan syurga

Allahumma sholli wa sallim ala nabiyina Muhammad

Pria tersebut jumpa nabi dalam mimpinya tentang si fulan yang diberi kabar gembira dengan syurga karena perbuatannya tersebut.

Begitu besar ganjaran menutup aib

selengkapnya »
Tidak Cukup Hafal, Harus Paham Dan Amalkan | Syeikh Sholeh Fauzan Hafizahullah

Tidak Cukup Hafal, Harus Paham Dan Amalkan | Syeikh Sholeh Fauzan Hafizahullah


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَخَصَ بِبَصَرِهِ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ قَالَ هَذَا أَوَانُ يُخْتَلَسُ الْعِلْمُ مِنْ النَّاسِ حَتَّى لَا يَقْدِرُوا مِنْهُ عَلَى شَيْءٍ فَقَالَ زِيَادُ بْنُ لَبِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ كَيْفَ يُخْتَلَسُ مِنَّا وَقَدْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ فَوَاللَّهِ لَنَقْرَأَنَّهُ وَلَنُقْرِئَنَّهُ نِسَاءَنَا وَأَبْنَاءَنَا فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَعُدُّكَ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَذِهِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ عِنْدَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فَمَاذَا تُغْنِي عَنْهُمْ قَالَ جُبَيْرٌ فَلَقِيتُ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ قُلْتُ أَلَا تَسْمَعُ إِلَى مَا يَقُولُ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ قَالَ صَدَقَ أَبُو الدَّرْدَاءِ إِنْ شِئْتَ لَأُحَدِّثَنَّكَ بِأَوَّلِ عِلْمٍ يُرْفَعُ مِنْ النَّاسِ الْخُشُوعُ يُوشِكُ أَنْ تَدْخُلَ مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَلَا تَرَى فِيهِ رَجُلًا خَاشِعًا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَمُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ ثِقَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا تَكَلَّمَ فِيهِ غَيْرَ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ نَحْوُ هَذَا وَرَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 Telah bercerita kepada kami [Abdullah bin Abdurrahman] telah mengabarkan kepada kami [Abdullah bin Shalih] telah menceritakan kepada kami [Mu'awiyah bin Shalih] dari [Abdurrahman bin Jubair bin Nufair] dari [bapaknya, Jubair bin Nufair] dari [Abu Ad Darda'] dia berkata; Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menengadahkan pandangannya ke langit kemudian berkata; 

"Inilah saatnya ilmu dicabut dari manusia sehingga mereka tidak mampu mengetahui darinya sama sekali", maka Ziyad bin Labid Al Anshari bertanya; 'Bagaimana ilmu dicabut dari kami, padahal kami membaca Al Qur'an? Demi Allah, kami pasti akan membacanya dan membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami.'

Maka beliau berkata: "alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, sesungguhnya aku menganggapmu termasuk orang yang faqih di Madinah, inilah kitab Taurat dan Injil milik Yahudi dan Nashrani maka apakah bermanfaat bagi mereka?" Jubair berkata; Kemudian aku bertemu dengan [Ubadah bin Ash Shamith], maka aku bertanya; 'Tidakkah kamu mendengar sesuatu yang dikatakan saudaramu yaitu Abu Ad Darda'? ' Maka aku memberitahukan kepadanya apa yang dikatakan oleh Abu Ad Darda'. 

Dia berkata; 'Abu Ad Darda' benar, jika kamu berkehendak sungguh pasti aku ceritakan kepadamu tentang ilmu yang pertama kali akan diangkat dari manusia yaitu Al Khusyu' (rasa khusyu') hampir-hampir kamu masuk ke dalam masjid jami' namun kamu tidak melihat seorang pun di dalamnya orang yang khusyu'.' Abu Isa berkata; 'Hadits ini hasan gharib. Mu'awiyah bin Shalih adalah seorang yang tsiqah menurut para ahli hadits, dan kami tidak mengetahui ada seorang pun yang berbicara tentang dia kecuali Yahya bin Sa'id Al Qaththan, dan telah diriwayatkan dari Mu'awiyah bin Shalih hadits yang semakna dengan ini, sedangkan sebagian perawi yang lain telah meriwayatkan hadits ini dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari bapaknya dari Auf bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam." Sunan Tirmidzi. 2577

syarah hadist oleh syeikh fauzan hafizahullah

baiklah, hadist ini selaras dengan hadist sebelumnya (yang telah dibahas) bahwasanya ilmu (yang pertama kali) diangkat adalah mengetahui dan memahami (yang benar) isi kandungan alquran dan sunnah nabi-Nya Shallallahu alahi wa salam.

