.widget img{ max-width:100%; height:auto;}
Ahlan wa Sahlan di blog pribadi ana atriyuanda.web.id | Meniti Manhaj Salaf
Apakah shalat id ada azan dan iqamat atau lafadz assholatu ja'maah ?

Apakah shalat id ada azan dan iqamat atau lafadz assholatu ja'maah ?

Apakah shalat id ada azan dan iqamat

sudah maklum bersama bahwa shalat fardhu diawali dengan azan dan iqomat, namun bagaimana dengan shalat id pada hari lebaran idhul fitri dan idhul adha ?

pembahasan ini saya luangkan waktu membaca kembali, bahwasanya terdapat riwayat shahih yang menjelaskan permasalahan ini

روى مسلم (885) عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاةَ يَوْمَ الْعِيدِ ، فَبَدَأَ بِالصَّلاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ ، بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلا إِقَامَةٍ .
dari jabir bin abdillah berkata: saya hadir menyaksikan rasulullah shallallahu alahi wa salam  pada hari id, maka di muali dengan shalat kemudian khutbah tanpa ada azan dan iqamat. HR. Muslim (885)

وروى البخاري (960) ومسلم (886) عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيِّ قَالا : لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلا يَوْمَ الأَضْحَى . قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيُّ : لا أَذَانَ لِلصَّلاةِ يَوْمَ الْفِطْرِ حِينَ يَخْرُجُ الإِمَامُ ، وَلا بَعْدَ مَا يَخْرُجُ ، وَلا إِقَامَةَ وَلا نِدَاءَ وَلا شَيْءَ ، لا نِدَاءَ يَوْمَئِذٍ وَلا إِقَامَةَ .
dari ibnu abbas dan jabir ibnu abdillah alanshori keduanya berkata: tidak ada azan pada shalat idhul fitri dan idhul adhal. berkata jabir bin abdillah al-anshoru: tidak ada azan untuk shalat idhul fitri dan tidak ada iqomat dan tidak ada seruan lain untuk shalat. HR. Al-Bukhari (960) dan muslim (886)

maka dari hadist ini adalah dalil bahwanya tidak ada azan untuk shalat id dan tidak pula iqamat dan tidak ada seruan apapun untuk shalat. 

قال ابن قدامة رحمه الله : "وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا : يُنَادَى لَهَا : الصَّلاةُ جَامِعَةٌ . وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ . وَسُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَحَقُّ أَنْ تُتَّبَعَ" اهـ .
berkata ibnu qudamah rahimahullah: dan berkata sebagian ahlu ilmi diantara kami : seruan shalat lafadznya: assholatu ja'maha, ini adalah perkataan imam syafii, maka sunnah rasulullah shallallahu alahi wa salam yang paling berhak di ikuti (tanpa azan, iqamat dan tanpa seruan apapun itu)

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية : لا ينادى للعيد والاستسقاء ، وقاله طائفة من أصحابنا اهـ . نقله عنه في "الإنصاف" (1/428)
dan berkata syaikhul islam ibnu taimiyyah: tidak ada seruan untuk shalat id dan shalat istisqa, dan diikuti sebagian dari ahlu ilmi dari sahabat kami. di nukil dari al-inshof 1/428

وقال ابن القيم في زاد المعاد : "وَكَانَ صلى الله عليه وسلم إذَا انْتَهَى إلَى الْمُصَلَّى أَخَذَ فِي الصَّلَاةِ -أَيْ صَلاةِ الْعِيدِ- مِنْ غَيْرِ أَذَانٍ وَلا إقَامَةٍ , وَلا قَوْلِ : الصَّلاةُ جَامِعَةٌ , وَالسُّنَّةُ أَنْ لا يُفْعَلَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ اهـ .
dan berkata ibnu qayyim di kitabnya zadul ma'ad: dahulu ketika nabi sampai tempat shalat, beliau melaksanakan shalat id tanpa azan dan iqamat dan tanpa mengucapkan: ash-sholatu ja'mah, dan sunnah tidak melakukan seruan apapun.

