.widget img{ max-width:100%; height:auto;}
Ahlan wa Sahlan di blog pribadi ana atriyuanda.web.id | Meniti Manhaj Salaf
Kapan Kejahilan Terhadap Tauhid Diberi Udzur ? | Syeikh Sholeh Fauzan Hafizahullah

Kapan Kejahilan Terhadap Tauhid Diberi Udzur ? | Syeikh Sholeh Fauzan Hafizahullah



Berkata Penanya : apakah ada udzur dikatakan jahil dalam pembahasan tauhid ? dan bagaimana menjawab pembahasan tauhid tentang perkataan seseorang yang beralasan mengenai kisah seorang pria yang menyuruh anaknya (ketika wafat) jasadnya dibakar , dia mengira Allah tak mampu hidupkan (agar terhindar dari adzab Allah), lalu (Allah bangkitkan dan ditanya alasannya) kemudian Allah Ampuni dia dan perkataan syeikh Muhammad bin abdil wahhab “saya tidak mengkafirkan mereka yang thawaf di kuburan di khawas.

Syaikh fauzan hafizahullah menjawab :

Wahai saudaraku, dikatakan udzur dengan kejahilan jika tidak memungkinkan baginya menghilangkan kejahilannya, tidak ada satu orangpun yang mengajarkan dia (tauhid yang benar), terisolasi dari para ulama dikarenakan tinggal di negeri nan jauh yang tidak mungkin baginya menuntut ilmu maka ini diberi udzur jahil.

Adapun seseorang yang memungkinkan baginya belajar dan bertanya kepada ulama, lalu berkata : saya ada udzur atas kejahilan, yang benar adalah anda keterlaluan (menyia-nyiakan kesempatan), tidak mau belajar, tidak mau bertanya, bagaimana diberi udzur jahil ?

Ada udzur jahil yang tidak mungkin dihilangkan dikarenakan hidup terisolasi yang tak ada satu orangpun yang mengajarkan dia, adapun orang yang hidup di masyarakat yang ada ulama, telah mendengar alquran dan hadist nabi lalu beralasan ada udzur atas kejahilan saya, tidak benar, anda yang berpaling (tak mau belajar)

Adapun yang sebelumnya, yang hidupnya terisolasi, dia bukan termasuk orang yang lalai/menyia-nyiakan kesempatan, karna tak ada yang mengajarkannya, ini diberi udzur atas kejahilannya.

Kejahilan yang tidak mungkin untuk dihilangkan maka di beri udzur adapun kejahilan yang memungkinkan untuk dihilangkan dengan belajar, bertanya kepada ulama maka ini tidak termasuk udzur, maka perlu diperhatikan dengan benar permasalahan ini.

Karena Ada diantara manusia yang bermudah-mudahan dalam perkara ini, sedikit-sedikit diberi udzur atas kejahilan dalam rentang waktu yang panjang dan secara mutlak, ini tidak benar, harus ada perincian.

Kemudian ada satu pembahasan, yaitu pembahasan samar/tak tampak yang butuh penjelasan dan syarah para ulama, ini diberi udzur sampai ada yang mengajarkannya.

Adapun permasalah yang sudah jelas, yang tidak butuh penjelasan (secara detail) seperti syirik, tauhid maka ini tidak boleh diberi udzur jahil karna ini sudah jelas,

Allah berfirman :

واعبدوا الله ولا تشرك به شيئأ
Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatu apapun. qs. An-nisa: 36

إنه من يشرك بالله فقد حرّم الله عليه الجنة
Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan syurga baginya. qs. Al-maidah: 72

لَٮِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ
Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu. qs. Az-zumar: 65

Apakah ini samar atau jelas ?, ini sudah jelas

Tauhid itu jelas, syirik itu jelas

Perkara yang jelas maka tidak diberi udzur atas kejahilannya, adapun perkara yang samar yang butuh penjelasan terperinci para ulama maka ini masih diberi udzur, maka harus diperinci udzur jahil.

