.widget img{ max-width:100%; height:auto;}
Ahlan wa Sahlan di blog pribadi ana atriyuanda.web.id | Meniti Manhaj Salaf
Penjelasan Ringkas Tentang Niat | Syarah Umdatul Ahkam

Penjelasan Ringkas Tentang Niat | Syarah Umdatul Ahkam

Penjelasan Ringkas Tentang Niat

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله، فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها، فهجرته إلى ما هاجر إليه
dari amirul mu'minin abu hafsh umar ibnul khottob berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alahi wa salamberkata: sesungguhnya setiap amalan tergantung niat, dan setiap orang mendapatkan ganjaran dari apa yang dia niatkan, barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa hijrahnya karena inginkan dunia saja atau menikahi wanita saja maka hijrahnya sesuai dengan niatnya. (HR. Bukhari-Muslim dan lainnya)

Hadist yang agung dan kaedah yang Sangat bagus diantara kaedah yang ditetapkan dalam syariat islam. Hadist ini menjadi standar yang akurat untuk menimbang semua amalan dari sisi diterima atau tertolak, banyak atau sedikit pahala yang di peroleh.

Sesungguhnya nabi shalallahu alaihi wa salam mengabarkan bahwa inti semua amalan ada pada niat, jika niatnya benar dan amalan ikhlas mengharapkan wajah Allah ta'ala maka amalan tersebut di terima, namun jika sebaliknya maka amalan tersebut tertolak. Sesungguhnya Allah ta'ala maha kaya yang tak butuh sekutu dalam peribadatan.

Kemudian nabi membuat contoh untuk memperjelas kaedah yang agung ini dengan hijrah, barangsiapa hijrah dari negeri kesyirikan mengharapkan pahala dari Allah, ingin dekat dengan nabi, belajar ilmu syar'i maka hijrahnya di jalan Allah, dan Allah memberinya pahala.

Dan barangsiapa hijrahnya untuk materi dunia saja maka dia tidak akan mendapatkan pahala dan jika untuk maksiat maka akan mendapatkan hukuman.

Niat membedakan ibadah dengan kebiasaan, seperti mandi bertujuan mengangkat hadast besar maka ini ibadah, namun jika hanya untuk mendinginkan badan atau kebersihan saja maka ini hanyalah kebiasaan.

Contoh lain

Memelihara jenggot bagi pria yang tumbuh jenggot nya adalah ibadah wajib namun jika niatnya untuk kesehatan saja, ikut-ikutan lagi ngetrend maka dia tak akan dapat pahala dan bisa jatuh kepada dosa jika menyelisihi Sunnah nabi seperti jenggot nya dipelintir menyerupai poni rambut, menyukur tengah menyerupai suatu kaum dll.

Niat dalam timbangan syariat terdapat 2 pembahasan

1. Ikhlas kepada Allah semata (pembahasan ini masuk dalam ranah ulama tauhid, sejarah dan adab)

2. Membedakan 1 ibadah dengan ibadah lainnya (pembahasan ini masuk dalam ranah ulama fiqh)

Banyak ulama pada awal bab kitabnya memulai dengan hadist ini termasuk imam Bukhari rahimahullah.

Faedah hadist ini

1. Inti amalan adalah niat, sah atau rusaknya amalan, sempurna atau berkurangnya, ketaatan atau maksiat.

Barangsiapa niat beramal karna riya' maka berdosa, dan barangsiapa niat berjihad untuk menegakkan kalimat Allah maka dia memperoleh pahala sempurna, barangsiapa niatnya kepada Allah namun juga inginkan qanimah perang maka pahalanya berkurang, dan barangsiapa ikut perang hanya inginkan harta qanimah saja maka dia tidak berdosa Namun tidak memperoleh pahala jihad.

2. Niat syarat utama dalam amalan namun jangan berlebihan menghadirkan niat sehingga memberatkan seseorang dalam ibadahnya, sesungguhnya hadirnya niat dihati sudah cukup tanpa harus menghadirkan niat dengan lafadz yang dibuat buat.

3. Niat tempatnya di hati adapun melafadzkan niat adalah bidah (tidak ada tuntunan nabi melafadzkan dan tidak ada lafadz khusus setiap amalan seperti nawaitu shaum, usholli fardhal zhuhri)

4. Wajib menjauhkan diri dari riya', sum'ah dan hanya untuk materi dunia yang sedikit lagi fana serta hal hal yang dapat merusak ibadah

5. Wajib menjaga keikhlasan amalan dari awal hingga ajal menjemput agar tidak sia-sia atau malah berdosa karna rusak niat.