وقال الصنعاني في "سبل السلام" عن القول بأنه يستحب أن ينادى للعيد "الصلاة جامعة" قال :  "إنه قول غَيْرُ صَحِيحٍ ; إذْ لا دَلِيلَ عَلَى الاسْتِحْبَابِ , وَلَوْ كَانَ مُسْتَحَبًّا لَمَا تَرَكَهُ صلى الله عليه وسلم ; وَالْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ مِنْ بَعْدِهِ , نَعَمْ ، ثَبَتَ ذَلِكَ فِي صَلاةِ الْكُسُوفِ لا غَيْرُ , وَلا يَصِحُّ فِيهِ الْقِيَاسُ ; لأَنَّ مَا وُجِدَ سَبَبُهُ فِي عَصْرِهِ وَلَمْ يَفْعَلْهُ فَفِعْلُهُ بَعْدَ عَصْرِهِ بِدْعَةٌ , فَلا يَصِحُّ إثْبَاتُهُ بِقِيَاسٍ وَلا غَيْرِهِ" اهـ .
dan berkata as-shon'any dalam kitab subulussalam  mengenai perkataan disunnahkan menyerukan untuk shalat id "as-sholatu ja'maha" as-shon'any berkata: bahwasanya perkataan tersebut tidak shahih, tidak ada dalil yang menyunnahkan seruan tersebut, seandainya itu sunnah lantas kenapa ditinggalkan nabi shallallahu alahi w aslam, khulafaur rasyidin dan setelahnya, dan benar shalat gerhana dengan seruan tersebut namun tidak shahih diqiyaskan dikarenakan tidak terdapat alasan penguat seruan itu dilakukan pada zamannya dan tidak pula dilakukan setelah mereka, ini bidah maka tidak layak di qiyaskan.

وسئل الشيخ ابن عثيمين : هل لصلاة العيد أذان وإقامة ؟

فأجاب : " صلاة العيد ليس لها أذان ولا إقامة ، كما ثبتت بذلك السنة ، ولكن بعض أهل العلم رحمهم الله قالوا : إنه ينادى لها "الصلاة جامعة" ، لكنه قول لا دليل له ، فهو ضعيف . ولا يصح قياسها على الكسوف ، لأن الكسوف يأتي من غير أن يشعر الناس به، بخلاف العيد فالسنة أن لا يؤذن لها ، ولا يقام لها ، ولا ينادى لها، "الصلاة جامعة" وإنما يخرج الناس ، فإذا حضر الإمام صلوا بلا أذان ولا إقامة، ثم من بعد ذلك الخطبة" اهـ . "مجموع فتاوى ابن عثيمن" (16/237) .

syaikh ibnu utsaimin pernah ditanya: apakah shalat idh ada azan dan iqamat?

beliau menjawab: shalat id tidak ada azan dan iqamat, sebagaimana sudah dijelaskan dalam sunnah, akan tetapi sebagian ahlu ilmi rahimahumullah berkata: hendaklah ada seruan shalat "as-sholatu ja'maha" akan tetapi perkataan itu tidak ada dalilnya, dikarenakan sanadnya lemah, dan tidak sahah mengkiaskan dengan shalat gerhana dikarenakan shalat gerhana tidak bisa dirasakan mayoritas manusia kedatanganya, berbeda dengan shalat id maka sunnahnya tidak ada azan dan tidak iqamat dan tidak ada seruan apapun seperti "asholatu ja'maah" dan ketika manusia keluar menuju lapangan dan ketika imam hadir berdiri untuk shalat tanpa ada azan dan iqamat kemudian dilanjutkan dengan khutbah. majmu fatawa ibnu utsaimin (16/237)
selengkapnya »
Bolehkah memajukan khutbah id atau istisqa sebelum shalat ?

Bolehkah memajukan khutbah id atau istisqa sebelum shalat ?

memajukan khutbah id sebelum shalat

bismillah, hal ini pernah ditanyakan kepada syaikh bin baz rahimahullah, beliau mengatakan

wajib bagi setiap muslim mengikuti rasulullah shallallahu alahi wa salam atas apa yang diwahyukan kepadanya. dan melakukan amalan sebagaimana dia lakukan, tidak menambahkan sesuai kemauan akal dan tidak pula merubah, nabi shallallahu alahi wa salam telah berkata :

صلوا كما رأيتموني أصلي
shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat

dan dalam alquran memerintahkan dengan lafadz umum

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ [البقرة:43]
dan dirikanlah shalat. (albaqoroh: 43)