Adapun perkataan syeikh Muhammad bin abdil wahhab “saya tidak mengkafirkan mereka yang menyembah patung di khawas dikarenakan tidak ada satupun yang mengajarkan mereka, adapun mereka yang tinggal ditempat ada yang mengajarkan dan menjelaskan namun tak mau bertanya dan tak mau menuntut ilmu, bagaimana mungkin diberi udzur jahil ?

translate by Atri Yuanda
selengkapnya »
Kedudukan Bibi, saudari Ibu Kandung Dalam Islam

Kedudukan Bibi, saudari Ibu Kandung Dalam Islam

Kedudukan Bibi, saudari Ibu Kandung Dalam Islam

bismillah, sholatu wa salam ala nabiyina muhammad

sahabat yang saya cintai karna Allah ta'ala, sudah tak asing lagi bagi setiap muslim dan muslimat bahwa berbakti kepada orangtua terutama ibu sangat dianjurkan dan ditekankan dalam syariat islam dan memiliki ganjaran pahala yang besar. oleh karena itu kita dituntut untuk berbakti kepada keduanya karena Allah yang perintahkan kita berbakti, tentunya berbakti dalam hal yang ma'ruf bukan memaksiati Allah dan Rasul-Nya, tetap bersikap santun walau salah dimata kita, tidak durhaka, dan mendoakan kebaikan dunia akhirat untuk ayah dan ibu.

Tahukah sahabat bahwa kita juga dianjurkan berbakti kepada bibi (saudari ibu kandung)  ?

sebagian kita mungkin beranggapan bahwa perintah berbakti hanya kepada kedua orang tua saja terkhususnya ibu dalam syariat islam, namun sebenarnya seorang bibi/tante (saudari dari ibu kandung) juga berhak untuk mendapatkan bakti dari anak saudarinya, membimbing kepada aqidah yang lurus dan mengamalkan syariat islam sesuai tuntunan rasulullah, memeliharanya, menyantuninya dan memenuhi kebutuhannya terutama ketika dia dalam keadaan kesulitan dan tak ada yang mengurusinya.

عن ابن عمر - رضي الله عنهما - قال : أنَّ رجلًا أتَى النَّبيَّ ﷺ فقالَ : يا رسولَ اللَّهِ إنِّي أصَبتُ ذنبًا عظيمًا فَهَل لي مِن تَوبةٍ ؟
قالَ : هل لَكَ مِن أمٍّ ؟، قالَ : لا
قالَ : هل لَكَ من خالةٍ ؟، قالَ : نعَم، قالَ : فبِرَّها
صححه الألباني في "صحيح الترغيب" (2504)
dari ibnu umar Radhiallahu anhuma dia berkata : bahwasanya seorang pria mendatangi nabi shallallahu alahi wa salam dan berkata : wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah melakukan dosa yang besar, apakah saya masih bisa bertaubat ?
nabi berkata : apakah ibumu masih hidup ?
dia berkata : tidak
nabi berkata: apakah bibi (saudari ibu kandung) mu masih hidup ?
dia berkata : iya
nabi berkata : maka berbaktilah kepadanya
di shahihkan syeik al-albani di shahihut tarqib (2504)

وفي رواية ابن حبان و الحاكم: هل لك والدان ؟
قال لا. قال فهل لك من خالة ؟
قال نعم . قال فبرها.
dalam riwayat ibnu hibban dan al-hakim : apakah ada kedua orangtua anda (masih hidup) ?
dia berkata : tidak
nabi berkata : apakah bibi (saudari ibu) mu masih hidup ?
dia berkata : iya
nabi berkata : maka berbaktilah kepadanya.

قال النبي -ﷺ : ( الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الْأُمِّ ) صححه الألباني في "صحيح أبي داود"
nabi shallallahu alahi wa salam bersabda : bibi (saudari ibu) kedudukannya sama seperti ibu. HR. Abu Daud, Di shahihkan Syaik al-albani

خالة الرجل من جملة محارمه ، فيجوز له أن يصافحها ، ويخلو بها ، ويسافر معها. ويجوز لها أن تكشف وجهها أمامه ، كما تفعل الأم أمام أبنائها .
bibi (saudari ibu kandung) seorang pria adalah termasuk mahramnya, maka boleh baginya untuk berjabat tangan dengan bibinya, ngobrol berdua, pergi safar dengan bibinya dan boleh bibi tersebut membuka niqab wajahnya (jika dia bercadar) dihadapan keponakan/anak saudarinya, sebagaimana seorang ibu lakukan dihadapan anak-anaknya.

semoga Allah al-latiif ar-razzaq lapangkan hati, waktu dan rezeki kita semua agar terus bisa berbakti dalam bentuk moril dan materi kepada kedua orangtua dan turut pula bisa berbakti kepada saudari-saudari dari ibu kita yang masih hidup, bentuk bakti terbesar seorang anak adalah jika mereka jauh dari agama maka berusaha membimbing kepada kemurnian tauhid dan menghidupkan sunnah nabi dengan sabar, doa dan akhlak mulia, kemudian disusul dengan perkara yang bersifat muamalat, finansial dan lainnya. allahu a'lam

semoga bermanfaat.

