.widget img{ max-width:100%; height:auto;}
Ahlan wa Sahlan di blog pribadi ana atriyuanda.web.id | Meniti Manhaj Salaf
Meluruskan Fakta Sejarah Abul Hasan Al-Asy'ari, Asya'iroh harus tahu

Meluruskan Fakta Sejarah Abul Hasan Al-Asy'ari, Asya'iroh harus tahu


Penanya: apa perbedaan asya'irah dengan ahlussunnah
nama lain ahlussunnah : ahlu hadist dan juga salafiyyun
asyairah adalah sekte yang disandarkan kepada (namanya) ali bin ismail, abul hasan al-asya'ri.
nasabnya bersambung kepada sahabat nabi (namanya) abu musa al-asy'ari

abul hasan al-asya'ri lahir dalam keadaan yatim (ayahnya meninggal ketika dia masih kecil)
ibunya menikah lagi dengan pria lain namanya abu ali al-jubba'i, abu ali al-jubba'i adalah pembesar sekte mutazilah pada masa itu. abu ali al-jubba'i yang mendidik anak istrinya abul hasan al-asya'ri ali bin ismail.

abul hasan al-asya'ri tumbuh kembang dilingkungan mutazilah hingga dia dewasa, ketika usianya sudah 40 tahun, beliau dikenal cerdas dan bijak

pada usia 40, mulai meragukan di banyak perkara pada aqidah mutazilah, dahulu dia pernah dengar dari seseorang yang namanya dikenal abdullah bin said ibnu kullab

beliau abdullah bin said ibnu kullab aqidahnya antara mutazilah dan ahlussunnah

ideologinya banyak mempengaruhi abul hasan al-asya'ri dan  beliau condong kepadanya (abdullah bin said) akan tetapi abul hasan al-asya'ri berbeda pandangan pada beberapa perkara abul hasan al-asya'ri tinggalkan aqidah mutazilah dan mengikuti aqidahnya abdullah bin said yang dikenal dengan sekte kullabiyah

abul hasan al-asya'ri mengikuti aqidahnya abdullah bin said dalam beberapa masa (tidak diketahui) kemudian beliau tinggalkan

abul hasan punya cara pandang sendiri yang beliau sampaikan dihadapan manusia (dikenal banyak orang dan suaranya didengar)

abul hasan seorang penceramah dan intelektual (terpelajar) sehingga manusia banyak menyukainya pada zaman tersebut, dan abul hasan condong dengan ideologi barunya (yang dicetuskannya) menyelisihi mutazilah dan kullabiyah.

ketika itu beliau belum mengenal aqidah ahlussunah kemudian setelah itu beliau mendapati kitab imam ahmad ibnul hambal rahimahullah ta'ala.

ketika beliau sibuk membaca (mentelaah) maka beliau sadar bahwa inilah aqidah umat islam lalu beliau rujuk dari pemahaman sebelumnya dan mengikuti apa yang ditulis oleh imam ahmad rahimahullah.

abul hasan al-asya'ri kembali kepada aqidah ahlussunnah dan istiqomah hingga beliau wafat lalu beliau menulis 2 kitab (al-ibanah ala' ushulud diyanah dan al-maqolat al-islamiyah).

pada 2 kitab ini beliau menegaskan berada pada aqidah ahlussunnah wal jamaah walau ada beberapa perkara masih terpengaruh aqidah sebelumnya yang belum beliau ketahui dari aqidah ahlussunnah, jika tidak, maka akan sepenuhnya mengikuti aqidah ahlussunnah.

barangsiapa yang mengaku asya'irah (mengikuti abul hasan) pada zaman ini, mereka mengikuti aqidah abul hasan sebelum kembali kepada aqidah ahlussunnah dan mengingkari taubatnya abul hasan dari aqidah sebelumnya dan kembali kepada aqidah ahlussunnah. padahal kitab beliau yang ada sekarang ini mempertegas aqidah ahlussunnah wal jamaah, namun mereka menyelisi abul hasan al-asyari

faktanya asya'irah sekarang, sedikitpun tidaklah mengikuti abul hasan al-asyari akan tetapi mengikuti aqidahnya rozi, ibnu fauroq, al-bakilany dan lainnya.

