.widget img{ max-width:100%; height:auto;} -->
Ahlan wa Sahlan di blog pribadi ana atriyuanda.web.id | Meniti Manhaj Salaf
Dimana Istri Tinggal jika Ditalak Raj'i oleh Suaminya (talak 1 atau 2) ?

Dimana Istri Tinggal jika Ditalak Raj'i oleh Suaminya (talak 1 atau 2) ?

Dimana Istri Tinggal jika Ditalak Raj"i oleh Suaminya (1 atau 2) ?

Berkata syaikh al-alamah ibnu utsaimin rahimahullah : wanita yang ditalak raj'i (talak Raj"i yaitu talak yang masih bisa langsung ruju dengan ungkapan atau berhubungan badan, dan ini hanya talak 1 dan 2 saja) hendaklah menetap di rumah suaminya dan dilarang baginya keluar dari rumah suaminya, sebagaimana Allah ta'ala firmankan: 

لا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ
Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) mereka keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap diri sendiri. QS. At-Thalaq: 1

berbeda halnya di masyarakat saat ini, jika ada wanita yang ditalak suaminya talak raj'i lalu bergegas minggat ke rumah keluarganya. ini adalah kesalahan dan perbuatan yang dilarang. karena Allah taala berkata : jangan kalian keluarkan mereka (istri kalian dari rumah) dan jangan pula para istri keluar dari rumah suaminya.

tidak ada pengecualian dalam hal tersebut, kecuali sang istri telah jelas-jelas melakukan perbuatan keji (seperti selingkuh atau berzina dengan pria lain), lalu Allah ta'ala lanjut firmannya yang artinya : itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap diri sendiri.

kemudian Allah taala jelaskan hikmah dibalik wajibnya sang istri tetap tinggal di rumah suaminya pada lanjutan ayat diatas ;

لا تدري لعل الله يحدث بعد ذلك أمراً 
 kamu tidak mengetahui setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru. QS. Ath-Thalaq: 1

maka bisa jadi jika istri tetap di rumah suaminya merupakan sebab suami meruju istrinya dan perkara ini yang dimaksud dan disukai oleh syariat.

maka diharuskan kepada setiap umat islam memperhatikan batasan-batasan allah dan berpegang teguh mengerjakan apa yang Allah ta'ala perintahkan kepadanya dan jangan menjadikan Adat (kebiasaan masyarakat) sebagai jalan pilihan untuk menyelisihi perkara-perkara yang telah disyariatkan.

yang terpenting bahwasanya wajib bagi kita mengamati dengan cermat permasalahan ini dan bahwasanya talak raj'i diharuskan sang istri tetap tinggal di rumah suaminya hingga akhir masa iddah (jika habis masa iddah maka istri boleh keluar dari rumah suaminya).

selama masa iddah, istri yang tinggal di rumah suaminya boleh menampakkan auratnya kepada suaminya dan hendaklah dia berhias, mempercantik diri, memakai wewangian, berbicara dengan suaminya, suami berbicara kepada istrinya, duduk dengan suami dan melakukan apa saja kecuali bermesraan dengan berhubungan badan atau bercumbu, maka ini hanya boleh dilakukan jika suami telah ruju.

jika suami ingin berhubungan badan dengan istrinya maka hendaklah dia ruju terlebih dahulu dengan ungkapan, yaitu berkata "saya ruju istriku" atau ruju dengan perbuatan seperti berhubungan badan dengan istri disertai niat ruju.

rujukan fatwa syaikh utsaimin rahimahullah di kitab majmuatu asilatin tuhimmul usratul muslimatu hal. 61

Translate by Atri Yuanda bin Mahyudin Elbariamany 
_____________________
أين تسكن المرأة إذا طلَّقها زوجها طلاقاً رجعيا
 قال الشيخ العلَّامة ابن عثيمين رحمه الله: " يجب على المرأة المطلقة طلاقاً رجعياً
(أي بعد الطلقة الأولى والطلقة الثانية) أن تبقى في بيت زوجها، ويحرم على زوجها أن يخرجها منه، لقوله تعالى: ﴿لا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ﴾

وما عليه الناس الآن من كون المرأة إذا طُلِّقت طلاقاً رجعياً تنصرف إلى بيت أهلها فوراً، هذا خطأ ومحرم، لأن الله قال : ﴿لا تُخْرِجُوهُنَّ﴾ ﴿وَلا يَخْرُجْنَ﴾

ولم يستثن من ذلك إلا إذا أتين بفاحشة مبيّنة ، ثم قال بعد ذلك: ﴿وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ﴾ ثم بيّن الحكمة من وجوب بقائها في بيت زوجها بقوله: ﴿لا تدري لعل الله يحدث بعد ذلك أمراً ﴾.

فقد يكون بقاؤها في البيت سبباً لتراجع الزوج عن الطلاق فيراجعها، وهذا أمر مقصود ومحبوب للشرع.

فالواجب على المسلمين مراعاة حدود الله، والتمسك بما أمرهم الله به، وأن لا يتخذوا من العادات سبيلاً لمخالفة الأمور المشروعة.

المهم أنه يجب علينا أن نراعي هذه المسألة وأن المطلقة الرجعية يجب أن تبقى في بيت زوجها حتى تنتهي عدتها، وفي هذه الحال في بقائها في بيت زوجها لها أن تكشف له وأن تتزين وأن تتجمل وأن تتطيب وأن تكلمه ويكلمها وتجلس معه وتفعل كل شيء ما عدا الاستمتاع بالجماع أو المباشرة، فإن هذا يكون عند الرجعة، وله أن يراجعها بالقول فيقول: راجعت زوجتي، وله أن يراجعها بالفعل فيجامعها بنيَّة المراجعة "

مرجع فتوى الشيخ رحمه الله: [ كتاب مجموعة أسئلة تهم الأسرة المسلمة ص 61 ]
selengkapnya »
Sunnahkah Mengusap Wajah setelah Berdoa ?

Sunnahkah Mengusap Wajah setelah Berdoa ?

Sunnahkah Mengusap Wajah setelah Berdoa ?

Berkata al-imam Muhammad Nashir Al-Albani rahimahullah wa taala :

adapun mengusapkan kedua tangan ke wajah setelah berdoa ketika shalat, maka tidak didapatkan riwayat hadist yang shahih dan tidak pula dari sahabat nabi hingga para tabiut tabiin dan tidak pula dalam hal kias (1).

maka yang terbaik adalah tidak dikerjakan dan mencukupkan apa yang dilakukan para shalafus shaleh terdahulu radhiallahu anhum yaitu mengangkat kedua tangan untuk berdoa tanpa mengusap wajah setelah selesai berdoa.

1. maka itu adalah bidah
dan adapun diluar shalat maka itu juga tidak shahih riwayatnya, semua riwayat tentang mengusap kedua tangan ke wajah setelah shalat adalah lemah, bahkan sebagiannya sangat lemah terhadap sebagian lainnya sebagaimana telah saya tahqiq (Periksa, Teliti dan menentukan status hukum) yang terdapat dalam kitab dhoif abi daud (262) dan al-ahadits asshohihaty (597) dan sebagaimana dikatakan al-izzu bin abdussalam di sebagian fatwanya: "tidakla melakukannya kecuali orang-orang jahil. [ashlun sifatus sholaty (3/959)

translate by Atri Yuanda bin Mahyudin elbariamany
teks Asli Pembahasan dibawah

مسح الوجه عند الفراغ من الدعاء (؟!)