Ditulis oleh Atri Yuanda Elpariamany

source https://chat.whatsapp.com/CWiM84vY87H87vExn877cX | https://telegram.me/alsahiha
selengkapnya »
Kisah tentang Besarnya ganjaran pahala menutup rapat aib seseorang

Kisah tentang Besarnya ganjaran pahala menutup rapat aib seseorang

Seorang pria mendatangi desa tertentu, bertanya tentang seseorang yang dia sendiri tidak kenal

Satu persatu orang yang dia temui ditanyai tapi tak ada yang tahu, lalu berkata ke sekumpulan orang : dimanakah fulan ibnu fulan ?

Ada yang berkata : dia tinggal disana (sambil menunjuk)

Ketika dia pergi kesana, dia lihat penampilannya sederhana dan biasa-biasa saja, tidak tampak seorang ahli ibadah

Lalu didatangi dan berkata, anda fulan ibnu fulan ?

Fulan : ya

Pria : saya ingin anda memberi tahu saya tentang amalan sholeh antara anda dan Allah yang mana tak ada seorang pun yang tahu kecuali Allah

Fulan : amal apa yang anda maksudkan ?

Pria : anda punya amal sholeh rahasia, saya tak kenal anda begitu juga sebaliknya, saya datang dari tempat yang jauh, kenapa saya datang ? karna ada perkara yang saya alami berkaitan tentang anda yaitu perihal amal sholeh tersembunyi antara anda dengan Allah.

Fulan : baiklah kalau begitu, saya akan sampaikan kepada anda

Pria : oke

Fulan : saya telah menikahi wanita yang masih dekat hubungan kerabat dengan saya

Ketika aku sah telah menikahinya, tak lama kemudian istriku berkata : tutuplah aibku, semoga Allah tutup pula aibmu.

Lalu aku berkata : ada apa dengan kamu ?

Istrinya : aku telah hamil di luar nikah, jika keluargaku tahu, mereka akan langsung membunuhku, sekarang aku ada dihadapanmu, jika kamu hendak memberi tahu mereka maka lakukan, namun jika kamu tutup aibku, semoga Allah tutup pula aibmu.

Fulan : ketika itu aku diam (merenung) dan menjaga aibnya, lalu kami pindah ke negeri lain yang mana tak ada yang mengenal kami, di negeri itu aku larang istriku keluar rumah dan menemui siapapun hingga dia melahirkan.

Ketika telah lahir, aku bawa bayi (cowok) tersebut pada akhir malam ( menjelang azan subuh). Saya mendekati pintu masjid, ketika semua jamaah masuk masjid melaksanakan shalat berjamaah.

Saya letakkan bayi tersebut dibelakang pintu lalu masuk ke shaf melaksanakan sholat berjamaah.

Tak lama setelah selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah, si bayi menangis, lalu manusia berkumpul dekat bayi tersebut, (salah seorang berkata) ini bayi siapa ?, siapa yang tahu anak ini ?

Berkata si fulan tersebut kepada mereka : tidak apa-apa jika tidak ada yang tahu, berikan anak tersebut kepada saya, biar saya saja yang memeliharanya, akan tetapi kalian bersaksi bahwa ini bukanlah anakku, akan tetapi aku menemukannya di masjid.

Lalu dia bawa anak tersebut

Fulan : aku ambil dan bawa ke ibunya kembali. ini anakmu, peliharalah dia, sekarang aibmu terlindung dari pandangan manusia (tak malu keluar rumah bawa anak)

Fulan : sekarang anda sudah tahu kisah rahasia tersebut, apa yang kamu inginkan dari kejadian tersebut ?

Pria : aku bertemu Rasulullah (dalam mimpi) yang memberikan kabar gembira kepadamu dengan syurga

Allahumma sholli wa sallim ala nabiyina Muhammad

Pria tersebut jumpa nabi dalam mimpinya tentang si fulan yang diberi kabar gembira dengan syurga karena perbuatannya tersebut.