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ [البقرة:238]
peliharalah shalat-shalat (albaqoroh: 238)

dan rasulullah shallallahu alahi wa salam menjelaskan dan memperinci perintah shalat yang ada dalam alquran dengan ucapan dan perbuatan nabi, maka selayaknya setiap muslim mengikuti tatacara rasulullah dan tidak melakukan bidah serta tidak dibenarkan bagi setiap muslim memajukan khutbah id.

adapun shalat istisqa (meminta hujan) terdapat riwayat yang membolehkan khutbah dimajukan atau diakhirkan sedangkan khutbah id tidak boleh dimajukan, harus shalat kemudian khutbah, begitulah yang dilakukan nabi shallallahu alahi wa salam, khulafaur rasyidin dan kaum muslimin. adapun perbuatan marwan yang menyelisihi sunnah nabi dengan memajukan khutbah id telah di ingkari abu said alkhudry.

maka kesimpulannya bahwa wajib bagi setiap muslim melakukan shalat sebagaimana nabi shallallahu alahi wa salam shalat dan disunnahkan bagi kaum muslimin hadir mendengarkan khutbah id dan khutbah istisqa.

teks arab silahkan baca disini binbaz.org.sa
selengkapnya »
Apakah Khutbah idhul adha dan idhul fitri 1 kali atau 2 kali ?

Apakah Khutbah idhul adha dan idhul fitri 1 kali atau 2 kali ?

Khutbah idhul adha dan idhul fitri

bismilah, alhamdulillah wa salatu wa salamu ala khairi anam, nabi muhammad shallallahu alahi wa salam.

khutbah id (idhul fitri dan idhul adha) dilaksanakan setelah melakukan sholat idh, tanpa kumandang azan dan iqomat

baca juga


namun terjadi diskusi para ulama dalam hal ini, apakah cukup 1 kali atau 2 kali

jumhur para ahli ilmu dari 4 mazhab dan selain mereka bahwasanya khutbah id 2 kali, diantara keduanya dipisahkan dengan duduk ringan sebagaimana dilakukan pada khutbah shalat jumat

وقال الشافعي رحمه الله في "الأم" (1/272) : "عن عبيد الله بن عبد الله بن عتبة قال : السنة أن يخطب الإمام في العيدين خطبتين يفصل بينهما بجلوس ( قال الشافعي ) : وكذلك خطبة الاستسقاء وخطبة الكسوف ، وخطبة الحج ، وكل خطبة جماعة " انتهى .
dan telah berkata imam syafi'i rahimahullah dalam kitab "al-umm" (1/272) : "dari ubaidillah bin abdillah bin uthbah berkata: di sunnahkah bagi imam khutbah id 2 kali, memisahkan 2 khutbah dengan duduk (berkata imam syafi'i) : dan begitu juga khutbah istisqa, khutbah gerhana matahari, khutbah haji dan semua khutbah jamaah.

ringkasan yang bersandar kepada 2 kali khutbah

  1. hadist ibnu maja dan atsar dari ibnu mas'ud radhiallahu anhu, dan riwayat keduanya lemah sebagaimana disebutkan sebelumnya
  2. atsar dari ubaidillah bin abdillah bin utaibah, beliau seorang tabiin
  3. qiyas kepada sholat jumat

dan syeikh ibnu utsaimin rahimahullah menyebutkan poin ke empat yang menjadi hujjah, beliau rahimahullah berkata : dan perkataan mereka 2 kali khutbah sebagaimana dilakukan jumhur fuqoha rahimahumullah bahwa khutbah id 2 kali dikarenakan terdapat hadist yang di riwayatkan oleh ibnu majah dengan sanad yang perlu di telaah, secara zhahirnya bahwasanya khutbah 2 kali. dan siapa memperhatikan dalam sunnah yang sudah disepakati keshahihannya dalam kitab shahihain dan selain 2 kitab tersebut telah jelas bahwa nabi khutbah hanya sekali, akan tetapi setelah beliau selesai dari khutbah pertama, nabi berpindah ke barisan wanita dan memberi nasehat khusus kepada mereka.