padahal alquran dan hadist sudah ada namun sedikit yang mengerti dan paham, banyak yang telah menghafal dan membacanya, ada yang bisa membacanya dengan 10 macam qira'ah, menguasai dalam bacaan dan tajwid, namun tidak paham alquran walau 1 ayat, seperti alat elektronik pemutar suara, tahu apa itu pemutar suara ? yaitu kamu hidupkan lalu lantunan bacaan alquran terdengar, hanya sebatas alat yang menyimpan alquran namun tidak paham.

seseorang dituntut paham agama Allah dan beramal, walau dia belum hafal alquran, pemahaman agama diberikan Allah kepada yang dia kehendaki

من يريد الله به خيرا يفقهه في الدين
"barangsiapa yang Allah berkehendak kebaikan kepadanya maka dia berikan pemahaman agama (yang benar)". Mu'jam Thabarani Kabir jilid 19 halaman 386 hadis nomor 16576

anda tidak dituntut hafal nash saja namun yang paling di tuntut adalah anda paham maksud (sebenarnya) sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'ala inginkan yaitu mengerti maknanya dan mengamalkan, ini namanya paham. ini yang dikehendaki.

adapun menghafal alquran, shahih bukhari-muslim, sunan al-arba', musnad ahmad hanya sebatas hafal namun tak paham, itu tidak cukup, harus di telaah juga maka itu lebih baik, tidak bermanfaat hafal tanpa dibarengi pemahaman (yang benar)

bukan tauladan (dituntut) hanya hafal saja tapi juga harus mengerti dan paham, dan bukan tauladan (dituntut) hanya faham saja namun harus dibarengi dengan perbuatan, ini seharusnya dilakukan.

berilmu dan beramal, itu yang dituntut namun jika tidak (sebaliknya) maka (dikhawatirkan) seperti ahlul kitab yang sesat dan mereka di laknat Allah, ada yang dirubah bentuk menjadi kera dan babi padahal mereka sudah diberikan taurat dan injil.

sebagaimana firman Allah

وَكَيْفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِندَهُمُ التَّوْرَاةُ فِيهَا حُكْمُ اللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوْنَ مِن بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ
"dan bagaimana mereka akan mengangkatmu (muhammad) menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, nanti mereka berpaling (dari putusanmu) setelah itu? sungguh, mereka bukan orang-orang yang beriman. QS. Al-Maidah: 43

kalau mereka benar-benar berhukum dengan hukum taurat dan injil, maka pasti mereka mengikut muhammad rasulullah shallallahu alahi wa salam, karena taurat dan injil memerintahkan mereka mengikuti muhammad rasulullah shallallahu alahi wa salam, namun realitanya mereka tidak berhukum dengan hukum taurat dan injil padahal mereka membaca dan ada yang hafal akan tetapi tidak paham dan tidak pula diamalkan, hal tersebut tidak memberi manfaat kepada mereka.

didalamnya terdapat anjuran untuk memahami al-qur'an dan sunnah rasulullah shallallahu alahi wa salam, tidak cukup hafal saja namun juga harus paham dan diamalkan, harap diperhatikan ini.

baiklah, sebagian manusia, sebagian pemuda semoga Allah berikan mereka pemahaman agama yang benar, ada yang mengatakan saya hafal bukhari, ketika ditanya 1 permasalahan dalam bab fiqh namun tidak mampu dia jawab, ini disebabkan ketidakpahamannya, tidak paham maknanya dan tidak pula belajar kepada ulama (yang benar pemahamannya) yang telah mensyarah dan memberi penjelasan.

diterjemahkan oleh Atri Yuanda elpariamany
selengkapnya »
Mengenal Istilah-Istilah dalam Ilmu Hadist

Mengenal Istilah-Istilah dalam Ilmu Hadist

Mengenal Istilah-Istilah dalam Ilmu Hadist

Allah azza wa jalla telah mengutus nabinya muhammad shallallahu alahi wa salam dengan petunjuk dan agama yang hak, diturunkan kepadanya al-quran al-karim sebagai petunjuk yang Allah ta'ala jaga dari perubahan, penyelewengan, penambahan dan pengurangan, sebagaimana Allah ta'ala telah berfirman dalam alquran

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
sesungguhnya kamilah yang menurunkan az-zikra dan pasti kami (pula) yang memeliharanya. QS. al-hijr. 9

selain alquran, pedoman kedua umat islam adalah hadist nabi sebagai pensyarah alquran dan menjelaskan tentang aqidah, tatacara ibadah, muamalah dll , sebagaimana Allah telah berfirman

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
dan kami turunkan adz-dzikr (alquran) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. (QS. An-Nahl. 44)

untuk mempelajari kandungan al-qur'an maka hadist nabi berperan besar dalam hal mensyarahnya.