Begitu besar ganjaran menutup aib

selengkapnya »
Tidak Cukup Hafal, Harus Paham Dan Amalkan | Syeikh Sholeh Fauzan Hafizahullah

Tidak Cukup Hafal, Harus Paham Dan Amalkan | Syeikh Sholeh Fauzan Hafizahullah


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَخَصَ بِبَصَرِهِ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ قَالَ هَذَا أَوَانُ يُخْتَلَسُ الْعِلْمُ مِنْ النَّاسِ حَتَّى لَا يَقْدِرُوا مِنْهُ عَلَى شَيْءٍ فَقَالَ زِيَادُ بْنُ لَبِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ كَيْفَ يُخْتَلَسُ مِنَّا وَقَدْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ فَوَاللَّهِ لَنَقْرَأَنَّهُ وَلَنُقْرِئَنَّهُ نِسَاءَنَا وَأَبْنَاءَنَا فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَعُدُّكَ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَذِهِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ عِنْدَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فَمَاذَا تُغْنِي عَنْهُمْ قَالَ جُبَيْرٌ فَلَقِيتُ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ قُلْتُ أَلَا تَسْمَعُ إِلَى مَا يَقُولُ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ قَالَ صَدَقَ أَبُو الدَّرْدَاءِ إِنْ شِئْتَ لَأُحَدِّثَنَّكَ بِأَوَّلِ عِلْمٍ يُرْفَعُ مِنْ النَّاسِ الْخُشُوعُ يُوشِكُ أَنْ تَدْخُلَ مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَلَا تَرَى فِيهِ رَجُلًا خَاشِعًا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَمُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ ثِقَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا تَكَلَّمَ فِيهِ غَيْرَ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ نَحْوُ هَذَا وَرَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 Telah bercerita kepada kami [Abdullah bin Abdurrahman] telah mengabarkan kepada kami [Abdullah bin Shalih] telah menceritakan kepada kami [Mu'awiyah bin Shalih] dari [Abdurrahman bin Jubair bin Nufair] dari [bapaknya, Jubair bin Nufair] dari [Abu Ad Darda'] dia berkata; Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menengadahkan pandangannya ke langit kemudian berkata; 

"Inilah saatnya ilmu dicabut dari manusia sehingga mereka tidak mampu mengetahui darinya sama sekali", maka Ziyad bin Labid Al Anshari bertanya; 'Bagaimana ilmu dicabut dari kami, padahal kami membaca Al Qur'an? Demi Allah, kami pasti akan membacanya dan membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami.'

Maka beliau berkata: "alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, sesungguhnya aku menganggapmu termasuk orang yang faqih di Madinah, inilah kitab Taurat dan Injil milik Yahudi dan Nashrani maka apakah bermanfaat bagi mereka?" Jubair berkata; Kemudian aku bertemu dengan [Ubadah bin Ash Shamith], maka aku bertanya; 'Tidakkah kamu mendengar sesuatu yang dikatakan saudaramu yaitu Abu Ad Darda'? ' Maka aku memberitahukan kepadanya apa yang dikatakan oleh Abu Ad Darda'. 

Dia berkata; 'Abu Ad Darda' benar, jika kamu berkehendak sungguh pasti aku ceritakan kepadamu tentang ilmu yang pertama kali akan diangkat dari manusia yaitu Al Khusyu' (rasa khusyu') hampir-hampir kamu masuk ke dalam masjid jami' namun kamu tidak melihat seorang pun di dalamnya orang yang khusyu'.' Abu Isa berkata; 'Hadits ini hasan gharib. Mu'awiyah bin Shalih adalah seorang yang tsiqah menurut para ahli hadits, dan kami tidak mengetahui ada seorang pun yang berbicara tentang dia kecuali Yahya bin Sa'id Al Qaththan, dan telah diriwayatkan dari Mu'awiyah bin Shalih hadits yang semakna dengan ini, sedangkan sebagian perawi yang lain telah meriwayatkan hadits ini dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari bapaknya dari Auf bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam." Sunan Tirmidzi. 2577

syarah hadist oleh syeikh fauzan hafizahullah

baiklah, hadist ini selaras dengan hadist sebelumnya (yang telah dibahas) bahwasanya ilmu (yang pertama kali) diangkat adalah mengetahui dan memahami (yang benar) isi kandungan alquran dan sunnah nabi-Nya Shallallahu alahi wa salam.