6. Hijrah dari negeri kesyirikan ke negeri Islam diantara ibadah yang afdhol jika niatnya karna Allah ta'ala.

Ditulis oleh Atri Yuandal El-pariamany 
diterjemahkan dengan gaya bahasa sendiri dari kitab syarah umdatul ahkam karya syeikh abdullah bin abdurrahman alu bassam jilid I hal. 23

selengkapnya »
5 Kaedah dalam mengingkari kemunkaran (nahi munkar)

5 Kaedah dalam mengingkari kemunkaran (nahi munkar)

Kaedah dalam mengingkari kemungkaran

1. tidaklah dilakukan pengingkaran terhadap kemunkaran tersebut melainkan tidak berpotensi  jatuh kepada kerusakan yang lebih parah dari 2 kerusakan.

dan diantara dalil mengenai kaedah ini sebagaimana perkataan Allah ta'ala

يَسْأَلونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. QS. Al-Baqoroh. 217

sisi pendalilan: walau membunuh jiwa terdapat kerusakan maka fitnah (kerusakan/gangguan) yang dapat mengakibatkan kekufuran dan menampakkan permusuhan (menghalangi orang dari jalan Allah,  menghalangi kaum muslimin masuk masjidil haram, mengusir penduduknya dll) maka ini lebih parah kerusakan yang ditimbulkan. maka menghalangi yang paling besar kerusakan dari 2 kerusakan hendaklah memilih yang paling kecil mudhorotnya.

berkata penulis kitab adhwa'ul bayan: boleh mengingkari kemunkaran dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan yang lebih parah dari kerusakan tersebut sebagaimana telah disepakai kaum muslimin terhadap melakukan tindakan yang lebih kecil mudhorotnya dari 2 mudhorot.

tidak boleh mengingkari kemunkaran sampai telah yakin bahwasanya tidak akan berpindah kepada kerusakan yang lebih parah

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُ الْقَوْمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " دَعُوهُ وَلَا تُزْرِمُوهُ ". قَالَ : فَلَمَّا فَرَغَ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ، فَصَبَّهُ عَلَيْهِ. متفق عليه
dari anas bahwasanya arab badui kencing di masjid, maka berdiri sebagian sahabat mendekatinya, maka Rasulullah shallallahu alahi wa salam berkata: biarkan dia dan jangan kalian tahan dia kencing ( berpotensi najis tersebar kemana-mana). berkata : setelah selesai dari kencing, nabi mengambil satu gayung air dan menyiramkannya ke tempat arab badui tersebut kencing. HR. Muttafaqun alahi.

dalil ini menunjukkan dibolehkan mengakhirkan tindakan pengingkaran kemunkaran untuk menghindari kerusakan yang lebih parah.

telah berkata syaikh utsaimin rahimahullah: 

mengakhirkan pengingkaran kemunkaran kadang bisa masuk kepada bab menggunakan hikmah dalam dakwah kepada Allah, maka bisa jadi pria yang melakukan pengingkaran kemunkaran memandang tidak pas melakukan pengingkaran pada waktu tersebut. akan tetapi aku akan menahan diri melakukan pengingkaran dan akan mendakwahinya kepada kebenaran pada waktu yang paling cocok, dan ini hakikat cara yang benar. 

sesungguhnya agama ini sebagaimana kita tahu semuanya, dimulai tahap bertahap. ketika para sahabat telah mengambil keputusan atas apa yang dahulu mereka lakukan pada tahapan akhir diharamkan dalam rangka melihat maslahat, seperti minuman keras yang telah Allah ta'ala jelaskan kepada hambanya bahwa di dalamnya terdapat dosa besar dan manfaat kepada manusia, namun dosanya lebih besar dari manfaatnya. manusia pada saat itu tetap pada keadaan mereka (bertahap sudah mau menerima) yang pada akhirnya pada sudah pas maka turunlah ayat pengharaman secara mutlak.

maka jika seseorang melihat ada maslahat, dia tidak akan mendakwahi si fulan pada waktu itu atau di tempat tersebut, dia akan meng-akhirkan dakwah pada waktu lain atau di tempat lain dikarenakan dia melihat lebih tepat atau lebih banyak memberi manfaat, maka ini tidak apa-apa.

(dari kitab as-shohwatul islamiyyah, dhowabithun wa tauhiha't)

berkata syaikhul islam: dan barangsiapa mengingkari kemunkaran atas landasan dugaan/prasangka maka dia telah membuat kerusakan, dan sesungguhnya dia berbuat berdosa hingga dia benar-benar yakin bahwa pengingkaran tersebut menghilangkan kemunkaran kepada yang lebih baik.

dan berkata ibnu taimiyah : tidak boleh mengingkari kemunkaran jika berdampak semakin membesar kemunkaran tersebut.

oleh karna itu diharamkan keluar dari ketaatan kepada pemimpin dengan pedang (senjata) untuk ditegakkannya amar ma'ruf nahi munkar, karna melakukan perbuatan tersebut adalah haram dan telah meninggalkan kewajiban, perkara ini lebih berat dosanya dari perbuatan pelaku kemunkaran dan dosa

contoh : seumpamanya kamu mendatangi sekelompok orang yang sedang bermain permainan haram atau sibuk dengan buku-buku lawakan (lucu, komik dll), maka jika kamu bertindak untuk melarang merka maka hendaklah memperhatikan keadaan (kemungkinan) dibawah ini

1. kemunkaran malah semakin parah maka ini haram secara ijma

maksudnya: meninggalkan membaca buku lawakan kepada menelpon wanita secara langsung atau bertemu wanita langsung atau yang sejenisnya, maka ini menimbulkan kemunkaran yang lebih parah, maka membiarkannya pada kondisi awal, itu lebih kecil mudhorotnya dalam syariat daripada berpindah kepada kemunkaran kedua yang lebih parah.