قال الإمام محمد ناصر الدين الألباني- رحمه الله تبارك و تعالى - :

• - أما مسح اليدين بالوجه عند الفراغ من الدعاء في الصلاة ؛ فلم يثبت بخبر صحيح ، ولا أثر ثابت ، ولا قياس (١) 
• - فالأولى أن لا يفعله ، ويقتصر على ما فعله السلف رضي الله عنهم ؛ من رفع اليدين دون مسحهما بالوجه في الصلاة .
------------------------------
(١) { فهو بدعة .
وأما خارج الصلاة ؛ فلم يصح ، وكل ما روي في ذلك ضعيف ، وبعضه أشد ضعفاً من بعض ؛ كما حققته في " ضعيف أبي داود " (٢٦٢) ، و " الأحاديث الصحيحة " (٥٩٧) ، ولذلك قال العز بن عبد السلام في بعض فتاويه : " لا يفعله إلا الجهال " } .【 أصل صفة الصلاة (٩٥٩/٣) 】
═════ ❁✿❁ ══════
selengkapnya »
Contoh adad wal ma'dud atau tamyizul adad dalam alquran | Tugas Santriwati Ponpes Miftahul Jannah Dumai

Contoh adad wal ma'dud atau tamyizul adad dalam alquran | Tugas Santriwati Ponpes Miftahul Jannah Dumai

Contoh adad wal ma'dud atau tamyizul adad dalam alquran

Bismillah, Sholatu wa salam ala rasulillah shallallahu alahi wa salam

pada artikel ini saya mengumpulkan beberapa ayat-ayat pilihan yang berkaitan tentang ilmu nahwu yaitu tentang contoh-contoh adad wal ma'dud atau tamyizul adad. 

العدد و المعدود
artinya hitungan bilangan dan sesuata yang dihitung

adad wal madud berbeda dalam susunan harakatnya adapun naat wal man'ut (النعت و المنعوت) sifat dan disifati, keduanya saling mengikuti satu dengan lainnya dalam hal keberadan alif lam maupun posisi harakat.

contoh dibawah ini merupakan hasil tugas yang saya bebankan kepada santriwati kelas 2a dan 2b ponpes miftahul jannah Purnama Dumai pada beberapa pekan lalu yang baru saya rampungkan penyusunan pada hari ini setelah recek kembali hasil kerja kelompok mereka lalu disalin ke dalam blog ini agar beri faedah kepada yang lain dan amal jariah.

untuk mempermudah pembaca, fokus bahasan saya buat cetak tebal pada teks ayat dan terjemahannya. adapun kaedah tentang adad wal ma'dud, in sya allah akan saya usahakan tulis pada artikel berikutnya.

Berikut contoh-contoh Adad wal ma'dud dalam al-qur'an

وَ ٱلَّذِی خَلَقَ لَكُم مَّا فِی ٱلۡأَرۡضِ جَمِیعا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰۤ إِلَى ٱلسَّمَاۤءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَـٰوَ ٰ⁠ت وَهُوَ بِكُلِّ شَیۡءٍ عَلِیم
Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Baqarah 29]

وَإِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ فَقُلۡنَا ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ فَٱنفَجَرَتۡ مِنۡهُ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَیۡناۖ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاس مَّشۡرَبَهُمۡۖ كُلُوا۟ وَٱشۡرَبُوا۟ مِن رِّزۡقِ ٱللَّهِ وَلَا تَعۡثَوۡا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِینَ
Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan. [Al-Baqarah 60]

وَلَتَجِدَنَّهُمۡ أَحۡرَصَ ٱلنَّاسِ عَلَىٰ حَیَوٰة وَمِنَ ٱلَّذِینَ أَشۡرَكُوا۟ۚ یَوَدُّ أَحَدُهُمۡ لَوۡ یُعَمَّرُ أَلۡفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحۡزِحِهِۦ مِنَ ٱلۡعَذَابِ أَن یُعَمَّرَۗ وَٱللَّهُ بَصِیرُۢ بِمَا یَعۡمَلُونَ
Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. [Al-Baqarah 96]

وَأَتِمُّوا۟ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ فَإِنۡ أُحۡصِرۡتُمۡ فَمَا ٱسۡتَیۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡیِۖ وَلَا تَحۡلِقُوا۟ رُءُوسَكُمۡ حَتَّىٰ یَبۡلُغَ ٱلۡهَدۡیُ مَحِلَّهُۥۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِیضًا أَوۡ بِهِۦۤ أَذى مِّن رَّأۡسِهِۦ فَفِدۡیَة مِّن صِیَامٍ أَوۡ صَدَقَةٍ أَوۡ نُسُك فَإِذَاۤ أَمِنتُمۡ فَمَن تَمَتَّعَ بِٱلۡعُمۡرَةِ إِلَى ٱلۡحَجِّ فَمَا ٱسۡتَیۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡیِۚ فَمَن لَّمۡ یَجِدۡ فَصِیَامُ ثَلَـٰثَةِ أَیَّام فِی ٱلۡحَجِّ وَسَبۡعَةٍ إِذَا رَجَعۡتُمۡۗ تِلۡكَ عَشَرَة كَامِلَة ذَ ٰ⁠لِكَ لِمَن لَّمۡ یَكُنۡ أَهۡلُهُۥ حَاضِرِی ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Tetapi jika kamu terkepung (oleh musuh), maka (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib ber-fidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka barangsiapa mengerjakan umrah sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak mendapatkannya, maka dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (musim) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh (hari). Demikian itu, bagi orang yang keluarganya tidak ada (tinggal) di sekitar Masjidilharam. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya. [Al-Baqarah 196]

لِّلَّذِینَ یُؤۡلُونَ مِن نِّسَاۤىِٕهِمۡ تَرَبُّصُ أَرۡبَعَةِ أَشۡهُر فَإِن فَاۤءُو فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُور رَّحِیم
Bagi orang yang meng-ila' istrinya harus menunggu empat bulan. Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Al-Baqarah 226]

وَٱلۡمُطَلَّقَـٰتُ یَتَرَبَّصۡنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَـٰثَةَ قُرُوۤء وَلَا یَحِلُّ لَهُنَّ أَن یَكۡتُمۡنَ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ فِیۤ أَرۡحَامِهِنَّ إِن كُنَّ یُؤۡمِنَّ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ إِنۡ أَرَادُوۤا۟ إِصۡلَـٰحاۚ وَلَهُنَّ مِثۡلُ ٱلَّذِی عَلَیۡهِنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَیۡهِنَّ دَرَجَة وَٱللَّهُ عَزِیزٌ حَكِیمٌ
Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali quru'(bulan/haid). Tidak boleh bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan para suami mereka lebih berhak kembali kepada mereka dalam (masa) itu, jika mereka menghendaki perbaikan. Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. [Al-Baqarah 228]

وَٱلَّذِینَ یُتَوَفَّوۡنَ مِنكُمۡ وَیَذَرُونَ أَزۡوَ ٰ⁠جا یَتَرَبَّصۡنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرۡبَعَةَ أَشۡهُر وَعَشۡراۖ فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡكُمۡ فِیمَا فَعَلۡنَ فِیۤ أَنفُسِهِنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِیر
Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah sampai (akhir) idah mereka, maka tidak ada dosa bagimu mengenai apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka menurut cara yang patut. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Baqarah 234]