padahal alquran dan hadist sudah ada namun sedikit yang mengerti dan paham, banyak yang telah menghafal dan membacanya, ada yang bisa membacanya dengan 10 macam qira'ah, menguasai dalam bacaan dan tajwid, namun tidak paham alquran walau 1 ayat, seperti alat elektronik pemutar suara, tahu apa itu pemutar suara ? yaitu kamu hidupkan lalu lantunan bacaan alquran terdengar, hanya sebatas alat yang menyimpan alquran namun tidak paham.

seseorang dituntut paham agama Allah dan beramal, walau dia belum hafal alquran, pemahaman agama diberikan Allah kepada yang dia kehendaki

من يريد الله به خيرا يفقهه في الدين
"barangsiapa yang Allah berkehendak kebaikan kepadanya maka dia berikan pemahaman agama (yang benar)". Mu'jam Thabarani Kabir jilid 19 halaman 386 hadis nomor 16576

anda tidak dituntut hafal nash saja namun yang paling di tuntut adalah anda paham maksud (sebenarnya) sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'ala inginkan yaitu mengerti maknanya dan mengamalkan, ini namanya paham. ini yang dikehendaki.

adapun menghafal alquran, shahih bukhari-muslim, sunan al-arba', musnad ahmad hanya sebatas hafal namun tak paham, itu tidak cukup, harus di telaah juga maka itu lebih baik, tidak bermanfaat hafal tanpa dibarengi pemahaman (yang benar)

bukan tauladan (dituntut) hanya hafal saja tapi juga harus mengerti dan paham, dan bukan tauladan (dituntut) hanya faham saja namun harus dibarengi dengan perbuatan, ini seharusnya dilakukan.

berilmu dan beramal, itu yang dituntut namun jika tidak (sebaliknya) maka (dikhawatirkan) seperti ahlul kitab yang sesat dan mereka di laknat Allah, ada yang dirubah bentuk menjadi kera dan babi padahal mereka sudah diberikan taurat dan injil.

sebagaimana firman Allah

وَكَيْفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِندَهُمُ التَّوْرَاةُ فِيهَا حُكْمُ اللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوْنَ مِن بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ
"dan bagaimana mereka akan mengangkatmu (muhammad) menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, nanti mereka berpaling (dari putusanmu) setelah itu? sungguh, mereka bukan orang-orang yang beriman. QS. Al-Maidah: 43

kalau mereka benar-benar berhukum dengan hukum taurat dan injil, maka pasti mereka mengikut muhammad rasulullah shallallahu alahi wa salam, karena taurat dan injil memerintahkan mereka mengikuti muhammad rasulullah shallallahu alahi wa salam, namun realitanya mereka tidak berhukum dengan hukum taurat dan injil padahal mereka membaca dan ada yang hafal akan tetapi tidak paham dan tidak pula diamalkan, hal tersebut tidak memberi manfaat kepada mereka.

didalamnya terdapat anjuran untuk memahami al-qur'an dan sunnah rasulullah shallallahu alahi wa salam, tidak cukup hafal saja namun juga harus paham dan diamalkan, harap diperhatikan ini.

baiklah, sebagian manusia, sebagian pemuda semoga Allah berikan mereka pemahaman agama yang benar, ada yang mengatakan saya hafal bukhari, ketika ditanya 1 permasalahan dalam bab fiqh namun tidak mampu dia jawab, ini disebabkan ketidakpahamannya, tidak paham maknanya dan tidak pula belajar kepada ulama (yang benar pemahamannya) yang telah mensyarah dan memberi penjelasan.

diterjemahkan oleh Atri Yuanda elpariamany
selengkapnya »
Mengenal Istilah-Istilah dalam Ilmu Hadist

Mengenal Istilah-Istilah dalam Ilmu Hadist

Mengenal Istilah-Istilah dalam Ilmu Hadist

Allah azza wa jalla telah mengutus nabinya muhammad shallallahu alahi wa salam dengan petunjuk dan agama yang hak, diturunkan kepadanya al-quran al-karim sebagai petunjuk yang Allah ta'ala jaga dari perubahan, penyelewengan, penambahan dan pengurangan, sebagaimana Allah ta'ala telah berfirman dalam alquran

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
sesungguhnya kamilah yang menurunkan az-zikra dan pasti kami (pula) yang memeliharanya. QS. al-hijr. 9

selain alquran, pedoman kedua umat islam adalah hadist nabi sebagai pensyarah alquran dan menjelaskan tentang aqidah, tatacara ibadah, muamalah dll , sebagaimana Allah telah berfirman

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
dan kami turunkan adz-dzikr (alquran) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. (QS. An-Nahl. 44)

untuk mempelajari kandungan al-qur'an maka hadist nabi berperan besar dalam hal mensyarahnya.