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلاّ لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدىً وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
dan kami tidak menurunkan kitab (al-qur'an) ini kepadamu (muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. An-Nahl. 64)

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ (4)
dan tidaklah yang diucapkannya itu (alquran) menurut keinginannya, tidak lain (alquran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). An-Najm. 3-4

as-sa'dy rahimahullah berkata dalam tafsirnya: ini menunjukkan bahwa sunnah (hadist) merupakan wahyu dari Allah kepada rasulnya shallallahu alahi wa salam

قال الحافظ ابن رجب : " فأقامَ اللّهُ تعالى لحفظِ السُّنَّةِ أقواماً ميَّزوا ما دخلَ فيها من الكذبِ والوهم والغلطِ ، وضبطُوا ذلكَ غايةَ الضبطِ ، وحفظوه أشدَّ الحفظِ ". انتهى ، "تفسير ابن رجب الحنبلي" (1/605).
berkata alhafidz ibnu rajab: maka Allah ta'ala tetapkan sekelompok kaum untuk menjaga sunnah untuk menyaring, membeda-bedakan sehingga tidak tercampur di dalamnya kedustaan, ilusi/kesan palsu/sangkaan lemah dan kekeliruan/tidak benar, dan menjaganya dengan cermat dan teliti dengan segala upaya yang maksimal dan menghafalnya dengan sangat luar biasa penjagaan. tafsir ibnu rajab alhambaly (1/605)

oleh karena itu seorang muslim tidak boleh mencukupkan diri mempelajari dan mengamalkan islam hanya alquran saja tapi juga hadist nabi yang shahih berdasarkan pemahaman salafus shalih terdahulu.


pada artikel ini dibahas mengenai istilah-istilah ilmu hadist yang disusun para ulama salaf sebagai kaedah untuk para penuntut ilmu agar lebih mudah memahami penjelasan para ulama hadist.

dalam mempelajari hadist sebagian kita mungkin pernah mendengar dalam sebuah kajian atau cerama yang mengatakan silahkan merujuk kepada kutubus sittah (6 imam pemilik kitab kumpulan riwayat hadist), kutubut tis'ah atau pernah membaca pada akhir matan tertulis rowahu (diriwayatkan oleh) ashhabus sunan, akh'rajahu (dikeluarkan oleh) sittah.

penggunaan istilah kutub / kitab / ashabu/rawahu / akhrajahu maksudnya sama yaitu mengarah kepada imam-imam hadist yang mengumpulkan hadist ke dalam kitab-kitab hadist mereka, seperti :

- shahihain (صحيحين) / muttafaqun alahi (متفق عليه) / riwayat bukhari muslim (رواه البخاري و مسلم) : maksudnya bukhari dan muslim

imam asy-syuyuthi rahimahullah dalam kitabnya "tadribur ra'wi" : jika dikatakan shahih muttafaqun alahi atau muttafaqun ala sihhatihi maka maksudnya kedua syaikh yaitu imam bukhari dan muslim sepakat, bisa jadi suatu hadist disepakati oleh bukhari muslim dalam hal periwayatan dari 1 jalur sahabat yang sama atau dari 2 jalur yang sama atau sama-sama dari jalur sahabat nabi yang banyak. bukan maksudnya para perawi dalam sanad hadist sepakat dalam hal lafadz dan makna namun terkadang lafadznya berbeda.

jadi maksud dari muttafaqun alahi adalah hadist yang di riwayatkan imam bukhari dan muslim lalu dicantumkan dalam kitab mereka berdua baik itu sepakat dalam hal lafadz atau berbeda lafadznya, namun yang terpenting sepakat dalam hal maknanya. (islamweb.net)