2. menghilang kemunkaran tersebut yang baik bagi dirinya dan agamanya, maka ini wajib dilakukan pengingkaran.

3. berpindah kepada kemunkaran yang lain dengan mudhorot yang sama maka ini masuk ranah ijtihad

4. berpindah kepada kemunkaran yang lain

2. tidak mengingkari kemunkaran dengan cara yang munkar (dilarang)

harus bagi pelaku nahi munkar mengetahui hakikat pengingkaran, dan memilih cara yang paling baik untuk mengurangi/menghilangi kemunkaran, dan kecuali pengingkaran memang dibutuhkan tindakan pengingkaran. dalam hal ini kita dapati ibnu taimiyah berkata: dan sikap lembut/sejuk cara melarang kemunkaran dan disini dikatakan: hendaklah kamu ketika melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar tidak dengan cara yang munkar)

3. melakukan nahi munkar dengan cara yang di syariatkan: hendaklah pelaku nahi munkar seorang yang alim, lembut, sabar, punya tujuan baik dan mengikuti prosedur yang dibenarkan.

4. hendaklah maslahat yang dicapai jelas tanpa menimbulkan kerusakanamar ma'ruf dan nahi munkar termasuk kewajiban yang afdhol maka harus jelas menimbulkan maslahat daripada kerusakan, maka jika kerusakan malah lebih besar daripada maslahat dalam pengingkarannya, ini tidak masuk dalam perintah Allah untuk dilakukan, dan bahkan meninggalkan kemunkaran menjadi wajib dan bertindak mengingkari diharamkan, oleh karnanya seorang mukmin hendaklah bertakwa kepada Allah, tidak ada kemampuan untuk memberi hidayah (taufik) kepada mereka pelaku kemunkaran, hal ini selaras dengan perkataan Allah ta'ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ
wahai orang-orang beriman! jagalah dirimu; (karena) orang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapatkan hidayah. QS. Al-Imran: 105

perkataan Allah ta'ala (عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ): maknanya jagalah dirimu dari kemaksiatan. tafsir al-qurthubi

5. ilmu syarat-syarat yang harus dipenuhi pelaku nahi munkar

ibnu taimiyah telah meletakkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pelaku nahi munkar yang selayaknya memenuhi ciri-ciri tersebut sebelum ikut andil dalam kewajiban ini, diantaranya

1. bertaqwa
2. berilmu dan paham tentang hakikat kemunkaran
3. bersikap lembut/santun/ramah kepada manusia
4. sabar dan toleransi/pengertian

diterjemahkan dengan gaya bahasa sendiri oleh Atri Yuanda el-pariamany
sumber lain artikel https://www.alukah.net/sharia/0/78026/

القواعد في انكار المنكر

1. أن لا يؤدي إنكار المنكر إلى ارتكاب أعظم الضررين:

ومن الشواهد على هذا الضابط قوله تعالى﴿ يَسْأَلونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ﴾

وجه الدلالة: وإن كان قتل النفوس فيه شر، فالفتنة الحاصلة بالكفر وظهور أهله أعظم من ذلك، فيدفع أعظم الفسادين بالتزام أدناهما.

قال صاحب أضواء البيان: (يشترط في جواز الأمر بالمعروف أن لا يؤدي إلى مفسدة أعظم من ذلك المنكر لإجماع المسلمين على ارتكاب أخف الضررين)

لا يجوز إنكار منكر حتى تتيقن أنه لن ينتقل المنكر عليه إلى منكر أشد منه،

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُ الْقَوْمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " دَعُوهُ وَلَا تُزْرِمُوهُ ". قَالَ : فَلَمَّا فَرَغَ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ، فَصَبَّهُ عَلَيْهِ. متفق عليه

فيه جواز تاخير انكار المنكر لدفع الضرر الأكبر

قال الشيخ ابن عثيمين: تأخير إنكار المنكر قد يكون من باب استعمال الحكمة في الدعوة إلى الله، فقد يكون هذا الرجل الفاعل للمنكر لا يناسب أن ننكر عليه في هذا الوقت بالذات، لكن سأحتفظ لنفسي بحق الإنكار عليه، ودعوته إلى الحق في وقت يكون أنسب، وهذا في الحقيقة طريق صحيح، فإن هذا الدين -كما نعلم جميعا- بدأ بالتدرج شيئًا فشيئًا، فأقر الناس على ما كانوا يفعلونه من أمور كانت في النهاية حرامًا من أجل المصلحة، فهذه الخمر مثلًا بين الله تعالى لعباده أن فيها إثمًا كبيرًا ومنافع للناس، وأن إثمها أكبر من نفعها، وبقي الناس عليها حتى نزلت آخر آية فيها تحرمها بتاتا، فإذا رأى إنسان من المصلحة أن لا يدعو هذا الرجل في هذا الوقت، أو في هذا المكان، ويؤخر دعوته في وقت آخر، أو في مكان آخر؛ لأنه يرى أن ذلك أصلح أو أنفع، فهذا لا بأس به. اهـ. (من كتاب الصحوة الإسلامية، ضوابط وتوجيهات).

قال شيخ الإسلام: ومن أنكر ظانا أنه ينتقل، فإنه يأثم، حتى يتيقن أن إنكاره سينقل المنكر عليه إلى ما هو أفضل.