maka jika ini dijadikan hukum asal syariat khutbah id 2 kali maka ini hanyalah kemungkinan padahal ini tidak sesuai, alasan nabi pergi ke tempat para wanita dan khutbah khusus untuk mereka dikarenakan kemungkinan tidak sampainya suara khutbah atau sampai suara kepada mereka namun nabi ingin menyampaikan nasehat khusus kepada wanita saja. asy-syarh al-mumti' (5/191)

lajnah daiman juga pernah ditanya periha khutbah id dan menjawab

وذهب بعض أهل العلم إلى أنه ليس لصلاة العيد إلا خطبة واحدة ؛ لأن الأحاديث الصحيحة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس فيها إلا خطبة واحدة ، والله أعلم " انتهى نقلا عن "فتاوى إسلامية" (1/425) .
khutbah 2 kali adalah sunnah dan dilakukan setelah shalat id, sebagaimana terdapat dalam riwayat an-nasai, ibnu majah dan abu daud dari atha dari abdillah dari as-sa'ib radhialahu anhuma berkata: aku hadir menyaksikan nabi shallallahu alahi wa salam pada hari id, ketika selesai shalat, nabi berkata

إنا نخطب فمن أحب أن يجلس للخطبة فليجلس ومن أحب أن يذهب فليذهب
sesungguhnya kami (nabi) berkhutbah maka barangsiapa yang ingin duduk mendengarkan khutbah maka tetap duduk dan barangsiapa yang ingin pergi maka silahkan pergi.

berkata as-syaukahi rahimahullah dalam kitab an-nail: berkata penulis rahimahullah: dan didalamnya terdapat penjelasan bahwa mendengarkan khutbah adalah sunnah, jika wajib maka lafadznya adalah wajib duduk untuk mendengarkan.

dan sebagian para ahli ilmu sepakat bahwa khutbah id dilakukan hany sekali saja, dikarenakan banyak hadist shahih dari rasulullah shallallahu alahi wa salam yang menyebutkan 1 kali khutbah saja, allahu alam. fatawa islamiyah (1/25)

disyariatkan bagi khatib yang khutbah 2 kali diantara khutbahnya hendaklah duduk sejenak sebagai qiyas shalat jumat, sebagaimana terdapat riwayat dari imam syafii rahimahullah dari ubaid bin abdillah bin utbah radhiallahu anhu berkata : disunnahkan bagi imam yang khutbah id memisahkan 2 khutbah dengan duduk.

syaikh ibnu utsaimin rahimahullah pernah ditanya: apakah imam berkhutbah id 1 kali atau 2 kali ?

maka dia menjawab

" المشهور عند الفقهاء رحمهم الله أن خطبة العيد اثنتان ، لحديث ضعيف ورد في هذا ، لكن في الحديث المتفق على صحته أن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم لم يخطب إلا خطبة واحدة ، وأرجو أن الأمر في هذا واسع " انتهى . "مجموع فتاوى الشيخ ابن عثيمين" (16/246) .
yang dikenal banyak para fuqaha rahimahumullah bahwa khutbah id 2 kali, berdasarkan hadist lemah, akan tetapi dalam hadist shahih yang disepakati keshahihannya bahwa nabi shallallahu alahi wa salam tidaklah beliau khutbah kecuali hanya 1 kali dan saya memandang perkara ini luas pembahasannya. (majmu fatawa syaikh ibnu utsaimin (16/246))

وقال أيضاً (16/248) : " السنة أن تكون للعيد خطبة واحدة ، وإن جعلها خطبتين فلا حرج ؛ لأنه قد روي ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولكن لا ينبغي أن يهمل عظة النساء الخاصة بهن . لأن النبي عليه الصلاة والسلام وعظهن .
syaikh ibnu utsaimin juga berkata (16/248) : sunnahnya khutbah id hanya sekali, dan jika melakukan 2 kali khutbah maka tidak masalah, karena telah terdapat riwayat dari nabi shallallahu alahi wa salam, akan tetapi tidak selayaknya mengabaikan wasiat khusus kepada para wanita karena nabi shallallahu alahi wa salam menasehati mereka.