- akhrajahu as-tsalasah (أخرجه الثلاثة)  / rawahu as-tsalasah (رواه الثلاثةmaksudnya adalah 3 sumber riwayat hadist dalam kitab sunan abu daud, sunan an-nasa'i dan sunan attirmidzi

- ashhabus sunnan (أصحاب السنن) / akhrajahu al-arba'ah (أخرجه الأربعة) / rawahu al-arba'ah (رواه الأربعة) : maksudnya adalah 4 sumber riwayat hadist dalam kitab sunan abu daud, sunan at-tirmidzi, sunan an-nasa'i, sunan ibnu majah

akhrajahu al-khamsah (أخرجه الخمسة) / rawahu al-khamsah (رواه الخمسة) : maksudnya adalah 5 sumber riwayat hadist dalam kitab ashabus sunan dan musnad ahmad

- akhrajahu sittah (أخرجه الستة) / kutubus sittah (كتب الستة) maksudnya adalah 6 sumber riwayat hadist dalam kitab shahihain dan ashhabus sunan

- rawahu al-jamaah (رواه الجمعة) / kutubus sab'ah (كتب السبعة) / akhrajahu as-sab'ah (أخرجه السبعة) maksudnya adalah 7 sumber riwayat hadist dalam kitab shahihain, ashhabus sunan dan musnad ahmad

- akhrajahu at-tis'ah (أخرجه التسعة) / kutubut tis'ah (كتب التسعة) : maksudnya adalah hadist yang diriwayatkan oleh 9 imam yaitu di dalam kitab shahihain, ashhabus sunan, musnad imam ahmad, muwatto imam malik dan sunan ad-darimy

Penjelasan tentang hadist, khabar, atsar, dan hadist qudsi

hadist : apa saja yang disandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam berupa ucapan atau perbuatan atau ketetapan atau pensifatan.

khabar : apa yang disandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam dan kepada selainnya sehingga ini lebih bersifat umum dan lebih luas dari hadist

atsar : apa saja yang disandarkan kepada shahabat nabi atau tabiin, dan terkadang yang diinginkan menyandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam dalam bentuk terbatas.

seperti: dan dalam atsar dari nabi shallallahu alahi wa salam.

para ulama hadist juga menggunakan istilah lain dari kata hadist dengan penyebutan sunnah, khabar dan terkadang memakai istilah atsar.

al-hadist al-qudsi : ungkapan yang diriwayatkan nabi shallallahu alahi wa salam dari rabbnya namun dengan lafadz dari nabi sendiri

hadist qudsi nama lainnya al-hadist ar-rabbani dan al-hadist al-ilahy

seperti perkataan rasulullah shallallahu alahi wa salam yang beliau riwayatkan dari Allah ta'ala Rabb-nya, bahwasanya nabi berkata:

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
"Allah 'azza wajalla berfirman; 'Bagi hamba-Ku adalah sebagaimana perasangkanya kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." HR. Muslim. 4851

kedudukan antara hadist qudsi, hadist nabawi dan alquran

1. alquran : disandarkan kepada allah ta'ala lafadz dan makna

2. hadist nabawi : disandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam lafadz dan makna

kecuali perkara yang tidak diketahui oleh nabi shallallahu alahi wa salam, tidaklah dia berbicara melainkan berdasarkan wahyu seperti kabar tentang perkara qaib di masa akan datang dan seperti kejadian dalam hadist yang diriwayatkan oleh ya'la bin umayyah mengenai seseorang yang bertanya kepada nabi shallallahu alahi wa salam tentang apakah diharamkan umrah dalam keadaan memakai wewangian ? lalu nabi shalallahu alahi wa salam diam sejenak sampai datang kepadanya wahyu mengenai pertanyaan tersebut. dalam kondisi ini hadist nabawi juga maksudnya disandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam lafadz namun maknanya tidak.