أَوۡ كَٱلَّذِی مَرَّ عَلَىٰ قَرۡیَة وَهِیَ خَاوِیَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ یُحۡیِۦ هَـٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِا۟ئَةَ عَام ثُمَّ بَعَثَهُۥۖ قَالَ كَمۡ لَبِثۡتَۖ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ یَوۡم قَالَ بَل لَّبِثۡتَ مِا۟ئَةَ عَام فَٱنظُرۡ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ یَتَسَنَّهۡۖ وَٱنظُرۡ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجۡعَلَكَ ءَایَة لِّلنَّاسِۖ وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ كَیۡفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكۡسُوهَا لَحۡماۚ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعۡلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡء قَدِیر
Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” [Al-Baqarah 259]

مَّثَلُ ٱلَّذِینَ یُنفِقُونَ أَمۡوَ ٰ⁠لَهُمۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِی كُلِّ سُنۢبُلَة مِّا۟ئَةُ حَبَّة وَٱللَّهُ یُضَـٰعِفُ لِمَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمٌ
Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. [Al-Baqarah 261]

قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّیۤ ءَایَة قَالَ ءَایَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَـٰثَةَ أَیَّامٍ إِلَّا رَمۡزاۗ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِیرا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِیِّ وَٱلۡإِبۡكَـٰرِ
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” Allah berfirman, “Tanda bagimu, adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memuji-Nya) pada waktu petang dan pagi hari.” [Ali 'Imran 41]

إِذۡ تَقُولُ لِلۡمُؤۡمِنِینَ أَلَن یَكۡفِیَكُمۡ أَن یُمِدَّكُمۡ رَبُّكُم بِثَلَـٰثَةِ ءَالَـٰف مِّنَ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةِ مُنزَلِینَ
(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” [Ali 'Imran 124]

بَلَىٰۤۚ إِن تَصۡبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَیَأۡتُوكُم مِّن فَوۡرِهِمۡ هَـٰذَا یُمۡدِدۡكُمۡ رَبُّكُم بِخَمۡسَةِ ءَالَـٰف مِّنَ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِینَ
“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. [Ali 'Imran 125]

وَلَقَدۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِیثَـٰقَ بَنِیۤ إِسۡرَ ٰ⁠ۤءِیلَ وَبَعَثۡنَا مِنۡهُمُ ٱثۡنَیۡ عَشَرَ نَقِیباۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّی مَعَكُمۡۖ لَىِٕنۡ أَقَمۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَیۡتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِی وَعَزَّرۡتُمُوهُمۡ وَأَقۡرَضۡتُمُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمۡ سَیِّـَٔاتِكُمۡ وَلَأُدۡخِلَنَّكُمۡ جَنَّـٰت تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُۚ فَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَ ٰ⁠لِكَ مِنكُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَاۤءَ ٱلسَّبِیلِ
Dan sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Dan Allah berfirman, “Aku bersamamu.” Sungguh, jika kamu melaksanakan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu, dan pasti akan Aku masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tetapi barangsiapa kafir di antaramu setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” [Al-Ma'idah 12]

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَیۡهِمۡۛ أَرۡبَعِینَ سَنَة یَتِیهُونَ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ فَلَا تَأۡسَ عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَـٰسِقِینَ
(Allah) berfirman, “(Jika demikian), maka (negeri) itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah engkau (Musa) bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” [Al-Ma'idah 26]

لَا یُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِیۤ أَیۡمَـٰنِكُمۡ وَلَـٰكِن یُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَیۡمَـٰنَۖ فَكَفَّـٰرَتُهُۥۤ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَـٰكِینَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِیكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِیرُ رَقَبَة فَمَن لَّمۡ یَجِدۡ فَصِیَامُ ثَلَـٰثَةِ أَیَّام ذَ ٰ⁠لِكَ كَفَّـٰرَةُ أَیۡمَـٰنِكُمۡ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ وَٱحۡفَظُوۤا۟ أَیۡمَـٰنَكُمۡۚ كَذَ ٰ⁠لِكَ یُبَیِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَایَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barangsiapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya). [Al-Ma'idah 89]

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ شَهَـٰدَةُ بَیۡنِكُمۡ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ حِینَ ٱلۡوَصِیَّةِ ٱثۡنَانِ ذَوَا عَدۡل مِّنكُمۡ أَوۡ ءَاخَرَانِ مِنۡ غَیۡرِكُمۡ إِنۡ أَنتُمۡ ضَرَبۡتُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ فَأَصَـٰبَتۡكُم مُّصِیبَةُ ٱلۡمَوۡتِۚ تَحۡبِسُونَهُمَا مِنۢ بَعۡدِ ٱلصَّلَوٰةِ فَیُقۡسِمَانِ بِٱللَّهِ إِنِ ٱرۡتَبۡتُمۡ لَا نَشۡتَرِی بِهِۦ ثَمَنا وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰ وَلَا نَكۡتُمُ شَهَـٰدَةَ ٱللَّهِ إِنَّاۤ إِذا لَّمِنَ ٱلۡـَٔاثِمِینَ
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila salah seorang (di antara) kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan (agama) dengan kamu. Jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, hendaklah kamu tahan kedua saksi itu setelah shalat, agar keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu, “Demi Allah kami tidak akan mengambil keuntungan dengan sumpah ini, walaupun dia karib kerabat, dan kami tidak menyembunyikan kesaksian Allah; sesungguhnya jika demikian tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa.” [Al-Ma'idah 106]

وَهُوَ ٱلَّذِیۤ أَنشَأَكُم مِّن نَّفۡس وَ ٰ⁠حِدَة فَمُسۡتَقَرّ وَمُسۡتَوۡدَع قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡـَٔایَـٰتِ لِقَوۡم یَفۡقَهُونَ
Dan Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kebesaran Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. [Al-An'am 98]

ثَمَـٰنِیَةَ أَزۡوَ ٰ⁠ج مِّنَ ٱلضَّأۡنِ ٱثۡنَیۡنِ وَمِنَ ٱلۡمَعۡزِ ٱثۡنَیۡنِۗ قُلۡ ءَاۤلذَّكَرَیۡنِ حَرَّمَ أَمِ ٱلۡأُنثَیَیۡنِ أَمَّا ٱشۡتَمَلَتۡ عَلَیۡهِ أَرۡحَامُ ٱلۡأُنثَیَیۡنِۖ نَبِّـُٔونِی بِعِلۡمٍ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِینَ
ada delapan hewan ternak yang berpasangan (empat pasang); sepasang domba dan sepasang kambing. Katakanlah, “Apakah yang diharamkan Allah dua yang jantan atau dua yang betina atau yang ada dalam kandungan kedua betinanya? Terangkanlah kepadaku berdasar pengetahuan jika kamu orang yang benar.” [Al-An'am 143]

مَن جَاۤءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَاۤءَ بِٱلسَّیِّئَةِ فَلَا یُجۡزَىٰۤ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا یُظۡلَمُونَ
Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizhalimi). [Al-An'am 160]