walau aqidahnya al-bakilani lebih sedikit penyimpangannya dari ibnu fauroq dan arrozi
asya'iroh pada zaman ini lebih tepat disebut arraziun atau fauroqiyun, mereka sama sekali tidak mengikuti abul hasan asya'ri, abul hasan al-asya'ri beraqidah ahlu sunnah bukan beraqidah asya'iroh.

yang ada pada zaman ini, asya'iroh menyelisihi ahlussunnah dalam hal aqidah walau ada beberapa yang sejalan dengan aqidah ahlussunnah seperti mengatakan dengan baik tentang sahabat nabi namun menyelisihi dalam perkara wajib bagi mukallaf (yang dibebani syariat), mengingkari aqidah asma wa sifat, mengingkari uluhiyah Allah yang istiwa di atas arsy, mengingkari kaum mukminin melihat Allah pada hari kiamat, pengingkaran dalam bab imam dan banyak lagi, hingga dalam hal takfir menyelisihi ahlussunnah.

tidak diragukan, asyairoh adalah salah satu sekte yang dikabarkan nabi akan terpecah umat ini menjadi 73 sekte (golongan), akan tetapi sekte asya'roh merupakan sekte yang paling dekat dengan ahlussunnah, karna mereka lebih baik dari syiah rafidhoh, khawarij, mutazilah, jahmiyah dan dari sekte lainnya.

akan tetapi kullabiyah lebih dekat kepada aqidah ahussunnah daripada asya'roh sekte kullabi, saya tak tahu ada yang mengikutinya saat ini.

asyairoh lebih dekat dengan ahlussunnah kemudian sekte matrudiyah, kemudian menjauh dan menjauh penyimpangan aqidah pada sekte yang lainnya.

jadi yang benar, asya'iroh bukan bagian dari ahlussunnah akan tetapi mereka termasuk bagian dari kaum muslimin, mereka muslim bukan kafir akan tetapi mereka adalah sekte bidah yang menyimpang. wallahu a'lam

diterjemahkan oleh Atri Yuanda
selengkapnya »
Sholat jahr apakah makmum membaca alfatihah atau cukup imam ?

Sholat jahr apakah makmum membaca alfatihah atau cukup imam ?


jika imam sholat memberikan anda kesempatan membaca alfatihah
diam sejenak agar makmum bisa membaca alfatihah
maka bacalah alfatihah pada waktu jeda tersebut

jika..... sabar (menanggapi si penanya)
dan jika imam tidak memberikan anda kesempatan membaca alfatihah
yaitu membaca tidak bersambung dengan ayat berikutnya
berhenti setelah membaca 1 ayat

alhamdulillahi robbil a'lamin kemudian imam diam sejenak
arrahmanirrahim kemudian diam sejenak
maliki yaumiddin kemudian diam sejenak
berhenti pada awal ayat yang sudah dibaca
pada keadaan ini, makmum membaca alfatihah pada jeda waktu tersebut

yaitu, jika imam membaca alhamdulillahirrabbil a'lamin
kemudian diam sejenak, maka makmum membaca juga di waktu jeda tersebut

jika imam ucapkan arrahmanirrahim maka makmum juga ucapkan di waktu
jeda imam, hingga imam selesai dan makmum juga selesai baca

jika imam tidak memberikan kesempatan makmum baca alfatihah
dan membaca ayat bersambung dengan cepat, waktu jeda sangat singkat
membaca 1 nafas pada 1 ayat atau 2 ayat
tidak ada peluang membaca ikuti imam
pada keadaan ini, terjadi diskusi diantara para ulama