teks hadist secara lengkap tentang hukum pake wewangian ketika umrah

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ أَنَّ صَفْوَانَ بْنَ يَعْلَى بْنِ أُمَيَّةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ يَعْلَى كَانَ يَقُولُ لَيْتَنِي أَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يُنْزَلُ عَلَيْهِ قَالَ فَبَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجِعْرَانَةِ وَعَلَيْهِ ثَوْبٌ قَدْ أُظِلَّ بِهِ مَعَهُ فِيهِ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ إِذْ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ عَلَيْهِ جُبَّةٌ مُتَضَمِّخٌ بِطِيبٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي رَجُلٍ أَحْرَمَ بِعُمْرَةٍ فِي جُبَّةٍ بَعْدَمَا تَضَمَّخَ بِالطِّيبِ فَأَشَارَ عُمَرُ إِلَى يَعْلَى بِيَدِهِ أَنْ تَعَالَ فَجَاءَ يَعْلَى فَأَدْخَلَ رَأْسَهُ فَإِذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْمَرُّ الْوَجْهِ يَغِطُّ كَذَلِكَ سَاعَةً ثُمَّ سُرِّيَ عَنْهُ فَقَالَ أَيْنَ الَّذِي يَسْأَلُنِي عَنْ الْعُمْرَةِ آنِفًا فَالْتُمِسَ الرَّجُلُ فَأُتِيَ بِهِ فَقَالَ أَمَّا الطِّيبُ الَّذِي بِكَ فَاغْسِلْهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَأَمَّا الْجُبَّةُ فَانْزِعْهَا ثُمَّ اصْنَعْ فِي عُمْرَتِكَ كَمَا تَصْنَعُ فِي حَجِّكَ 
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim Telah menceritakan kepada kami Ismail Telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij katanya, Telah menceritakan kepadaku 'Atha", bahwasanya Shafwan bin Ya'la bin Umayyah mengabarinya, Ya'la berujar; "Sekiranya aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika wahyu diturunkan kepadanya! Katanya, maka ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada di Ji'ranah yang ketika itu beliau dinaungi dengan sebuah kain bersama beberapa orang sahabatnya, tiba-tiba seorang arab pedusunan (badui,) yang memakai jubah beraroma minyak wangi menemuinya dan bertanya; "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berihram untuk umrah dengan jubah setelah diberi wewangian? Umar lantas memberi isyarat kepada Ya'la dengan tangannya yang pesannya; "Kemari". Ya'la kemudian datang dan memasukkan kepalanya. Serta merta wajah Rasulullah memerah dan naik darah beberapa saat, kemudian reda. Kata beliau: "Mana si arab badui yang bertanya tentang Umrah? Ia pun kemudian dicari dan didatangkan. Lalu Nabi bersabda: "Wewangian yang ada padamu, tolong cucilah tiga kali, adapun jubah, maka tanggalkanlah, kemudian lakukan dalam umrahmu sebagaimana kamu lakukan dalam hajimu." HR. Bukhari. 3984

3. hadist al-qudsi : disandarkan kepada Allah ta'ala makna bukan lafadz (lafadznya dari nabi)

catatan tentang hadist qudsi

  1. membaca hadist qudsi lafadznya berbeda dengan alquran yang punya keutamaan dan bernilai pahala setiap hurufnya jika dibaca
  2. hadist qudsi tidak dibaca dalam sholat untuk menggantikan alquran
  3. tidak ada pertentangan di dalamnya
  4. periwayat hadist qudsi tidak mutawatir sebagaimana alquran
  5. hadist qudsi ada yang shahih, dhaif/lemah bahkan palsu
bersambung.......

ditulis oleh Atri Yuanda elpariamany

referensi bacaan
mustalahul hadist ibnu utsaimin rahimahullah
islamqa.com
carihadis.com
dll
selengkapnya »
Kelak, Setiap Kita menghadap Allah ta'ala tanpa penerjemah

Kelak, Setiap Kita menghadap Allah ta'ala tanpa penerjemah

Pada hari kiamat nanti, dikatakan kepada fulan ibnu fulan kemarilah menghadap Allah

Sebagaimana nabi katakan dalam hadist shahih

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ ربه، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ 
Tidak ada satu orangpun dari kalian melainkan dia akan diajak bicara oleh Allah (secara langsung), diantara dia dengan Allah tidak ada (tidak butuh) penerjemah. HR. Bukhari dan muslim

Apa yang sudah kamu persiapkan ketika (kelak) berada pada posisi tersebut ?

Dengan wajah bagaimanakah kamu akan menghadap Allah ?

Jika Allah memanggilmu untuk berdiri menghadap-Nya, lalu bertanya tentang amalan mu dan menghitung dari lembaran catatan amalmu.

Apakah anda selalu mengingat-ingat kelak akan berdiri dihadapan Allah pada hari kiamat ?