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ فِی سِتَّةِ أَیَّام ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ یُغۡشِی ٱلَّیۡلَ ٱلنَّهَارَ یَطۡلُبُهُۥ حَثِیثا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَ ٰ⁠تِۭ بِأَمۡرِهِۦۤۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. [Al-A'raf 54]

وَوَ ٰ⁠عَدۡنَا مُوسَىٰ ثَلَـٰثِینَ لَیۡلَة وَأَتۡمَمۡنَـٰهَا بِعَشۡر فَتَمَّ مِیقَـٰتُ رَبِّهِۦۤ أَرۡبَعِینَ لَیۡلَة وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِیهِ هَـٰرُونَ ٱخۡلُفۡنِی فِی قَوۡمِی وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِیلَ ٱلۡمُفۡسِدِینَ
Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya (yaitu) Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al-A'raf 142]

وَٱخۡتَارَ مُوسَىٰ قَوۡمَهُۥ سَبۡعِینَ رَجُلا لِّمِیقَـٰتِنَاۖ فَلَمَّاۤ أَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ قَالَ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ أَهۡلَكۡتَهُم مِّن قَبۡلُ وَإِیَّـٰیَۖ أَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَاۤءُ مِنَّاۤۖ إِنۡ هِیَ إِلَّا فِتۡنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَاۤءُ وَتَهۡدِی مَن تَشَاۤءُۖ أَنتَ وَلِیُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَیۡرُ ٱلۡغَـٰفِرِینَ
Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka ditimpa gempa bumi, Musa berkata, “Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang berakal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari-Mu, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah pemberi ampun yang terbaik.” [Al-A'raf 155]

وَقَطَّعۡنَـٰهُمُ ٱثۡنَتَیۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَماۚ وَأَوۡحَیۡنَاۤ إِلَىٰ مُوسَىٰۤ إِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰهُ قَوۡمُهُۥۤ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ فَٱنۢبَجَسَتۡ مِنۡهُ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَیۡناۖ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاس مَّشۡرَبَهُمۡۚ وَظَلَّلۡنَا عَلَیۡهِمُ ٱلۡغَمَـٰمَ وَأَنزَلۡنَا عَلَیۡهِمُ ٱلۡمَنَّ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ كُلُوا۟ مِن طَیِّبَـٰتِ مَا رَزَقۡنَـٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَـٰكِن كَانُوۤا۟ أَنفُسَهُمۡ یَظۡلِمُونَ
Dan Kami membagi mereka menjadi dua belas suku yang masing-masing berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah dari (batu) itu dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. Dan Kami naungi mereka dengan awan dan Kami turunkan kepada mereka mann dan salwa. (Kami berfirman), “Makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu.” Mereka tidak menzhalimi Kami, tetapi merekalah yang selalu menzhalimi dirinya sendiri. [Surat Al-A'raf 160]

هُوَ ٱلَّذِی خَلَقَكُم مِّن نَّفۡس وَ ٰ⁠حِدَة وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا لِیَسۡكُنَ إِلَیۡهَاۖ فَلَمَّا تَغَشَّىٰهَا حَمَلَتۡ حَمۡلًا خَفِیفا فَمَرَّتۡ بِهِۦۖ فَلَمَّاۤ أَثۡقَلَت دَّعَوَا ٱللَّهَ رَبَّهُمَا لَىِٕنۡ ءَاتَیۡتَنَا صَـٰلِحا لَّنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّـٰكِرِینَ
Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan Mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami anak yang shalih, tentulah kami akan selalu bersyukur.” [Al-A'raf 189]

فَسِیحُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ أَرۡبَعَةَ أَشۡهُر وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّكُمۡ غَیۡرُ مُعۡجِزِی ٱللَّهِ وَأَنَّ ٱللَّهَ مُخۡزِی ٱلۡكَـٰفِرِینَ
Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa kamu tidak dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir. [Surat At-Taubah 2]

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّہُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَہۡرً۬ا فِى ڪِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡہَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ۬‌ۚ ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ‌ۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيہِنَّ أَنفُسَڪُمۡ‌ۚ وَقَـٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ كَآفَّةً۬ ڪَمَا يُقَـٰتِلُونَكُمۡ ڪَآفَّةً۬‌ۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ (٣٦)
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah [ketetapan] agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. [At-taubah: 36]

ٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِن تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةً۬ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡ‌ۚ ذَٲلِكَ بِأَنَّہُمۡ ڪَفَرُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِينَ (٨٠)
Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka [adalah sama saja]. Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. [At-taubah: 80]

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۖ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ‌ۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ إِذۡنِهِۦ‌ۚ ذَٲلِڪُمُ ٱللَّهُ رَبُّڪُمۡ فَٱعۡبُدُوهُ‌ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. [Dzat] yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? [Yunus: 3]

وَمَا كَانَ ٱلنَّاسُ إِلَّآ أُمَّةً۬ وَٲحِدَةً۬ فَٱخۡتَلَفُواْ‌ۚ وَلَوۡلَا ڪَلِمَةٌ۬ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ لَقُضِىَ بَيۡنَهُمۡ فِيمَا فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ
Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. [Yunus: 19]

وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ وَڪَانَ عَرۡشُهُ ۥ عَلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُوَڪُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬‌ۗ وَلَٮِٕن قُلۡتَ إِنَّكُم مَّبۡعُوثُونَ مِنۢ بَعۡدِ ٱلۡمَوۡتِ لَيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ ڪَفَرُوٓاْ إِنۡ هَـٰذَآ إِلَّا سِحۡرٌ۬ مُّبِينٌ۬
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah ’Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya [3], dan jika kamu berkata [kepada penduduk Mekah]: "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati", niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini [4] tidak lain hanyalah sihir yang nyata". [Hud: 7]

أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَٮٰهُ‌ۖ قُلۡ فَأۡتُواْ بِعَشۡرِ سُوَرٍ۬ مِّثۡلِهِۦ مُفۡتَرَيَـٰتٍ۬ وَٱدۡعُواْ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ
Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur’an itu", Katakanlah: "[Kalau demikian], maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup [memanggilnya] selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". [Hud:13]

إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَـٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبً۬ا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَيۡتُہُمۡ لِى سَـٰجِدِينَ
[Ingatlah], ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." [Yusuf: 4]

وَقَالَ ٱلۡمَلِكُ إِنِّىٓ أَرَىٰ سَبۡعَ بَقَرَٲتٍ۬ سِمَانٍ۬ يَأۡڪُلُهُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ۬ وَسَبۡعَ سُنۢبُلَـٰتٍ خُضۡرٍ۬ وَأُخَرَ يَابِسَـٰتٍ۬‌ۖ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلۡمَلَأُ أَفۡتُونِى فِى رُءۡيَـٰىَ إِن كُنتُمۡ لِلرُّءۡيَا تَعۡبُرُونَ
Raja berkata [kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya]: "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir [gandum] yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi." [Yusuf: 43]

يُوسُفُ أَيُّہَا ٱلصِّدِّيقُ أَفۡتِنَا فِى سَبۡعِ بَقَرَٲتٍ۬ سِمَانٍ۬ يَأۡڪُلُهُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ۬ وَسَبۡعِ سُنۢبُلَـٰتٍ خُضۡرٍ۬ وَأُخَرَ يَابِسَـٰتٍ۬ لَّعَلِّىٓ أَرۡجِعُ إِلَى ٱلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَعۡلَمُونَ
[Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru]: "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir [gandum] yang hijau dan [tujuh] lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya." [Yusuf: 46]