قال ابن تيمية: (لا يجوز إنكار المنكر بما هو أنكر منه

ولهذا حرم الخروج على ولاة الأمر بالسيف؛ لأجل الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر؛ لأن ما يحصل بذلك من فعل المحرمات وترك واجب أعظم مما يحصل بفعلهم المنكر والذنوب)

فقال مثلا: لو أتيت إلى أناس يلعبون لعبا محرما، أو يشتغلون بكتب مجون، فإن أنكرت عليهم ذلك، فإنه يكتنفه أحوال:

الأول: أن ينتقلوا من هذا المنكر إلى ما هو أنكر منه، فهذا حرام بالإجماع

يعني: يخرج من لهوه بالكتب إلى الاتصال بالنساء مباشرة، أو إلى رؤية النساء مباشرة، أو ما أشبه ذلك، فهذا منكر أشد منه، فبقاؤه على الأول أقل خطرا في الشريعة من انتقاله إلى المنكر الثاني.

الحال الثانية: أن ينتقل إلى ما هو خير ودين، فهذا هو الذي يجب معه الإنكار.

والثالث: أن ينتقل منه إلى منكر يساويه، فهذا محل اجتهاد.

والرابع: أن ينتقل منه إلى منكر آخر .أهـ

2. أن لا يكون إنكار المنكر بطريقة منكرة.

لابد للمنكِرِ أن يكون عارفا بحقيقة المنكر، ويختار أحسن الطرق في إزالته، وإلا كان إنكاره يحتاج إلى إنكار

وفي هذا نجد ابن تيمية يقول: (والرفق سبيل النهي عن المنكر ولهذا قيل: ليكن أمرك بالمعروف بمعروف ونهيك عن المنكر غير منكر)

3. أن يقوم بالإنكار على الوجه المشروع:
بأن يكون المنكر عالماً، رفيقاً، صابراً، حسن القصد وأن يسلك السبيل السويِّ

4. أن تكون المصلحة فيه راجحة على المفسدة.

الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر من أعظم الواجبات فلا بد أن تكون المصلحة فيهما راجحة على المفسدة،

فحيث كانت مفسدة النهي عن المنكر أعظم من مصلحته، لم يكن مما أمر الله به، وإن كان قد ترك واجباً وفعل محرماً،

إذ المؤمن عليه أن يتقي الله في عباد الله وليس عليه هداهم وهذا من معنى قوله تعالى

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ﴾[22]

قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ﴾ مَعْنَاهُ احْفَظُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ الْمَعَاصِي. تفسير القرطبي

5. العلم بشروط منكِر المنكر

وضع ابن تيمية لإنكار المنكر شروطا، ينبغي أن يتحلى بها القائم بهذا الواجب وهي:

1- التقوى.
2- العلم والفقه بحقيقة المنكر.
3- الرفق بالعباد.
4- الصبر والحلم.
selengkapnya »
Ditimpa Kesulitan, segera kembali kepada Allah dan Berdoalah

Ditimpa Kesulitan, segera kembali kepada Allah dan Berdoalah

kembali kepada Allah dan Berdoalah

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman

 أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
Bukankah  Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan. QS. An-Naml. 63

Diantara doa nabi yang dianjurkan sebagaimana di riwayatkan dari abdullah ibnu mas'ud radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alahi wa salam berkata

اللهمَّ إني أسألُك الهدى والتقى ، والعفافَ والغنى . صحيح مسلم ٢٧٢١
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu petunjuk, ketaqwaan, penjagaan dan kecukupan. shahih muslim 2721

▪قال الشيخ ابن باز رحمه الله تعالى:

هذا من جوامع الدعاء فالمؤمن يتحرى الدعوات الطيبة الجامعة ويدعو بها في سجوده وفي التحيات وفي غير ذلك سواء في الصلاة أو في خارجها لكن عن خوف وطمع، وعن رغبة ورهبة، عن انكسار، عن ذل، عن إيمان بأن الله هو الغني الحميد وهو القادر على كل شيء سبحانه وتعالى، نسأل الله للجميع التوفيق. مجموع الفتاوى لابن باز
Berkata syaikh ibnu baz rahimahullahu ta'ala:

Ini merupakan doa yang kompleks (ringkas dan padat) maka selayaknya seorang mukmin mencari doa-doa yang bagus dan kompleks dan berdoa dengan doa tersebut ketika sujud, tahyat sholat, dan ketika di luar sholat namun hendaklah dengan perasaan cemas dan penuh harap, motivasi dan takut terhadap kerugian dan kehinaan serta dengan keimanan bahwa Allah adalah maha kaya lagi maha terpuji, dia maha kuasa atas segala sesuatu, maha suci Allah dan maha tinggi, kita memohon kepada Allah untuk semuanya hidayah taufik. majmu'ul fatawa li-ibni baz

sumber https://ⓣelegram.me/alsahiha

diterjemahkan oleh Atri Yuanda El-Pariamany

selengkapnya »
Akhi Muslim, Berbuat Baiklah kepada orang Miskin

Akhi Muslim, Berbuat Baiklah kepada orang Miskin

Akhi Muslim, Berbuat Baiklah kepada orang Miskin

Berkata Syeikh sulaiman ar-ruhaily hafizahullah: berbuat baik kepada orang miskin dibarengi rasa cinta kepada mereka merupakan sebab husnul khatimah, bahkan itu adalah tanda husnul khotimah, rasulullah shallallahu alahi wa salam berkata:

من خُتم له بإطعام مسكين محتسباً على الله دخل الجنة (طبقات المحدثين بأصبهان لأبي الشيخ الأصبهاني)
barangsiap akhir hayatnya memberi makan orang miskin mengharapkan ganjaran dari Allah maka dia masuk syurga.

oleh karna itu wahai hamba Allah, cintailah orang miskin, dan dekatilah mereka, berbaurlah dengan mereka, dan jangan kamu lari menjauhi mereka yang lemah (finansial) dalam urusan dunia mereka. sesungguhnya kedekatan-mu kepada mereka akan mendekatkan kamu kepada Allah, dikarenakan, demi Allah, itu merupakan keberuntungan yang luar biasa.

diterjemahkan oleh Atri Yuanda el-pariamany

قال الشيخ سليمان الرحيلي حفظه الله: إن الإحسان إلى المساكين مع حبّهم سبب لحسن الخاتمة، بل هو دليل على حسن الخاتمة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «من خُتم له بإطعام مسكين محتسباً على الله دخل الجنة» -من خُتم له بإطعام مسكين محتسباً على الله دخل الجنة.

ألا فيا عبد الله، أَحِبّ المساكين، واقتَرِب منهم، وخالِطهم، ولا يُنفّرنّك عنهم أنهم ضعاف في دنياهم، فإن قُربك منهم يُقرّبك إلى الله، وذاك -والله- هو الفوز العظيم.
selengkapnya »
Hak seorang muslim Terhadap Muslim lainnya

Hak seorang muslim Terhadap Muslim lainnya

Setiap muslim ada hak Muslim Lainnya

hak seorang muslim kepada muslim lainnya banyak, diantaranya ada yang bersifat wajib perorangan, jika ditinggalkan maka dia berdosa, dan ada yang bersifat wajib kifayah, jika beberapa orang melakukan maka terhapuslah beban dosa yang lainnya

diantara dalil yang menjelaskan hak muslim kepada muslim lainnya adalah

عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ( حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ : رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ ) روى البخاري (1240) ومسلم (2162)
dari Abu hurairah Radhiallahu anhu dia berkata, Aku mendengar rasulullah shallallahu alahi wa salam berkata: hak seorang kepada muslim lainnya 5: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengurusi jenazah, menghadiri undangan, mendoakan orang yang bersin. (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ) قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ : قَالَ ( إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ) . رواه مسلم (2162)
dari Abu Hurairah Bahwas Rasulullah shallallahu alahi wa salam berkata: (Hak muslim kepada muslim lainnya 6) dikatakan, apa saja wahai rasulullah: Beliau Menjawab (jika kamu bertemu saudara muslim maka ucapkan salam kepadanya, jika dia mengundangmu maka hadirlah, jika dia minta nasehat maka nasehatilah dia, jika dia bersin lalu mengucapkan alhamdulillah maka doakan dia, jika dia sakit maka jenguklah dia dan jika meninggal maka bantu hadir (mengurus Jenazahnya). HR. Muslim

قال الشوكاني رحمه الله : " وَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ: (حَقُّ الْمُسْلِمِ) أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي تَرْكُهُ وَيَكُونُ فِعْلُهُ إمَّا وَاجِبًا أَوْ مَنْدُوبًا نَدْبًا مُؤَكَّدًا شَبِيهًا بِالْوَاجِبِ الَّذِي لَا يَنْبَغِي تَرْكُهُ.
Telah Berkata As-Syaukani rahimahullah: yang dimaksud dengan hak muslim, bahwasanya tidak selayaknya meninggalkan/acuhkan, karna bisa jadi itu wajib atau sunnah muakkadah yang mendekati hukum wajib sehingga tak boleh disepelekan/ditinggalkan

وَقَالَ ابْنُ بَطَّالٍ: الْمُرَادُ بِالْحَقِّ هُنَا الْحُرْمَةُ وَالصُّحْبَةُ." انتهى من "نيل الأوطار" (4/21) 
dan berkata ibnu batthol: maksud dari hak disini adalah tanggungan/hak yang wajib dikerjakan dan persahabatan. nailul author (4/21)

1. menjawab salam

" ابْتِدَاءُ السَّلاَمِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ) وَيَجِبُ الرَّدُّ إِنْ كَانَ السَّلاَمُ عَلَى وَاحِدٍ . وَإِنْ سَلَّمَ عَلَى جَمَاعَةٍ فَالرَّدُّ فِي حَقِّهِمْ فَرْضُ كِفَايَةٍ ، فَإِنْ رَدَّ أَحَدُهُمْ سَقَطَ الْحَرَجُ عَنِ الْبَاقِينَ ، وَإِنْ رَدَّ الْجَمِيعُ كَانُوا مُؤَدِّينَ لِلْفَرْضِ ، سَوَاءٌ رَدُّوا مَعًا أَوْ مُتَعَاقِبِينَ ، فَإِنِ امْتَنَعُوا كُلُّهُمْ أَثِمُوا لِخَبَرِ
memulai salam adalah sunnah muakkadah sebagaimana sabda rasulullah shallallahu alahi wa salam (tebarkan salam sesama kalian) dan wajib membalas salam jika yang dimaksud 1 orang dan jika lebih dari 1 atau rame maka hukumnya fardhu kifayah, jika salah satu orang saja menjawab maka tidak berdosa yang lainnya, dan jika semuanya menjawab maka mereka telah menunaikan yang telah diwajibkan, baik menjawab barengan atau ada yang belakangan jawabnya, namun jika semuanya ndak mau jawab salam maka semuanya berdosa.