sebagian ulama bahkan kebanyakan menyatakan bahwa bacaan imam sudah cukup
pada sholat jahriyyah (bacaan dikeraskan)
bacaan imam sudah cukup, sebagaimana pada mazhab malik, ahmad, dan abu hanifah

dan sebagian ulama mengharuskan makmum juga membaca
walau imam sudah baca alfatihah, makmum juga harus baca alfatihah
ini pada mazhab syafii, semoga Allah merahmati mereka semua para ulama

untuk kehati-hatian maka imam tetap membaca alfatihah (jika memungkinkan)
jika tidak bisa maka in sya allah tidak apa-apa
sempurnakan pertanyaan (kepada si penanya)
(suara penanya kurang jelas)

syeikh menjawab: ya....., tidak

diterjemahkan oleh Atri Yuanda
selengkapnya »
Terus bermaksiat karna sudah takdir Allah, benarkah ???

Terus bermaksiat karna sudah takdir Allah, benarkah ???



Telah terjadi percakapan antara adam dan musa sebagaimana dikisahkan oleh nabi Muhammad yang mulia shallallahu alahi wa salam

Nabi shallallahu alahi wa salam berkata: nabi musa protes kepada adam, dia berkata: engkau penyebab kami dan anda dikeluarkan dari syurga, kenapa anda makan buah pohon tersebut ?

Kemudian adam menjawab: wahai musa, bukankah Allah telah turunkan kepada anda taurat?

Musa menjawab: benar.

Adam berkata: tahukah anda kejadian yang saya alami telah tercatat sebelum saya diciptakan ?

Karena ini terdapat di dalam taurat dan juga al-quran

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ‌ۚ
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauh Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. (QS. Hadid: 22)

Bagaimana menurutmu, bukankah tertulis di kitab taurat ?

Musa menjawab: benar

Adam berkata: maka jangan mencelaku atas kejadian yang telah Allah takdirkan terhadapku

Nabi musa terdiam, lalu nabi Muhammad berkata : adam mengalahkan musa dalam berhujjah

Seseorang dibolehkan menyandarkan kepada takdir kepada musibah yang telah berlalu seperti kesalahan terhadap sesuatu, kerugian, dosa.

Lalu berkata
قدر الله وما شاء فعل
Ini adalah takdir Allāh, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan

akan tetapi saya diliputi rasa duka cita sehingga butuh nasehat

Akan tetapi tidak boleh beralasan dengan takdir atas perbuatan tercela, seseorang yang terus melakukan kerusakan, terus melakukan maksiat lalu berkata: Allah telah mentakdirkan aku untuk terus melakukan perbuatan tercela (kesalahan, maksiat, dosa dll) ini.

Ini ucapan dusta, seseorang tidak tahu perkara qaib tentang takdir yang akan terjadi

Takdir Allah bersifat gaib, maka tidak sepantasnya seseorang menyandarkan kepada takdir atas perbuatan tercela yang dia terus lakukan. Perbuatan ini tidak dibolehkan.

Namun yang benar adalah menyandarkan kepada takdir atas perbuatan/kejadian/musibah yang telah berlalu lalu dia menyesali dan bertaubat,atau bersabar atasnya dan segala keadaan yang telah terjadi.

bagaimanapun, menyandarkan kepada musibah yang telah terjadi dibolehkan namun bukan perbuatan tercela yang terus dilakukan

diterjemahkan oleh Atri Yuanda Elpariamany
selengkapnya »
5 sudut pandang perihal perayaan maulid nabi shallallahu alahi wa salam

5 sudut pandang perihal perayaan maulid nabi shallallahu alahi wa salam


Perayaan maulid nabi pada hakikatnya harus kita teliti dari 5 sudut pandang

1. Bahwa nabi shallallahu alahi wa salam tidak pernah merayakan kelahirannya pada hari ini, sama sekali tidak pernah selama hidupnya, tidak ada riwayat shahih bahkan dhoif sekalipun bahwa nabi shallallahu alahi wa salam melakukan perayaan hari kelahirannya pada hari ini.