قَالَ تَزۡرَعُونَ سَبۡعَ سِنِينَ دَأَبً۬ا فَمَا حَصَدتُّمۡ فَذَرُوهُ فِى سُنۢبُلِهِۦۤ إِلَّا قَلِيلاً۬ مِّمَّا تَأۡكُلُونَ
Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun [lamanya] sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. [Yusuf: 47]

ثُمَّ يَأۡتِى مِنۢ بَعۡدِ ذَٲلِكَ سَبۡعٌ۬ شِدَادٌ۬ يَأۡكُلۡنَ مَا قَدَّمۡتُمۡ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلاً۬ مِّمَّا تُحۡصِنُونَ
Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya [tahun sulit], kecuali sedikit dari [bibit gandum] yang kamu simpan.  [Yusuf: 48]

هَـٰذَا بَلَـٰغٌ۬ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَـٰهٌ۬ وَٲحِدٌ۬ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ
[Al Qur’an] ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. [Ibrahim: 52]

لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٲبٍ۬ لِّكُلِّ بَابٍ۬ مِّنۡہُمۡ جُزۡءٌ۬ مَّقۡسُومٌ
Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu [telah ditetapkan] untuk golongan yang tertentu dari mereka. [Al-Hijr: 44]

وَقَالَ ٱللَّهُ لَا تَتَّخِذُوٓاْ إِلَـٰهَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِ‌ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَـٰهٌ۬ وَٲحِدٌ۬‌ۖ فَإِيَّـٰىَ فَٱرۡهَبُونِ
Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut". [An-Nahl: 51]

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَڪُمۡ أُمَّةً۬ وَٲحِدَةً۬ وَلَـٰكِن يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِى مَن يَشَآءُ‌ۚ وَلَتُسۡـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat [saja], tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. [An-Nahl: 93]

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ تِسۡعَ ءَايَـٰتِۭ بَيِّنَـٰتٍ۬‌ۖ فَسۡـَٔلۡ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ إِذۡ جَآءَهُمۡ فَقَالَ لَهُ ۥ فِرۡعَوۡنُ إِنِّى لَأَظُنُّكَ يَـٰمُوسَىٰ مَسۡحُورً۬ا
Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mu’jizat yang nyata [2] maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir". [Al-Isra: 101]

وَلَبِثُواْ فِى كَهۡفِهِمۡ ثَلَـٰثَ مِاْئَةٍ۬ سِنِينَ وَٱزۡدَادُواْ تِسۡعً۬ا
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun [lagi]. [Al-Kahfi: 25]

قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّىٓ ءَايَةً۬‌ۚ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَـٰثَ لَيَالٍ۬ سَوِيًّ۬ا
Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat". [Maryam: 10]

وَيَسۡتَعۡجِلُونَكَ بِٱلۡعَذَابِ وَلَن يُخۡلِفَ ٱللَّهُ وَعۡدَهُ ۥ‌ۚ وَإِنَّ يَوۡمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلۡفِ سَنَةٍ۬ مِّمَّا تَعُدُّونَ
Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. [Al-Hajj: 47]

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعَ طَرَآٮِٕقَ وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَـٰفِلِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan [tujuh buah langit] dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan [Kami]. [Al-Mu'minun: 17]

وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَـٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُواْ بِأَرۡبَعَةِ شُہَدَآءَ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَـٰنِينَ جَلۡدَةً۬ وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَہَـٰدَةً أَبَدً۬ا‌ۚ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik [berbuat zina] dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka [yang menuduh itu] delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. [An-Nur: 4]

وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٲجَهُمۡ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ شُہَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ فَشَهَـٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَہَـٰدَٲتِۭ بِٱللَّهِ‌ۙ إِنَّهُ ۥ لَمِنَ ٱلصَّـٰدِقِينَ
Dan orang-orang yang menuduh isterinya [berzina], padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. [An-Nur: 6]

وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡہَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡہَدَ أَرۡبَعَ شَہَـٰدَٲتِۭ بِٱللَّهِ‌ۙ إِنَّهُ ۥ لَمِنَ ٱلۡكَـٰذِبِينَ
Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta.  [An-Nur: 8]

لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُہَدَآءَ‌ۚ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّہَدَآءِ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَـٰذِبُونَ
Mengapa mereka [yang menuduh itu] tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. [An-Nur: 13]

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِيَسۡتَـٔۡذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُكُمۡ وَٱلَّذِينَ لَمۡ يَبۡلُغُواْ ٱلۡحُلُمَ مِنكُمۡ ثَلَـٰثَ مَرَّٲتٍ۬‌ۚ مِّن قَبۡلِ صَلَوٰةِ ٱلۡفَجۡرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعۡدِ صَلَوٰةِ ٱلۡعِشَآءِ‌ۚ ثَلَـٰثُ عَوۡرَٲتٍ۬ لَّكُمۡ‌ۚ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ وَلَا عَلَيۡهِمۡ جُنَاحُۢ بَعۡدَهُنَّ‌ۚ طَوَّٲفُونَ عَلَيۡكُم بَعۡضُڪُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬‌ۚ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأَيَـٰتِ‌ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ۬
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak [lelaki dan wanita] yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali [dalam satu hari] yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian [luar]mu di tengah hari dan sesudah sholat Isya. [Itulah] tiga ’aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak [pula] atas mereka selain dari [tiga waktu] itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu [ada keperluan] kepada sebahagian [yang lain]. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [An-Nur: 58]

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ ٱلرَّحۡمَـٰنُ فَسۡـَٔلۡ بِهِۦ خَبِيرً۬ا
Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy, [Dialah] Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah [tentang Allah] kepada yang lebih mengetahui [Muhammad]. [Al-Furqon: 59]

وَأَدۡخِلۡ يَدَكَ فِى جَيۡبِكَ تَخۡرُجۡ بَيۡضَآءَ مِنۡ غَيۡرِ سُوٓءٍ۬‌ۖ فِى تِسۡعِ ءَايَـٰتٍ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَقَوۡمِهِۦۤ‌ۚ إِنَّہُمۡ كَانُواْ قَوۡمً۬ا فَـٰسِقِينَ
Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan keluar putih [bersinar] bukan karena penyakit. [Kedua mu’jizat ini] termasuk sembilan buah mu’jizat [yang akan dikemukakan] kepada Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik". Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan keluar putih [bersinar] bukan karena penyakit. [Kedua mu’jizat ini] termasuk sembilan buah mu’jizat [yang akan dikemukakan] kepada Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik". [An-Naml: 12]

وَكَانَ فِى ٱلۡمَدِينَةِ تِسۡعَةُ رَهۡطٍ۬ يُفۡسِدُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا يُصۡلِحُونَ
Dan adalah di kota itu, sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. [An-Naml: 48]

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامً۬ا فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ وَهُمۡ ظَـٰلِمُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. [Al-Ankabut: 14]