فإن كان يتكلم من مكبر تسمعه النساء فليخصص آخر الخطبة بموعظة خاصة للنساء ، وإن كان لا يخطب بمكبر وكان النساء لا يسمعن فإنه يذهب إليهن ، ومعه رجل أو رجلان يتكلم معهن بما تيسر " انتهى .
maka jika khatib berbicara menggunakan microphone (pengeras suara) yang bisa didengar para wanita maka hendaklah khatib memberikan nasehat khusus kepada wanita, namun jika tidak memakai mikrophone dan para wanita tidak bisa mendengar khutbah maka hendaknya khatib pergi ke barisan para wanita dan bersamanya 1 pria atau 1 pria untuk menyampaikan nasehat semampunya

وخلاصة الجواب : أن المسألة من مسائل الاجتهاد ، والأمر في هذا واسع ، وليس في السنة النبوية نص فاصل في المسألة ، وإن كان ظاهرها أنها خطبة واحدة ، فيفعل الإمام ما يراه أقرب إلى السنة في نظره . والله أعلم .
kesimpulannya: pembahasan ini termasuk bab ijtihad para ulama, dan luas untuk dikaji, dan tidak terdapat nash sunnah yang memperinci pembahasan ini, jika secara zhahir bagi imam khutbah cukup sekali maka hendaklah dilakukan berdasarkan pengamatannya yang lebih dekat kepada sunnah, allahu a'lam.

untuk yang bisa bahasa arab silahkan baca di link ini islamqa.info
selengkapnya »
Beristiqfarlah di Setiap akhir Penutupan Amal Sholeh

Beristiqfarlah di Setiap akhir Penutupan Amal Sholeh

Beristiqfarlah di Setiap akhir Penutupan Amal Sholeh

Telah Berkata Ibnu Rajab rahimahullah:

istiqfar (memohon ampunan kepada Allah) adalah penutup semua amal shaleh yang dilakukan, oleh karenanya nabi shallallahu alahi wa salam memjadikan istigfar penutup usianya, sebagaimana disyariatkan kepada yang melaksanakan sholat fardhu 5 waktu untuk beristiqfar pada akhir shalat (setelah salam) sebanyak 3 kali dan sebagaimana di syariatkan kepada yang tahajjud di malam hari untuk beristiqfar di akhir malam, sebagaimana Allah berkata

وبالأسحار هم يستغفرون
dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). QS. Adz-Dzariyat: 18

dan Juga Berkata

والمستغفرين بالأسحار
dan orang-orang yang memohon Ampunan pada waktu sebelum fajar. QS. Ali-Imran: 17

dan sebagaimana di syariatkan istiqfar di penutupan ibadah haji sebagaimana Allah ta'ala berkata:

ثم أفيضوا من حيث أفاض الناس واستغفروا الله إن الله غفور رحيم
kemudian bertolaklah kalian dari tempat orang banyak bertolak (arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. sunnguh, Allah maha pengampun maha penyayang. QS. Al-Baqoroh: 199

dan sebagaimana di syariatkan pada penutupan majelis (seperti kajian dan baca alquran) dengan bertasbih, bertahmid dan istiqfar adalah kafaratul majelis dan diriwayatkan juga hendaklah berwudhu juga ketika menutup majelis.

dan sebab ini dilakukan dikarenakan manusia hamba Allah serba kekurangan dalam memenuhi hak-hak Allah yang semestinya dilakukan yaitu melaksanakan hak-haknya Allah yang seharusnya dilakukan dengan penuh keagungan dan pemuliaan namun hak-hak allah dilakukan manusia sebatas kemampuanya.

maka mereka yang cerdas paham bahwa ukuran hak Allah sangat tinggi dan lebih agung dari itu sehingga dia malu atas amal yang telah dia kerjakan dan beristqfar dari kekurangan (jauh dari kesempurnaan) dalam memenuhi hak-hak Allah sebagaimana halnya atas istiqfarnya terhadap dosa-dosa dan kelalaian.

dan setiap kali seseorang makin mengenal Allah maka dia akan semakin cemas dan semakin terlihat kekurangan pada dirinya, dan oleh karna itu penutup para utusan Allah dan paling mengenal Allah sang pemilik alam semesta yaitu Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa salam, beliau sangat bersungguh-sungguh melakukan sanjungan, penghormatan, pujian kepada tuhannya Allah.

tafsir al hafidz ibnu rojab
Diterjemahkan oleh Atri Yuanda Elpariamany

قال ابن رجب - رحمه لله - :
الإستغفار هو خاتمة الأعمال الصالحة، ولهذا أمر النبي - صلى الله عليه وسلم - أن يجعله خاتمة عمره، كما يشرع لمصلي المكتوبة أن يستغفر عقبها ثلاثا، وكما يشرع للمتهجد من الليل أن يستغفر بالأسحار ، قال تعالى: {وبالأسحار هم يستغفرون } وقال : { والمستغفرين بالأسحار } ،