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلاّ لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدىً وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
dan kami tidak menurunkan kitab (al-qur'an) ini kepadamu (muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. An-Nahl. 64)

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ (4)
dan tidaklah yang diucapkannya itu (alquran) menurut keinginannya, tidak lain (alquran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). An-Najm. 3-4

as-sa'dy rahimahullah berkata dalam tafsirnya: ini menunjukkan bahwa sunnah (hadist) merupakan wahyu dari Allah kepada rasulnya shallallahu alahi wa salam

قال الحافظ ابن رجب : " فأقامَ اللّهُ تعالى لحفظِ السُّنَّةِ أقواماً ميَّزوا ما دخلَ فيها من الكذبِ والوهم والغلطِ ، وضبطُوا ذلكَ غايةَ الضبطِ ، وحفظوه أشدَّ الحفظِ ". انتهى ، "تفسير ابن رجب الحنبلي" (1/605).
berkata alhafidz ibnu rajab: maka Allah ta'ala tetapkan sekelompok kaum untuk menjaga sunnah untuk menyaring, membeda-bedakan sehingga tidak tercampur di dalamnya kedustaan, ilusi/kesan palsu/sangkaan lemah dan kekeliruan/tidak benar, dan menjaganya dengan cermat dan teliti dengan segala upaya yang maksimal dan menghafalnya dengan sangat luar biasa penjagaan. tafsir ibnu rajab alhambaly (1/605)

oleh karena itu seorang muslim tidak boleh mencukupkan diri mempelajari dan mengamalkan islam hanya alquran saja tapi juga hadist nabi yang shahih berdasarkan pemahaman salafus shalih terdahulu.


pada artikel ini dibahas mengenai istilah-istilah ilmu hadist yang disusun para ulama salaf sebagai kaedah untuk para penuntut ilmu agar lebih mudah memahami penjelasan para ulama hadist.

dalam mempelajari hadist sebagian kita mungkin pernah mendengar dalam sebuah kajian atau cerama yang mengatakan silahkan merujuk kepada kutubus sittah (6 imam pemilik kitab kumpulan riwayat hadist), kutubut tis'ah atau pernah membaca pada akhir matan tertulis rowahu (diriwayatkan oleh) ashhabus sunan, akh'rajahu (dikeluarkan oleh) sittah.

penggunaan istilah kutub / kitab / ashabu/rawahu / akhrajahu maksudnya sama yaitu mengarah kepada imam-imam hadist yang mengumpulkan hadist ke dalam kitab-kitab hadist mereka, seperti :

- shahihain (صحيحين) / muttafaqun alahi (متفق عليه) / riwayat bukhari muslim (رواه البخاري و مسلم) : maksudnya bukhari dan muslim

imam asy-syuyuthi rahimahullah dalam kitabnya "tadribur ra'wi" : jika dikatakan shahih muttafaqun alahi atau muttafaqun ala sihhatihi maka maksudnya kedua syaikh yaitu imam bukhari dan muslim sepakat, bisa jadi suatu hadist disepakati oleh bukhari muslim dalam hal periwayatan dari 1 jalur sahabat yang sama atau dari 2 jalur yang sama atau sama-sama dari jalur sahabat nabi yang banyak. bukan maksudnya para perawi dalam sanad hadist sepakat dalam hal lafadz dan makna namun terkadang lafadznya berbeda.

jadi maksud dari muttafaqun alahi adalah hadist yang di riwayatkan imam bukhari dan muslim lalu dicantumkan dalam kitab mereka berdua baik itu sepakat dalam hal lafadz atau berbeda lafadznya, namun yang terpenting sepakat dalam hal maknanya. (islamweb.net)

- akhrajahu as-tsalasah (أخرجه الثلاثة)  / rawahu as-tsalasah (رواه الثلاثةmaksudnya adalah 3 sumber riwayat hadist dalam kitab sunan abu daud, sunan an-nasa'i dan sunan attirmidzi