Seorang manusia jika selalu mengingat-ingat posisi tersebut, keluar dari hatinya kecintaan yang berlebihan terhadap dunia (yang hina dan fana)

Oleh karena itu, Allah ta’ala katakan

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ 
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya. QS. Annaziat. 40

Maka seorang manusia jika selalu mengingat bahwa dia kelak akan bertemu dan menghadap Allah, dia akan menahan diri memperturuti hawa nafsunya (yang mendatangkan murka Allah)

selengkapnya »
Meluruskan Fakta Sejarah Abul Hasan Al-Asy'ari, Asya'iroh harus tahu

Meluruskan Fakta Sejarah Abul Hasan Al-Asy'ari, Asya'iroh harus tahu


Penanya: apa perbedaan asya'irah dengan ahlussunnah
nama lain ahlussunnah : ahlu hadist dan juga salafiyyun
asyairah adalah sekte yang disandarkan kepada (namanya) ali bin ismail, abul hasan al-asya'ri.
nasabnya bersambung kepada sahabat nabi (namanya) abu musa al-asy'ari

abul hasan al-asya'ri lahir dalam keadaan yatim (ayahnya meninggal ketika dia masih kecil)
ibunya menikah lagi dengan pria lain namanya abu ali al-jubba'i, abu ali al-jubba'i adalah pembesar sekte mutazilah pada masa itu. abu ali al-jubba'i yang mendidik anak istrinya abul hasan al-asya'ri ali bin ismail.

abul hasan al-asya'ri tumbuh kembang dilingkungan mutazilah hingga dia dewasa, ketika usianya sudah 40 tahun, beliau dikenal cerdas dan bijak

pada usia 40, mulai meragukan di banyak perkara pada aqidah mutazilah, dahulu dia pernah dengar dari seseorang yang namanya dikenal abdullah bin said ibnu kullab

beliau abdullah bin said ibnu kullab aqidahnya antara mutazilah dan ahlussunnah

ideologinya banyak mempengaruhi abul hasan al-asya'ri dan  beliau condong kepadanya (abdullah bin said) akan tetapi abul hasan al-asya'ri berbeda pandangan pada beberapa perkara abul hasan al-asya'ri tinggalkan aqidah mutazilah dan mengikuti aqidahnya abdullah bin said yang dikenal dengan sekte kullabiyah

abul hasan al-asya'ri mengikuti aqidahnya abdullah bin said dalam beberapa masa (tidak diketahui) kemudian beliau tinggalkan

abul hasan punya cara pandang sendiri yang beliau sampaikan dihadapan manusia (dikenal banyak orang dan suaranya didengar)

abul hasan seorang penceramah dan intelektual (terpelajar) sehingga manusia banyak menyukainya pada zaman tersebut, dan abul hasan condong dengan ideologi barunya (yang dicetuskannya) menyelisihi mutazilah dan kullabiyah.

ketika itu beliau belum mengenal aqidah ahlussunah kemudian setelah itu beliau mendapati kitab imam ahmad ibnul hambal rahimahullah ta'ala.

ketika beliau sibuk membaca (mentelaah) maka beliau sadar bahwa inilah aqidah umat islam lalu beliau rujuk dari pemahaman sebelumnya dan mengikuti apa yang ditulis oleh imam ahmad rahimahullah.

abul hasan al-asya'ri kembali kepada aqidah ahlussunnah dan istiqomah hingga beliau wafat lalu beliau menulis 2 kitab (al-ibanah ala' ushulud diyanah dan al-maqolat al-islamiyah).

pada 2 kitab ini beliau menegaskan berada pada aqidah ahlussunnah wal jamaah walau ada beberapa perkara masih terpengaruh aqidah sebelumnya yang belum beliau ketahui dari aqidah ahlussunnah, jika tidak, maka akan sepenuhnya mengikuti aqidah ahlussunnah.

barangsiapa yang mengaku asya'irah (mengikuti abul hasan) pada zaman ini, mereka mengikuti aqidah abul hasan sebelum kembali kepada aqidah ahlussunnah dan mengingkari taubatnya abul hasan dari aqidah sebelumnya dan kembali kepada aqidah ahlussunnah. padahal kitab beliau yang ada sekarang ini mempertegas aqidah ahlussunnah wal jamaah, namun mereka menyelisi abul hasan al-asyari

faktanya asya'irah sekarang, sedikitpun tidaklah mengikuti abul hasan al-asyari akan tetapi mengikuti aqidahnya rozi, ibnu fauroq, al-bakilany dan lainnya.