وكما يشرع الإستغفار عقيب الحج ، قال تعالى : { ثم أفيضوا من حيث أفاض الناس واستغفروا الله إن الله غفور رحيم }، وكما يشرع ختم المجالس بالتسبيح والتحميد والإستغفار وهو كفارة المجلس، وروي أنه يختم به الوضوء أيضا ،

وسبب هذا أن العباد مقصرون عن القيام بحقوق الله كما ينبغي، وأدائها على الوجه اللائق بجلاله وعظمته، وإنما يؤدونها على قدر ما يطيقونه ، فالعارف يعرف أن قدر الحق أعلى وأجل من ذلك، فهو يستحي من عمله ويستغفر من تقصيره فيه كما يستغفر غيره من ذنوبه وغفلاته،

وكلما كان الشخص بالله أعرف كان له أخوف، وبرؤية تقصيره أبصر، ولهذا كان خاتم المرسلين وأعرفهم برب العالمين - صلى الله عليه وسلم - يجتهد في الثناء على ربه. [ تفسير الحافظ ابن رجب ]
selengkapnya »
Apa sikap dan doa yang di ucapkan ketika ditimpa musibah/keburukan ?

Apa sikap dan doa yang di ucapkan ketika ditimpa musibah/keburukan ?

hidup di dunia ini memang ada kalanya ditimpa musibah atau sesuatu yang tidak di sukai, suka tidak suka tetap harus di hadapi. namun seorang muslim hendaklah menteladani nabi shallallahu alahi wa salam dalam menyikapi musibah.

nah, berkaitan dengan doa ketika ditimpa musibah ada sebagian masyarakat mengucapkan doa yang disandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam, lafadznya yaitu

الحمد الله الذي لا يحمد على مكروه سواه
segala puji hanya kepada Allah, tidaklah memuji terhadap musibah hanya kepada-Nya

doa ini tidak ada riwayat shahih bersambung kepada nabi shallallahu alahi wa salam, yang benar adalah

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ . حسنه الألباني في صحيح ابن ماجه .
dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata: apabila rasulullah shallallahu alahi wa salam melihat/mengalami sesuatu yang dia senangi, beliau mengucapkan

 الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
segala puji hanya milik Allah atas segala nikmatnya, telah disempurnakan semua kebaikan

dan apabila melihat/mengalami sesuatu yang tidak dia sukai/musibah, beliau mengucapkan

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan

di shahihkan oleh syaikh albani dalam shahih ibnu majah

ketika ditimpa musibah/keburukan

syaikh ibnu utsaimin rahimahullah berkata dalam tafsir juz amma (hal. 127)

adapun perkataan sebagian masyarakat : الحمد لله الذي لا يحمد على مكروه سواه

maka ini bertentangan dengan apa yang datang dari sunnah, selayaknya mengucapkan sebagaimana Rasulullah shallallahu alahi wa salam ucapkan الحمد لله على كل حال

adapun ucapan الحمد لله الذي لا يحمد على مكروه سواه maka seolah-olah kamu saat itu telah mengumumkan bahwasanya kamu benci atas apa yang telah Allah takdirkan kepadamu, ini tidak pantas di lakukan, seharusnya seorang manusia bersabar atas apa yang telah Allah takdirkan kepadanya berupa keburukan atau kebaikan, karena yang mentakdirkan untuknya adalah Allah azza wa jalla.

dialah Allah Rabbmu (pencipta/penguasa) dan anda adalah hanyalah hamba-Nya, Dialah Pemilik dirimu dan kamu adalah milik-Nya. maka jika Allah yang telah mentakdirkan sesuatu yang buruk kepadamu maka janganlah jengkel namun seharusnya kamu bersabar, dan janganlah kamu marah/kesal di hati, ucapan dan perbuatan, hendaklah bersabarlah dan jalani saja, kejadian yang dihadapi akan menghilang seiring waktu berjalan sebagaimana nabi shallallahu alahi wa salam berkata:

( وَاعْلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وأنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ ، وأنَّ مَعَ العُسْرِ يُسراً ) صححه الألباني في تحقيق السنة لابن أبي عاصم (315)
dan ketahuilah bahwasanya pertolongan disertai dengan kesabaran, dan kelapangan disertai dengan kesempitan dan setiap kesulitan ada kemudahan. di shahihkan oleh syaikh albani dalam tahqiq sunan ibnu abi a'shim (315)