وَلَوۡ أَنَّمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَـٰمٌ۬ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُ ۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٍ۬ مَّا نَفِدَتۡ كَلِمَـٰتُ ٱللَّهِ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ۬
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut [menjadi tinta], ditambahkan kepadanya tujuh laut [lagi] sesudah [kering]nya, niscaya tidak akan habis-habisnya [dituliskan] kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [Lukman: 27]

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِىٍّ۬ وَلَا شَفِيعٍ‌ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak [pula] seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? [As-sajdah: 4]

يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ فِى يَوۡمٍ۬ كَانَ مِقۡدَارُهُ ۥۤ أَلۡفَ سَنَةٍ۬ مِّمَّا تَعُدُّونَ
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian [urusan] itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya [lamanya] adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. [As-sajdah: 5]

خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٍ۬ وَٲحِدَةٍ۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۡہَا زَوۡجَهَا وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ ثَمَـٰنِيَةَ أَزۡوَٲجٍ۬‌ۚ يَخۡلُقُكُمۡ فِى بُطُونِ أُمَّهَـٰتِڪُمۡ خَلۡقً۬ا مِّنۢ بَعۡدِ خَلۡقٍ۬ فِى ظُلُمَـٰتٍ۬ ثَلَـٰثٍ۬‌ۚ ذَٲلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ‌ۖ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ
Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan . Yang [berbuat] demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? [Az-Zumar: 6]

وَجَعَلَ فِيہَا رَوَٲسِىَ مِن فَوۡقِهَا وَبَـٰرَكَ فِيہَا وَقَدَّرَ فِيہَآ أَقۡوَٲتَہَا فِىٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٍ۬ سَوَآءً۬ لِّلسَّآٮِٕلِينَ
Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan [penghuni]nya dalam empat hari. [Penjelasan itu sebagai jawaban] bagi orang-orang yang bertanya. [Fussilat: 10]

فَقَضَٮٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَـٰوَاتٍ۬ فِى يَوۡمَيۡنِ وَأَوۡحَىٰ فِى كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَا‌ۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَـٰبِيحَ وَحِفۡظً۬ا‌ۚ ذَٲلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ
Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. [Fussilat: 12]

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ إِحۡسَـٰنًا‌ۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ كُرۡهً۬ا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهً۬ا‌ۖ وَحَمۡلُهُ ۥ وَفِصَـٰلُهُ ۥ ثَلَـٰثُونَ شَہۡرًا‌ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ ۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةً۬ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِىٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٲلِدَىَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحً۬ا تَرۡضَٮٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ‌ۖ إِنِّى تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah [pula]. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan [memberi kebaikan] kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". [Al-Ahqaf: 15]

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ۬
Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam hari, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. [Qof: 38]

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡہَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعۡرُجُ فِيہَا‌ۖ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ۬
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; Kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadid: 4]

فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ شَہۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ مِن قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّا‌ۖ فَمَن لَّمۡ يَسۡتَطِعۡ فَإِطۡعَامُ سِتِّينَ مِسۡكِينً۬ا‌ۚ ذَٲلِكَ لِتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ‌ۚ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ‌ۗ وَلِلۡكَـٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Barangsiapa yang tidak mendapatkan [budak], maka [wajib atasnya] berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa [wajiblah atasnya] memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. [Mujadillah: 4]

وَٱلَّـٰٓـِٔى يَٮِٕسۡنَ مِنَ ٱلۡمَحِيضِ مِن نِّسَآٮِٕكُمۡ إِنِ ٱرۡتَبۡتُمۡ فَعِدَّتُہُنَّ ثَلَـٰثَةُ أَشۡهُرٍ۬ وَٱلَّـٰٓـِٔى لَمۡ يَحِضۡنَ‌ۚ وَأُوْلَـٰتُ ٱلۡأَحۡمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّ‌ۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُ ۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرً۬ا
Dan perempuan-perempuan yang tidak haidh lagi [monopause] di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu [tentang masa idahnya] maka idah mereka adalah tiga bulan; dan begitu [pula] perempuan-perempuan yang tidak haidh. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. [Ath-Thalaq: 4]

ٱلَّذِى خَلَقَ سَبۡعَ سَمَـٰوَٲتٍ۬ طِبَاقً۬ا‌ۖ مَّا تَرَىٰ فِى خَلۡقِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ مِن تَفَـٰوُتٍ۬‌ۖ فَٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ هَلۡ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ۬
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? [Al-Mulk: 3]

سَخَّرَهَا عَلَيۡہِمۡ سَبۡعَ لَيَالٍ۬ وَثَمَـٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومً۬ا فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيہَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّہُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٍ۬
yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ’Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong [lapuk]. [Al-Haqqah: 7]


تَعۡرُجُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيۡهِ فِى يَوۡمٍ۬ كَانَ مِقۡدَارُهُ ۥ خَمۡسِينَ أَلۡفَ سَنَةٍ۬
Malaikat-malaikat dan Jibril naik [menghadap] kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. [Al-Ma'arij: 4]

لَوَّاحَةٌ۬ لِّلۡبَشَرِ0عَلَيۡہَا تِسۡعَةَ عَشَرَ
[Neraka Saqar] adalah pembakar kulit manusia  () Di atasnya ada sembilan belas [malaikat penjaga]. [Al-Mudatsir: 29-30)

ٱنطَلِقُوٓاْ إِلَىٰ مَا كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ (٢٩) ٱنطَلِقُوٓاْ إِلَىٰ ظِلٍّ۬ ذِى ثَلَـٰثِ شُعَبٍ۬ (٣٠)
[Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat]: "Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang. [Al-Mursalat: 29-30

وَبَنَيۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعً۬ا شِدَادً۬ا
dan Kami bangun di atas kamu tujuh buah [langit] yang kokoh. [An-Naba: 12]

لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٌ۬ مِّنۡ أَلۡفِ شَہۡرٍ۬
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [ Al-Qadr: 3]

Demikian, semoga bermanfaat

Disusun oleh Atri Yuanda bin Mahyudin
Jazahunnallah khairan kepada santriwati kelas 2a dan 2b ponpes Miftahul Jannah Purnama Dumai kota
selengkapnya »
Pembagian Jenis Air Berdasarkan Kesuciannya

Pembagian Jenis Air Berdasarkan Kesuciannya

Pembagian Jenis Air Berdasarkan Kesuciannya

Bismillah, tsana wa salam ala rasululil karim, nabiyuna muhammad shallallahu alahi wa salam.

artikel singkat ini, saya membahas tentang pembagian air berdasarkan kesuciannya. pembagian air dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat dalam pembagiannya dan perinciannya, diantaranya ada yang membaginya menjadi 2 saja yaitu suci dan najis. 

agar tidak terlalu panjang Pada artikel ini, saya hanya memilih 3 pembagian saja yaitu

1. suci mensucikan : air suci yang bisa digunakan untuk dikonsumsi dan mensucikan diri seperti diminum, memasak, mandi membersihkan badan, mandi wajib dan berwudhu

contoh air yang bisa dipakai untuk bersuci adalah : air gunung, mata air, air sungai, sumur galian, sumur bor, air danau, air laut, air hujan, salju, dll

ini merupakan hukum asal air, diantara dalilnya

وَهُوَ ٱلَّذِیۤ أَرۡسَلَ ٱلرِّیَـٰحَ بُشۡرَۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِهِۦۚ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ طَهُورࣰا
Dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih [Surat Al-Furqan 48]

الماء طهور لا ينجس شيئ. حديث صحيح، صححه الإمام أحمد
air adalah suci, tidak menajiskannya sesuatupun

أن النبي صلى الله عليه و سلم قال في البحر : هو الطهور ماؤه الحل ميتته. رواه أبو داود و غيره و صححه الألباني
Nabi berkata tentang air laut : dia suci airnya dan bangkainya halal.