- ashhabus sunnan (أصحاب السنن) / akhrajahu al-arba'ah (أخرجه الأربعة) / rawahu al-arba'ah (رواه الأربعة) : maksudnya adalah 4 sumber riwayat hadist dalam kitab sunan abu daud, sunan at-tirmidzi, sunan an-nasa'i, sunan ibnu majah

akhrajahu al-khamsah (أخرجه الخمسة) / rawahu al-khamsah (رواه الخمسة) : maksudnya adalah 5 sumber riwayat hadist dalam kitab ashabus sunan dan musnad ahmad

- akhrajahu sittah (أخرجه الستة) / kutubus sittah (كتب الستة) maksudnya adalah 6 sumber riwayat hadist dalam kitab shahihain dan ashhabus sunan

- rawahu al-jamaah (رواه الجمعة) / kutubus sab'ah (كتب السبعة) / akhrajahu as-sab'ah (أخرجه السبعة) maksudnya adalah 7 sumber riwayat hadist dalam kitab shahihain, ashhabus sunan dan musnad ahmad

- akhrajahu at-tis'ah (أخرجه التسعة) / kutubut tis'ah (كتب التسعة) : maksudnya adalah hadist yang diriwayatkan oleh 9 imam yaitu di dalam kitab shahihain, ashhabus sunan, musnad imam ahmad, muwatto imam malik dan sunan ad-darimy

Penjelasan tentang hadist, khabar, atsar, dan hadist qudsi

hadist : apa saja yang disandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam berupa ucapan atau perbuatan atau ketetapan atau pensifatan.

khabar : apa yang disandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam dan kepada selainnya sehingga ini lebih bersifat umum dan lebih luas dari hadist

atsar : apa saja yang disandarkan kepada shahabat nabi atau tabiin, dan terkadang yang diinginkan menyandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam dalam bentuk terbatas.

seperti: dan dalam atsar dari nabi shallallahu alahi wa salam.

para ulama hadist juga menggunakan istilah lain dari kata hadist dengan penyebutan sunnah, khabar dan terkadang memakai istilah atsar.

al-hadist al-qudsi : ungkapan yang diriwayatkan nabi shallallahu alahi wa salam dari rabbnya namun dengan lafadz dari nabi sendiri

hadist qudsi nama lainnya al-hadist ar-rabbani dan al-hadist al-ilahy

seperti perkataan rasulullah shallallahu alahi wa salam yang beliau riwayatkan dari Allah ta'ala Rabb-nya, bahwasanya nabi berkata:

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
"Allah 'azza wajalla berfirman; 'Bagi hamba-Ku adalah sebagaimana perasangkanya kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." HR. Muslim. 4851

kedudukan antara hadist qudsi, hadist nabawi dan alquran

1. alquran : disandarkan kepada allah ta'ala lafadz dan makna

2. hadist nabawi : disandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam lafadz dan makna

kecuali perkara yang tidak diketahui oleh nabi shallallahu alahi wa salam, tidaklah dia berbicara melainkan berdasarkan wahyu seperti kabar tentang perkara qaib di masa akan datang dan seperti kejadian dalam hadist yang diriwayatkan oleh ya'la bin umayyah mengenai seseorang yang bertanya kepada nabi shallallahu alahi wa salam tentang apakah diharamkan umrah dalam keadaan memakai wewangian ? lalu nabi shalallahu alahi wa salam diam sejenak sampai datang kepadanya wahyu mengenai pertanyaan tersebut. dalam kondisi ini hadist nabawi juga maksudnya disandarkan kepada nabi shallallahu alahi wa salam lafadz namun maknanya tidak.