Allah azza wa jalla terpuji atas segala keadaan baik itu yang menyenangkan maupun keburukan, karna Dia jika mentakdirkan perkara yang menyenangkan maka itu adalah ujian dan cobaan sebagaimana Allah taala firmankan

(وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ) الأنبياء / 35
dan kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai bentuk ujian. QS. Al-Anbiya: 35

maka jika kamu ditimpakan musibah/keburukan maka bersabarlah karena itu sesungguhnya juga termasuk ujian dan cobaan datang dari Allah azza wa jalla, apakah kamu sabar atau tidak, dan jika kamu sabar dan mengharapkan pahala dari Allah maka Allah katakan:

( إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ) الزمر / 10 
sesungguhnya hanya kepada orang-orang yang sabar pahala mereka disempurnakan tanpa batas. QS. Azzumar: 10

referensi bacaan islamqa.info
ditulis oleh Atri Yuanda Elpariamany
selengkapnya »
Bertahun-tahun Tidak Tunaikan Zakat Harta, apa yang harus dilakukan ?

Bertahun-tahun Tidak Tunaikan Zakat Harta, apa yang harus dilakukan ?

Tunaikan Zakat Harta

zakat adalah bagian dari rukun islam, oleh karnanya wajib menunaikan zakat harta jika telah mencapai nisab (batas minimal harta wajib zakat) dan haul (kepemilikan selama 1 tahun bukan perbulan). nisab harta seperti uang setara nilainya dengan 85 gram emas atau 597 gram perak.

tidak boleh menunda dalam menunaikannya untuk diberikan kepada yang berhak menerima zakat harta, adapun dia sengaja melambat-lambatkan (menunda dalam waktu yang lama bahkan lewat 1 tahun kemudian atau lebih) maka pelaku haru bertaubat dan perbanyak istiqfar dari penundaan tersebut dan wajib baginya mengeluarkan zakat harta tahun-tahun sebelumnya yang telah melewati batas nisab wajib zakat yaitu dengan menghitung setiap tahun kepemilikan harta tersebut kemudian dikalikan 2,5%

apabila harta berkurang pada salah satu tahun nisab wajib zakat maka tidak wajib baginya mengeluarkan zakat pada tahun tersebut sampai harta tersebut telah mencapai batas minimal nisab pada tahun berikutnya maka baru di hitung di tahun berikutnya

contoh

tahun 1 : 100 gram emas x 2,5 % = 2,5   gram
tahun 2 : 120 gram emas x 2,5 % = 3      gram
tahun 3 :   80 gram emas x 2,5 % = 2      gram 
tahun 4 :   90 gram emas x 2,5 % = 2,25 gram
_____________________________________
Total                                              = 7, 75 gram


catatan : 


  • tahun ke 3 tidak di hitung karena tidak mencapai batas minimal wajib mengeluarkan zakat harta
  • jika 1 gram dirupiahkan seharga 600.000 maka 600.000 x 7,75 = 4.650.000 rupiah
  • wajib nisab 85 gram x 600.000 rupiah = 51.000.000 rupiah
  • 600.000 rupiah harga emas ini hanya contoh, harga emas per gramnya harap dicek setiap tahun agar tahu apakah sudah wajib zakat atau belum harta yang dimiliki.
  • Patokan zakat harta sudah ditetapkan syariat jenisnya bukan nominal uang kertas.

سئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله : شخص لم يخرج زكاة أربع سنين ، ماذا يلزمه ؟
syeikh muhammad bin shalih al-utsaimin rahimahullah pernah ditanya perihal seseorang yang tidak mengeluarkan zakat 4 tahun berlalu, maka apa yang harus dia lakukan ?

فأجاب :

" هذا الشخص آثم في تأخير الزكاة ؛ لأن الواجب على المرء أن يؤدي الزكاة فور وجوبها ولا يؤخرها ؛ لأن الواجبات الأصل وجوب القيام بها فوراً ، وعلى هذا الشخص أن يتوب إلى الله عز وجل من هذه المعصية ، وعليه أن يبادر إلى إخراج الزكاة عن كل ما مضى من السنوات ، ولا يسقط شيء من تلك الزكاة ، بل عليه أن يتوب ويبادر بالإخراج حتى لا يزداد إثماً بالتأخير " انتهى .