walau aqidahnya al-bakilani lebih sedikit penyimpangannya dari ibnu fauroq dan arrozi
asya'iroh pada zaman ini lebih tepat disebut arraziun atau fauroqiyun, mereka sama sekali tidak mengikuti abul hasan asya'ri, abul hasan al-asya'ri beraqidah ahlu sunnah bukan beraqidah asya'iroh.

yang ada pada zaman ini, asya'iroh menyelisihi ahlussunnah dalam hal aqidah walau ada beberapa yang sejalan dengan aqidah ahlussunnah seperti mengatakan dengan baik tentang sahabat nabi namun menyelisihi dalam perkara wajib bagi mukallaf (yang dibebani syariat), mengingkari aqidah asma wa sifat, mengingkari uluhiyah Allah yang istiwa di atas arsy, mengingkari kaum mukminin melihat Allah pada hari kiamat, pengingkaran dalam bab imam dan banyak lagi, hingga dalam hal takfir menyelisihi ahlussunnah.

tidak diragukan, asyairoh adalah salah satu sekte yang dikabarkan nabi akan terpecah umat ini menjadi 73 sekte (golongan), akan tetapi sekte asya'roh merupakan sekte yang paling dekat dengan ahlussunnah, karna mereka lebih baik dari syiah rafidhoh, khawarij, mutazilah, jahmiyah dan dari sekte lainnya.

akan tetapi kullabiyah lebih dekat kepada aqidah ahussunnah daripada asya'roh sekte kullabi, saya tak tahu ada yang mengikutinya saat ini.

asyairoh lebih dekat dengan ahlussunnah kemudian sekte matrudiyah, kemudian menjauh dan menjauh penyimpangan aqidah pada sekte yang lainnya.

jadi yang benar, asya'iroh bukan bagian dari ahlussunnah akan tetapi mereka termasuk bagian dari kaum muslimin, mereka muslim bukan kafir akan tetapi mereka adalah sekte bidah yang menyimpang. wallahu a'lam

diterjemahkan oleh Atri Yuanda
selengkapnya »
Sholat jahr apakah makmum membaca alfatihah atau cukup imam ?

Sholat jahr apakah makmum membaca alfatihah atau cukup imam ?


jika imam sholat memberikan anda kesempatan membaca alfatihah
diam sejenak agar makmum bisa membaca alfatihah
maka bacalah alfatihah pada waktu jeda tersebut

jika..... sabar (menanggapi si penanya)
dan jika imam tidak memberikan anda kesempatan membaca alfatihah
yaitu membaca tidak bersambung dengan ayat berikutnya
berhenti setelah membaca 1 ayat

alhamdulillahi robbil a'lamin kemudian imam diam sejenak
arrahmanirrahim kemudian diam sejenak
maliki yaumiddin kemudian diam sejenak
berhenti pada awal ayat yang sudah dibaca
pada keadaan ini, makmum membaca alfatihah pada jeda waktu tersebut

yaitu, jika imam membaca alhamdulillahirrabbil a'lamin
kemudian diam sejenak, maka makmum membaca juga di waktu jeda tersebut

jika imam ucapkan arrahmanirrahim maka makmum juga ucapkan di waktu
jeda imam, hingga imam selesai dan makmum juga selesai baca

jika imam tidak memberikan kesempatan makmum baca alfatihah
dan membaca ayat bersambung dengan cepat, waktu jeda sangat singkat
membaca 1 nafas pada 1 ayat atau 2 ayat
tidak ada peluang membaca ikuti imam
pada keadaan ini, terjadi diskusi diantara para ulama

sebagian ulama bahkan kebanyakan menyatakan bahwa bacaan imam sudah cukup
pada sholat jahriyyah (bacaan dikeraskan)
bacaan imam sudah cukup, sebagaimana pada mazhab malik, ahmad, dan abu hanifah

dan sebagian ulama mengharuskan makmum juga membaca
walau imam sudah baca alfatihah, makmum juga harus baca alfatihah
ini pada mazhab syafii, semoga Allah merahmati mereka semua para ulama

untuk kehati-hatian maka imam tetap membaca alfatihah (jika memungkinkan)
jika tidak bisa maka in sya allah tidak apa-apa
sempurnakan pertanyaan (kepada si penanya)
(suara penanya kurang jelas)

syeikh menjawab: ya....., tidak

diterjemahkan oleh Atri Yuanda
selengkapnya »
Beranda