2. menjenguk orang sakit

قال الشيخ ابن عثيمين : " عيادة المريض فرض كفاية ". "مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين" (13 /1085)
berkata syaikh utsaimin rahimahullah: menjenguk orang sakit hukumnya fardhu kifayah (majmu fatawa wa rasa'il ibnu utsaimin. 13/1085)

3. mengurus jenazah (hukumnya fardhu kifayah)

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : " ومن مات لا يزكي ولا يصلي إلا في رمضان ينبغي لأهل العلم والدين أن يدعوا الصلاة عليه عقوبة ونكالا لأمثاله ؛ لتركه صلى الله عليه وسلم الصلاة على قاتل نفسه وعلى الغالّ والمدين الذي لا وفاء له ، ولا بد أن يصلي عليه بعض الناس ... ومن مات مظهرا للفسق مع ما فيه من الإيمان كأهل الكبائر ، ومن امتنع من الصلاة على أحدهم زجرا لأمثاله عن مثل فعله كان حسنا ، ومن صلى على أحدهم يرجو رحمه الله ولم يكن في امتناعه مصلحة راجحة كان حسنا ، ولو امتنع في الظاهر ودعا له في الباطن ليجمع بين المصلحتين كان أولى من تفويت إحداهما " انتهى . "الاختيارات" (ص 80) .
dan berkata syaikhul islam ibnu taimiyah rahimahullah: barang siapa wafat tidak membayar zakat, tidak shalat kecuali di bulan ramadhan maka selayaknya para ahli ilmu dan alim ulama tidak ikut menyolatkannya sebagai hukuman dan sanksi kepada pelaku yang hidup dan serupa dengannya yang masih hidup sebagaimana nabi shallallahu alahi wa salam tidak menyolatkan orang yang bunuh diri, pengkhianat, berhutang tidak amanah/ingkar janji, namun diharuskan sebagian orang selain mereka untuk menyolatkannya, dan barang siapa mati telah jelas kefasikannya seperti pelaku dosa besar seperti tidak melaksanakan shalat dan orang yang serupa dengannya maka tidak dishalatkan oleh ahli ilmu dan alim ulama itu lebih baik. yang lain menyolati mereka, memohon rahmat Allah walau secara zhahir tidak menyolatkan namun hendaknya tetap mendoakan untuk terkumpulnya 2 maslahat yang lebih utama daripada luput salah satu dari keduanya. al-ikhtiyara't, Hal. 80

4- وأما إجابة الدعوة : فإن كانت إلى وليمة عرس فالجمهور على وجوب إجابتها إلا لعذر شرعي . أما إن كانت لغير وليمة العرس فالجمهور على أنها مستحبة ، ولكن يشترط لإجابة الدعوة ـ عموما ـ شروط 
4. menghadiri undangan
jika undangan walimah maka jumhul ulama mewajibkan hadir kecuali ada udzur syar'i seperti sakit, ada maksiat dalam acara pesta, jarak jauh dll. adapun jika selain walimah maka jumhur ulama menghukuminya sunnah akan tetapi tetap disyaratkan hadir

5. mendoakan orang bersin
dalam perkara ini, para ulama berbeda pendapat perihal hukumnya.

جاء في "الموسوعة الفقهية" (4/22) : "وَهَذَا التَّشْمِيتُ سُنَّةٌ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ . وَفِي قَوْلٍ لِلْحَنَابِلَةِ وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ هُوَ وَاجِبٌ .
وَقَالَ الْمَالِكِيَّةُ ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ بِوُجُوبِهِ عَلَى الْكِفَايَةِ . وَنُقِلَ عَنِ الْبَيَانِ أَنَّ الأَشْهَرَ أَنَّهُ فَرْضُ عَيْنٍ ، لِحَدِيثِ " كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللَّهُ " انتهى.
dalam kitab al-mausu'ah alfiqhiyyah (22/4): mendoalan orang bersin
- dalam mazhab syafii adalah sunnah
- dalam mazhab hambali dan hanafiyah adalah wajib
- dalam mazhab malikiyah dan sebagian hambali adalah fardhu kifayah

dan di nukilkan dari penjelasan bahwa yang mashyur bahwasanya fardhu ain berdasakan hadist, kewajiban setiap muslim jika dia bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, didengar muslim didekatnya maka hendaklah mengatakan yarhamukallah.

dan pendapat yang paling kuat bahwasanya wajib bagi yang mendengar ucapan alhamdulillah dari yang bersin sebagaimana terdapat riwayat shahih