teks hadist secara lengkap tentang hukum pake wewangian ketika umrah

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ أَنَّ صَفْوَانَ بْنَ يَعْلَى بْنِ أُمَيَّةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ يَعْلَى كَانَ يَقُولُ لَيْتَنِي أَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يُنْزَلُ عَلَيْهِ قَالَ فَبَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجِعْرَانَةِ وَعَلَيْهِ ثَوْبٌ قَدْ أُظِلَّ بِهِ مَعَهُ فِيهِ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ إِذْ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ عَلَيْهِ جُبَّةٌ مُتَضَمِّخٌ بِطِيبٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي رَجُلٍ أَحْرَمَ بِعُمْرَةٍ فِي جُبَّةٍ بَعْدَمَا تَضَمَّخَ بِالطِّيبِ فَأَشَارَ عُمَرُ إِلَى يَعْلَى بِيَدِهِ أَنْ تَعَالَ فَجَاءَ يَعْلَى فَأَدْخَلَ رَأْسَهُ فَإِذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْمَرُّ الْوَجْهِ يَغِطُّ كَذَلِكَ سَاعَةً ثُمَّ سُرِّيَ عَنْهُ فَقَالَ أَيْنَ الَّذِي يَسْأَلُنِي عَنْ الْعُمْرَةِ آنِفًا فَالْتُمِسَ الرَّجُلُ فَأُتِيَ بِهِ فَقَالَ أَمَّا الطِّيبُ الَّذِي بِكَ فَاغْسِلْهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَأَمَّا الْجُبَّةُ فَانْزِعْهَا ثُمَّ اصْنَعْ فِي عُمْرَتِكَ كَمَا تَصْنَعُ فِي حَجِّكَ 
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim Telah menceritakan kepada kami Ismail Telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij katanya, Telah menceritakan kepadaku 'Atha", bahwasanya Shafwan bin Ya'la bin Umayyah mengabarinya, Ya'la berujar; "Sekiranya aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika wahyu diturunkan kepadanya! Katanya, maka ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada di Ji'ranah yang ketika itu beliau dinaungi dengan sebuah kain bersama beberapa orang sahabatnya, tiba-tiba seorang arab pedusunan (badui,) yang memakai jubah beraroma minyak wangi menemuinya dan bertanya; "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berihram untuk umrah dengan jubah setelah diberi wewangian? Umar lantas memberi isyarat kepada Ya'la dengan tangannya yang pesannya; "Kemari". Ya'la kemudian datang dan memasukkan kepalanya. Serta merta wajah Rasulullah memerah dan naik darah beberapa saat, kemudian reda. Kata beliau: "Mana si arab badui yang bertanya tentang Umrah? Ia pun kemudian dicari dan didatangkan. Lalu Nabi bersabda: "Wewangian yang ada padamu, tolong cucilah tiga kali, adapun jubah, maka tanggalkanlah, kemudian lakukan dalam umrahmu sebagaimana kamu lakukan dalam hajimu." HR. Bukhari. 3984

3. hadist al-qudsi : disandarkan kepada Allah ta'ala makna bukan lafadz (lafadznya dari nabi)

catatan tentang hadist qudsi

  1. membaca hadist qudsi lafadznya berbeda dengan alquran yang punya keutamaan dan bernilai pahala setiap hurufnya jika dibaca
  2. hadist qudsi tidak dibaca dalam sholat untuk menggantikan alquran
  3. tidak ada pertentangan di dalamnya
  4. periwayat hadist qudsi tidak mutawatir sebagaimana alquran
  5. hadist qudsi ada yang shahih, dhaif/lemah bahkan palsu
bersambung.......

ditulis oleh Atri Yuanda elpariamany

referensi bacaan
mustalahul hadist ibnu utsaimin rahimahullah
islamqa.com
carihadis.com
dll
selengkapnya »
Kelak, Setiap Kita menghadap Allah ta'ala tanpa penerjemah

Kelak, Setiap Kita menghadap Allah ta'ala tanpa penerjemah

Pada hari kiamat nanti, dikatakan kepada fulan ibnu fulan kemarilah menghadap Allah

Sebagaimana nabi katakan dalam hadist shahih

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ ربه، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ 
Tidak ada satu orangpun dari kalian melainkan dia akan diajak bicara oleh Allah (secara langsung), diantara dia dengan Allah tidak ada (tidak butuh) penerjemah. HR. Bukhari dan muslim

Apa yang sudah kamu persiapkan ketika (kelak) berada pada posisi tersebut ?

Dengan wajah bagaimanakah kamu akan menghadap Allah ?

Jika Allah memanggilmu untuk berdiri menghadap-Nya, lalu bertanya tentang amalan mu dan menghitung dari lembaran catatan amalmu.

Apakah anda selalu mengingat-ingat kelak akan berdiri dihadapan Allah pada hari kiamat ?

Seorang manusia jika selalu mengingat-ingat posisi tersebut, keluar dari hatinya kecintaan yang berlebihan terhadap dunia (yang hina dan fana)

Oleh karena itu, Allah ta’ala katakan

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ 
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya. QS. Annaziat. 40

Maka seorang manusia jika selalu mengingat bahwa dia kelak akan bertemu dan menghadap Allah, dia akan menahan diri memperturuti hawa nafsunya (yang mendatangkan murka Allah)

selengkapnya »
Beranda