"مجموع فتاوى الشيخ ابن عثيمين" (18/السؤال رقم 211) .
maka beliau menjawab:

pria tersebut telah berdosa karena menunda menunaikan zakat, padahal dia telah wajib zakat dan harus segera mengeluarkan tanpa di tunda-tunda, karena hukum asal pelaksanaannya segera dikerjakan. adapun yang harus dilakukannya adalah segera bertaubat kepada Allah azza wa jalla atas maksiat tersebut dan segera mengeluarkan zakat harta setiap tahun yang telah berlalu, tidak gugur baginya wajib zakat. diharuskan baginya taubat dan segera mengeluarkan agar tidak terus bertambah dosanya karna terus menunda dan menunda. (majmu fatawa as-syaikh ibnu utsaimin 18/soal no 211)

وقال الشيخ أيضاً :

" الزكاة عبادة لله عز وجل ، وحق لأهل الزكاة ، فإذا منعها الإنسان كان منتهكاً لحقين : حق الله تعالى ، وحق أهل الزكاة ، فإذا تاب بعد خمس سنوات - كما جاء في السؤال - سقط عنه حق الله عز وجل ؛ لأن الله تعالى قال : ( وَهُوَ ٱلَّذِى يَقْبَلُ ٱلتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُواْ عَنِ ٱلسَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ ) ويبقى الحق الثاني وهو حق المستحقين للزكاة من الفقراء وغيرهم ، فيجب عليه تسليم الزكاة لهؤلاء ، وربما ينال ثواب الزكاة مع صحة توبته ؛ لأن فضل الله واسع .

أما تقدير الزكاة فليتحر ما هو مقدار الزكاة بقدر ما يستطيع ، ولا يكلف الله نفساً إلا وسعها ، فعشرة آلاف - مثلاً - زكاتها في السنة مائتان وخمسون ، فإذا كان مقدار الزكاة مائتين وخمسين ، فليخرج مائتين وخمسين عن السنوات الماضية عن كل سنة ، إلا إذا كان في بعض السنوات قد زاد عن العشرة فليخرج مقدار هذه الزيادة ، وإن نقص في بعض السنوات سقطت عنه زكاة النقص " انتهى .

"مجموع فتاوى الشيخ ابن عثيمين" (18/السؤال رقم 214) .
syaikh utsaimin juga berkata:

zakat adalah ibadah kepada Allah azza wa jalla dan hak bagi yang menerima zakat, jika seseorang menahan hartanya untuk di zakatkan maka dia telah menghilangkan 2 hak yaitu hak Allah ta'ala dan hak yang menerima zakat, maka jika dia telah bertaubat 5 tahun kemudian maka gugurlah hak Allah azza wa jalla karen Allah ta'ala telah berfirman :

وَهُوَ ٱلَّذِى يَقْبَلُ ٱلتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُواْ عَنِ ٱلسَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
dan Dialah (Allah) yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Asy-syura: 25)

dan tinggal hak yang kedua yaitu haknya orang yang berhak menerima zakat dari orang fakir dan lainnya (bisa di cek di surat at-taubah: 60) maka wajib baginya menyerahkan zakat kepada mereka dan semoga dia memperoleh pahala zakat berbarengan dengan kesohihan taubatnya karna keutamaan yang Allah miliki sangat luas.

adapun takaran zakat maka hendaklah dia periksa dengan detail semampunya karna Allah tidakllah membebani hamba-Nya melainkan sesuai kemampuannya. misalnya 10.000 gram maka zakatnya dalam setahun 250 gram yang harus dikeluarkan maka jika setiap tahun diperoleh 250 gram juga maka wajib dikeluarkan jumlahnya segitu kecuali jika ada salah satu atau lebih dari 2 tahun dari tahun-tahun sebelumnya terdapat penambahan lebih dari 10.000 maka dikeluarkan takaran tambahan tersebut dan jika berkurang dari 10.000 gram maka berkurang dari 250 gram (jika kurang dari wajib nishob maka gugur zakat pada tahun tersebut)

(majmu fatawa as-syaikh ibnu utsaimin 18/soal no 214)

allahu a'lam

Ditulis oleh Atri Yuanda El-Pariamany
referensi bacaan islamqa.info
selengkapnya »
Beranda