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : ( إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ ، فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ ) .رواه البخاري (6223)
dari abu hurairah radhiallahu anhu bahwasanya rasulullah shallallahu alahi wa salam berkata: sesungguhnya Allah mencintai orang yang bersih dan benci orang yang menguap (dibiarkan menganga tanpa ditutup dengan tangan), maka jika bersin hendaklah dia mengucapkan alhamdulillah dan kewajiban muslim lainnya yang mendengar untuk mendoakan yang bersin. HR. Bukhari (6223)

6. Memberi nasehat

secara zhahir, hukum memberi nasehat adalah fardhu kifayah

قال ابن مفلح رحمه الله : " وَظَاهِرُ كَلَامِ أَحْمَدَ وَالْأَصْحَابِ وُجُوبُ النُّصْحِ لِلْمُسْلِمِ ، وَإِنْ لَمْ يَسْأَلْهُ ذَلِكَ ، كَمَا هُوَ ظَاهِرُ الْإِخْبَارِ .. " انتهى من "الآداب الشرعية" لابن مفلح (1/307) .
berkata ibnu muflih rahimahulah: dan yang tampak dari perkataan ahmad dan lainnya bahwa bagi seorang muslim wajib memberi nasehat walau dia tidak memintanya memberi nasehat sebagaimana yang tampak dari berbagai riwayat. al-a'dab asyar'iyyah li-ibni muflih (307/1)

وقال الملا علي القاري رحمه الله : " (وإذا استنصحك) أي طلب منك النصيحة (فانصح له) وجوباً، وكذا يجب النصح وإن لم يستنصحه " انتهى من "مرقاة المفاتيح" (5/213) .
dan berkata al-mula ali al-qa'ri rahimahullah: jika dia memintamu memberi nasehat maka harus nasehati, dan begitu juga wajib nasehati walau dia tidak minta dinasehati. mirqatul mafa'tih (213/5)

وقال الحافظ ابن حجر رحمه الله : " وَقَدْ تَبَيَّنَ أَنَّ مَعْنَى الْحَقِّ هُنَا الْوُجُوب ، خلافًا لقَوْل بن بَطَّالٍ الْمُرَادُ حَقُّ الْحُرْمَةِ وَالصُّحْبَةِ وَالظَّاهِرُ أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ هُنَا وُجُوبُ الْكِفَايَةِ " انتهى من "فتح الباري" (3/113) .
dan berkata al-hafidz ibnu hajar rahimahullah: dan telah jelas makna al-hak disini adalah wajib, berbeda dengan perkataan ibnu batthol yang mengatakan maksud dari hak adalah tanggungan/hak yang wajib dikerjakan dan persahabatan, adapun maksud zhahir disini adalah fardhu kifayah. fathul bari (113/3)

allahu a'lam

sumber bacaan islamqa.info
ditulis oleh Atri Yuanda elpariamany
selengkapnya »
Apakah shalat id ada azan dan iqamat atau lafadz assholatu ja'maah ?

Apakah shalat id ada azan dan iqamat atau lafadz assholatu ja'maah ?

Apakah shalat id ada azan dan iqamat

sudah maklum bersama bahwa shalat fardhu diawali dengan azan dan iqomat, namun bagaimana dengan shalat id pada hari lebaran idhul fitri dan idhul adha ?

pembahasan ini saya luangkan waktu membaca kembali, bahwasanya terdapat riwayat shahih yang menjelaskan permasalahan ini

روى مسلم (885) عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاةَ يَوْمَ الْعِيدِ ، فَبَدَأَ بِالصَّلاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ ، بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلا إِقَامَةٍ .
dari jabir bin abdillah berkata: saya hadir menyaksikan rasulullah shallallahu alahi wa salam  pada hari id, maka di muali dengan shalat kemudian khutbah tanpa ada azan dan iqamat. HR. Muslim (885)

وروى البخاري (960) ومسلم (886) عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيِّ قَالا : لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلا يَوْمَ الأَضْحَى . قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيُّ : لا أَذَانَ لِلصَّلاةِ يَوْمَ الْفِطْرِ حِينَ يَخْرُجُ الإِمَامُ ، وَلا بَعْدَ مَا يَخْرُجُ ، وَلا إِقَامَةَ وَلا نِدَاءَ وَلا شَيْءَ ، لا نِدَاءَ يَوْمَئِذٍ وَلا إِقَامَةَ .
dari ibnu abbas dan jabir ibnu abdillah alanshori keduanya berkata: tidak ada azan pada shalat idhul fitri dan idhul adhal. berkata jabir bin abdillah al-anshoru: tidak ada azan untuk shalat idhul fitri dan tidak ada iqomat dan tidak ada seruan lain untuk shalat. HR. Al-Bukhari (960) dan muslim (886)

maka dari hadist ini adalah dalil bahwanya tidak ada azan untuk shalat id dan tidak pula iqamat dan tidak ada seruan apapun untuk shalat. 