2. suci namun tidak mensucikan : airnya suci namun tidak bisa digunakan untuk bersuci karena adanya campuran untuk dikonsumsi atau sebab lain yang terjadi secara alami atau sengaja dicampur (ada yang bisa dikonsumsi ada yang tidak)

contohnya : air kopi, air teh, minuman kaleng berperisa, air mawar, air kelapa, air semangka, dll

3. najis : air yang tidak layak untuk di konsumsi oleh tubuh dan bersuci dikarenakan bercampur dengan cairan najis seperti air kencing atau benda najis seperti bangkai.

contoh lain : air comberan, air parit, air tergenang dekat sampah dll

ada pendapat ulama perihal volume air dibawah 2 kullah yaitu (ada khilaf dalam menkonversikan yaitu diatas 193 liter dan pendapat lain 210 liter). 

jika air dibawah 2 kullah lalu tercampur oleh najis maka air tersebut telah menjadi najis dan tak layak pakai. namun dalam perkara ini ada khilaf dan saya pribadi lebih mengikuti kaedah ulama yang mengatakan bahwa jika air kurang atau lebih dari 2 kullah apabila terkena benda cair atau padat mengandung najis maka masih bisa digunakan untuk bersuci selama tidak ada salah satu dari 3 ciri air najis.

ciri-ciri air najis adalah terjadinya perubahan warna, rasa maupun bau ketika bertemu cairan atau benda najis.

jika air dibawah 2 kullah, tercampur cairan najis lalu diperiksa untuk memastikan salah satu dari 3 perubahan, jika ada salah satunya maka sebaiknya tidak digunakan untuk konsumsi atau bersuci. namun jika jumlahnya sangat sedikit dan meragukan untuk digunakan maka sebaiknya dihindari penggunaannya.

jika air lebih dari 2 kullah seperti air danau maka hukum asalnya adalah suci, namun jika ada salah satu sudut yang sering digunakan untuk buang hajat seperti buang air kecil atau besar maka lokasi tersebut dihindari untuk bersuci, disarankan bersuci atau untuk dikonsumsi dicari sudut lain untuk kehati-hatian. allahu alam

ditulis oleh atri yuanda bin mahyudin elbariamany

referensi bacaan
buku kecil "Hukum-Hukum Penting Bagi setiap Muslim"
Kitab tasniful asma' syarh mukhtashor abi syuja
islamweb.net

selengkapnya »
Banyak makan, berbicara dan melihat yang haram, Apakah Berpengaruh terhadap hati ?

Banyak makan, berbicara dan melihat yang haram, Apakah Berpengaruh terhadap hati ?

Banyak makan, berbicara dan melihat yang haram, Apakah Berpengaruh terhadap hati ?

Pertanyaan : apakah memperbanyak makan, banyak ngobrol, dan melihat kepada selain mahramnya ( wanita yang boleh dinikahi). Apakah memberi pengaruh terhadap hati atau tidak perbuatan tersebut, dapatkah merusak hati dan menjadikan seseorang sulit memahami pelajaran ?

Jawaban Syeikh Muqhbil al-wadhi rahimahullah :

memperbanyak makan yang berlebihan sehingga nafas menjadi sesak, maka ini berdampak kepada penyempitan pembuluh darah dan berbahaya, hendaklah menyisakan ruang pada perut untuk bisa bernafas dengan normal.

abu hurairah radhiallahu anhu pernah diberikan kepadanya oleh rasulullah shallallahu alahi wa salam susu lalu meminumnya, maka nabi memberikan lagi lalu lalu diminum lagi lalu diberikan lagi untuk ketiga kali. setelah itu nabi berkata : Aku tidak dapati lagi dari perut tersebut jalan masuk (makanan/minuman).

maka hendaklah sedikit makan (makan sesuai kebutuhan badan) dan sedikit bicara (bicaralah seperlunya saja).

dan adapun malapetaka terbesar adalah melihat kepada selain mahram (tanpa ada hajat yang dibutuhkan), maka sesungguhnya perbuatan tersebut menyibukkan hati.

قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya. QS. An-NUR: 30

baca juga 

Allah ta'ala juga berfirman

وإذا سألتموهن متعا فأسألوهن من وراء حجاب ذلكم أطهر لقلوبكم وقلوبهن
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. QS. Al-Ahzab: 53

tabir juga bisa dimaksudkan dengan cadar. sebaiknya seorang muslimah jika berhadapan dengan pria bukan mahram ketika diluar rumah memakai cadarnya. tujuannya sebagaimana Allah ta'ala katakan yaitu agar itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka (lawan jenis).

ini menunjukkan bahwa banyak memandang bukan mahram dapat merusak kesucian hati.

Rasulullah shallallahu alahi wa salam bersabda

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا 
Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu Maryam] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] berkata, telah mengabarkan kepadaku [Zaid] -yaitu Ibnu Aslam- dari ['Iyadl bin 'Abdullah] dari [Abu Sa'id Al Khudri] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada hari raya 'Iedul Adlha atau Fitri keluar menuju tempat shalat, beliau melewati para wanita seraya bersabda: "Wahai para wanita! Hendaklah kalian bersedekahlah, sebab diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah yang paling banyak menghuni neraka." Kami bertanya, "Apa sebabnya wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "Kalian banyak melaknat dan banyak mengingkari pemberian suami. Dan aku tidak pernah melihat dari tulang laki-laki yang akalnya lebih cepat hilang dan lemah agamanya selain kalian." Kami bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, apa tanda dari kurangnya akal dan lemahnya agama?" Beliau menjawab: "Bukankah persaksian seorang wanita setengah dari persaksian laki-laki?" Kami jawab, "Benar." Beliau berkata lagi: "Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah seorang wanita bila dia sedang haid dia tidak shalat dan puasa?" Kami jawab, "Benar." Beliau berkata: "Itulah kekurangan agamanya." HR. Muslim

Nabi shallallahu alahi wa salam juga bersabda

ما تركت فتن بعدي أضر على الرجال من النساء
tidaklah aku tinggalkan ujian-ujian setelahku yang lebih membahayakan terhadap para pria adalah (diuji) wanita. HR. Shahih At-Tirmidzi

maka sedikitlah dari mengkonsumsi makanan ( makan/minum secukupnya, sesuai kebutuhan tubuh tanpa berlebihan sehingga sesak napas) dan begitu juga jangan terlalu banyak berbicara. jika seseorang berbicara sampai kepalanya congkak keatas (muncul rasa sombong) ini dapat melemahkan hafalannya, hal ini berdasarkan pengalaman.

maka seperti perumpamaan seorang pemberi khutbah/ceramah atau seorang guru, terlalu banyak berbicara sehingga kepalanya mencongkak keatas akibat banyak berbicara sehingga melemahkan hafalannya.

Anda harus Tinggalkanlah obrolan jika pembicaraan omong kosong, ocehan, sia-sia, menggibah orang, adu domba, bongkar rahasia orang, fitnah, gosip dll.

nasehat ini untuk semuanya, terutama para penuntut ilmu hendaklah selalu waspada menjaga hatinya dan memberi perhatian besar dalam menjaga kesucian hatinya.

Terjemahan bebas tanpa melenceng dari maksud dari teks aslinya.
Ditulis oleh Atri yuanda bin mahyudin elbariamany

Teks bahasa arab
• السؤال:
هل الإكثار من الطعام والإكثار من الكلام والنظر إلى غير المحارم له تأثيرا ًعلى القلب أم لا وهل لهذه الأشياء علامة تمسخ القلب وتجعل الإنسان لا يفهم الدروس ؟

جواب الشيخ مقبل الوادعي رحمه الله :

• الإكثار من الطعام المتجاوز حتى يضيق عليه النفس فهذا الذي ربما يحدث ضغطاً للدم ويضر ، أما أن يبقى مجال للنفس فأبو هريرة رضي الله عنه أعطاه النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - يشرب لبناً فشرب ثم أعطاه فشرب ثم أعطاه فشرب ثم قال : لا أجد له مسلكاً .
فالإقلال من الطعام والكلام أيضاً .

⏪ وأما الداهية الكبرى فهي النظر إلى غير المحارم فإنها تشغل القلب : " قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم " ، ويقول سبحانه وتعالى : " وإذا سألتموهن فأسألوهن من وراء حجاب ذلكم أطهر لقلوبكم وقلوبهن " شاهدنا قوله : " ذلكم أطهر لقلوبكم وقلوبهن " فهذا يدل على أن النظر يفسد القلب .

- وفي الصحيحين أن النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - يقول : " ما رأيت من ناقصات عقل ودين أذهب للب الرجل الحازم من إحداكن " ، وثبت عن النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - أنه قال : " ما تركت فتن بعدي أضر على الرجال من النساء " .

• فالإقلال من الطعام ، وكذلك أيضاً من الكلام ، فإذا تكلم الشخص حتى ينتفخ رأسه يضعف حفظه فهذا أمر مجرب ، فربما يكون الشخص واعظاً ، وربما يكون مدرساً فيتكلم حتى ينتفخ رأسه من كثرة الكلام فيضعف حفظه ، دع عنك ما إذا كان الكلام لغواً ، أو كان الكلام غيبة ونميمة ، وعلى كل فطالب العلم ينبغي أن يحرس قلبه وأن يهتم بحراسة قلبه .

📚 كتاب قمع المعاند : ( 2 / 438 - 439 ) .
selengkapnya »
Metode belajar agar lebih Efisien di Rumah Qur'an Binaan Atri Yuanda

Metode belajar agar lebih Efisien di Rumah Qur'an Binaan Atri Yuanda


باسم الله، الحمد الله الصلاة و السلام على رسول الله

Pada artikel singkat ini, saya berbagi pengalaman dalam mengurus rumah quran yang saya asuh dan dibantu juga oleh Ummu Nauroh istri saya. saat ini Rumah Quran yang saya asuh berada dibawah naungan Yayasan Miftahul Jannah, tempat saya mengajar di pagi hari.

Bapak/ibu, saudara/i yang saya cintai karna Allah ta'ala, kita tentu sudah paham bahwa anak-anak yang masih Tingkat SD (sekolah dasar) terutama dari TK hingga tingkat kelas 4 sd, kecendrungan bermainnya lebih besar ketimbang belajar. apalagi jika bertemu teman sebayanya maka maunya bermain. 

Nah, Permasalah Muncul ketika waktu dan guru pengajar terbatas, sedangkan anak didik mulai banyak dan bisa bertambah kapan saja karna tidak ada batas waktu menerima layaknya sekolah dengan sistem kurikulum. dengan keterbatasan tersebut maka membuat metode yang menurut saya cukup efisien.

Disini saya menjelaskan sedikit gambaran pembelajaran di rumah quran yang saya bimbing

Jadwal Mengajar

- 5 hari dalam sepekan (dari hari senin hingga jumat)

- hari jumat khusus belajar bareng semua santri tentang aqidah, fiqh, adab, doa pendek dll yang terkadang dituntut menghafal ( durasinya 1 jam hingga 1,5 jam), anak yang menyelesaikan tugas atau setor hafalan doa dll maka boleh pulang.

- dimulai bada dzhuhur hingga 30 menit sebelum azan ashar
- dimulai bada ashar hingga 30 menit sebelum azan maghrib

adapun diluar waktu tersebut, saya manfaatkan untuk mengajar di pondok pesantren miftahul jannah di purnama dan kegiatan pribadi.

Biaya Pendidikan : Minimal 50.000 rupiah/anak setiap akhir bulan dibayar

ada metode lain pembayaran biaya pendidikan yang diajarkan kakak kelas saya waktu di mahad namun belum saya terapkan. yaitu dengan memasukkan infak harian setiap kali datang mengaji ke kotak yang ditentukan sesuai kemampuan, seperti 5000, 10.000, 100.000 rupiah dan seterusnya.

Metode belajar yang saya terapkan adalah fleksibel yaitu

Tahap pertama
Anak yang datang harus menyelesaikan bacaan wajib mandiri setelah ditentukan sesuai tingkatan oleh ustadz pembimbing. 

ketika santri iqra atau alquran mengalami kesulitan dalam membaca atau tidak tahu maka harus bertanya kepada ustadz. jika ustadznya sibuk membantu yang lain maka sabar atau sambil bertanya kepada santri lain 

seperti, jika anak iqra ada yang tidak tahu atau kesulitan membaca maka bertanya kepada teman yang level iqranya lebih tinggi sedangkan anak yang sudah masuk alquran, jika ada kesulitan maka bertanya kepada teman yang sudah melewati batas tahsinnya untuk membantu temannya. 


Tahapan kedua
- Santri yang telah menyelesaikan bacaan wajib iqra/alquran maka menyimak langsung ke ustadz/ustadzah pembimbing bacaan iqra atau tahsin sesuai batasan yg ditentukan dan berdasarkan kemampuan si anak.

- untuk Al-Qur'an tergantung kemampuan si anak, jika kesulitan maka dibuat selang seling. seperti hari ini untuk tahsin hafalan lalu setor hafalan yg telah di tahsinkan adapun yg sudah lancar Tahsin nya maka setiap pertemuan diharuskan menyelesaikan tahsin wajib dari awal juz lalu dilanjutkan tahsin hafalan dari juz 30. jika dirasa sudah pas maka di setor hafalannya.

anak yang telah menyelesaikan tahapan satu dan dua maka dibolehkan pulang atau menunggu sambil datang jemputan. 

metode ini saya terapkan tujuan nya untuk menimalisir bermain sesama santri dan memotivasi anak untuk fokus menyelesaikan tugas nya.

catatan

- setiap pencapaian anak dari kenaikan level iqra dan hafalan terus di catat untuk melihat perkembangannya

- santri yang lambat dalam memahami atau ada kendala lain maka dikomunikasikan kepada orangtua atau walinya untuk mencari solusi.

- update kegiatan santri di group khusus wali santri di whatsapp

Ditulis oleh Atri yuanda bin mahyudin elbariamany
selengkapnya »
Beranda