قال ابن قدامة رحمه الله : "وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا : يُنَادَى لَهَا : الصَّلاةُ جَامِعَةٌ . وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ . وَسُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَحَقُّ أَنْ تُتَّبَعَ" اهـ .
berkata ibnu qudamah rahimahullah: dan berkata sebagian ahlu ilmi diantara kami : seruan shalat lafadznya: assholatu ja'maha, ini adalah perkataan imam syafii, maka sunnah rasulullah shallallahu alahi wa salam yang paling berhak di ikuti (tanpa azan, iqamat dan tanpa seruan apapun itu)

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية : لا ينادى للعيد والاستسقاء ، وقاله طائفة من أصحابنا اهـ . نقله عنه في "الإنصاف" (1/428)
dan berkata syaikhul islam ibnu taimiyyah: tidak ada seruan untuk shalat id dan shalat istisqa, dan diikuti sebagian dari ahlu ilmi dari sahabat kami. di nukil dari al-inshof 1/428

وقال ابن القيم في زاد المعاد : "وَكَانَ صلى الله عليه وسلم إذَا انْتَهَى إلَى الْمُصَلَّى أَخَذَ فِي الصَّلَاةِ -أَيْ صَلاةِ الْعِيدِ- مِنْ غَيْرِ أَذَانٍ وَلا إقَامَةٍ , وَلا قَوْلِ : الصَّلاةُ جَامِعَةٌ , وَالسُّنَّةُ أَنْ لا يُفْعَلَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ اهـ .
dan berkata ibnu qayyim di kitabnya zadul ma'ad: dahulu ketika nabi sampai tempat shalat, beliau melaksanakan shalat id tanpa azan dan iqamat dan tanpa mengucapkan: ash-sholatu ja'mah, dan sunnah tidak melakukan seruan apapun.

وقال الصنعاني في "سبل السلام" عن القول بأنه يستحب أن ينادى للعيد "الصلاة جامعة" قال :  "إنه قول غَيْرُ صَحِيحٍ ; إذْ لا دَلِيلَ عَلَى الاسْتِحْبَابِ , وَلَوْ كَانَ مُسْتَحَبًّا لَمَا تَرَكَهُ صلى الله عليه وسلم ; وَالْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ مِنْ بَعْدِهِ , نَعَمْ ، ثَبَتَ ذَلِكَ فِي صَلاةِ الْكُسُوفِ لا غَيْرُ , وَلا يَصِحُّ فِيهِ الْقِيَاسُ ; لأَنَّ مَا وُجِدَ سَبَبُهُ فِي عَصْرِهِ وَلَمْ يَفْعَلْهُ فَفِعْلُهُ بَعْدَ عَصْرِهِ بِدْعَةٌ , فَلا يَصِحُّ إثْبَاتُهُ بِقِيَاسٍ وَلا غَيْرِهِ" اهـ .
dan berkata as-shon'any dalam kitab subulussalam  mengenai perkataan disunnahkan menyerukan untuk shalat id "as-sholatu ja'maha" as-shon'any berkata: bahwasanya perkataan tersebut tidak shahih, tidak ada dalil yang menyunnahkan seruan tersebut, seandainya itu sunnah lantas kenapa ditinggalkan nabi shallallahu alahi w aslam, khulafaur rasyidin dan setelahnya, dan benar shalat gerhana dengan seruan tersebut namun tidak shahih diqiyaskan dikarenakan tidak terdapat alasan penguat seruan itu dilakukan pada zamannya dan tidak pula dilakukan setelah mereka, ini bidah maka tidak layak di qiyaskan.

وسئل الشيخ ابن عثيمين : هل لصلاة العيد أذان وإقامة ؟

فأجاب : " صلاة العيد ليس لها أذان ولا إقامة ، كما ثبتت بذلك السنة ، ولكن بعض أهل العلم رحمهم الله قالوا : إنه ينادى لها "الصلاة جامعة" ، لكنه قول لا دليل له ، فهو ضعيف . ولا يصح قياسها على الكسوف ، لأن الكسوف يأتي من غير أن يشعر الناس به، بخلاف العيد فالسنة أن لا يؤذن لها ، ولا يقام لها ، ولا ينادى لها، "الصلاة جامعة" وإنما يخرج الناس ، فإذا حضر الإمام صلوا بلا أذان ولا إقامة، ثم من بعد ذلك الخطبة" اهـ . "مجموع فتاوى ابن عثيمن" (16/237) .

syaikh ibnu utsaimin pernah ditanya: apakah shalat idh ada azan dan iqamat?

beliau menjawab: shalat id tidak ada azan dan iqamat, sebagaimana sudah dijelaskan dalam sunnah, akan tetapi sebagian ahlu ilmi rahimahumullah berkata: hendaklah ada seruan shalat "as-sholatu ja'maha" akan tetapi perkataan itu tidak ada dalilnya, dikarenakan sanadnya lemah, dan tidak sahah mengkiaskan dengan shalat gerhana dikarenakan shalat gerhana tidak bisa dirasakan mayoritas manusia kedatanganya, berbeda dengan shalat id maka sunnahnya tidak ada azan dan tidak iqamat dan tidak ada seruan apapun seperti "asholatu ja'maah" dan ketika manusia keluar menuju lapangan dan ketika imam hadir berdiri untuk shalat tanpa ada azan dan iqamat kemudian dilanjutkan dengan khutbah. majmu fatawa ibnu utsaimin (16/237)
selengkapnya »
Beranda