2. Begitu juga para sahabat nabi, abu bakar, utsman bin affan, ali bin abi thalib, alhasan, daulah umawiyah, daulah abbasiyah, tidak ada satupun riwayat dari mereka semua selamanya. Mereka manusia yang paling semangat melakukan kebaikan/amal sholeh,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ 
“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Qs. Al Ahqaf: 11

3. hadist nabi

أنَّ النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " ما تركت شيئاً يقربكم إلى الله والجنة إلا و أمرتكم به ، وَلَا تَرَكْتُ شَيْئًا يباعدكُمُ عَن اللهُ و يقربكم إلى النار ، إِلَّا وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ. السنن الكبرى للبيهقي 
Bahwasanya nabi shallallahu alahi wa salam berkata: tidaklah aku tinggalkan kebaikan walau 1 sekalipun yang mendekatkan kalian kepada Allah dan ke syurganya melainkan telah aku perintahkan kalian untuk laksanakan, dan tidaklah aku biarkan walau 1 sekalipun yang menjauhkan kalian dari Allah dan mendekatkan kalian kepada neraka kecuali telah aku larang kalian melakukannya. Sunan al-kubro lil-baihaqi

Dan hal ini (perayaan maulid) tidak pernah nabi kabarkan, kalau ini baik tentu telah beliau jelaskan hal tersebut.

4. bahwasanya tidak diketahui secara pasti tanggal lahir nabi shallallahu alahi wa salam, sampai kapan pun itu. Siapa pun yang beranggapan bahwa di tanggal ini rasulullah dilahirkan, sesungguhnya dia tidak punya dalil sama sekali. Selamanya tidak ada sama sekali

Para ulama berselisih pendapat perihal tanggal kelahiran nabi shallallahu alahi wa salam hingga 7 atau 8 pendapat, mereka tidak tau pasti kapan nabi shallallahu alahi wa salam lahir.

Walaupun ada pendapat terbanyak bahwa nabi lahir pada tanggal 12 rabiul awal akan tetapi pendapat ini tanpa tegak diatas dalil. Hanya bersumber dari mulut ke mulut di masyarat akan tetapi dalilnya tidak valid, oleh karna itu tidak ada ulama yang memutuskan secara tegas pada tanggal 12 rabiul awal nabi dilahirkan.

5. Dan perkara yang lebih besar lagi bahwa para ulama sepakat pada tanggal 12 rabiul awal adalah hari wafatnya nabi shallallahu alahi wa salam, seakan-akan kita merayakan hari wafatnya nabi, wa iyazubillah.

Para pakar sejarah dan pakar hadist sepakat bahwa nabi wafat pada hari senin tanggal 12 rabiul awal, kesimpulannya adalah merayakan hari wafatnya nabi shallallahu alahi wa salam, wa iyazubillah. inilah fakta sebenarnya, merayakan kematian nabi dan seolah-olah bahagia nabi shallallahu alahi wa salam wafat, perbuatan ini hakikatnya tidak dibenarkan.

Merayakan maulid nabi pada asalnya harus ditinggalkan, barangsiapa ingin merayakan kelahiran nabi maka hendaklah dilakukan setiap hari (mengerjakan perintah, meninggalkan larangannya dan menghidupkan sunnahnya sebagaimana perayaan hari ibu, harus dijadikan hari ibu setiap hari (berbakti kepadanya).

Barangsiapa yang ingin menceritakan tentang nabi maka sampaikanlah setiap hari, setiap pekan, setiap bulan dan setiap tahun. Tidak mengkhususkan hari tertentu, bulan tertentu. Intinya perayaan maulid pada hari ini ditinggalkan (tidak dirayakan), allahu a’lam

syeikh utsman khamees
terjemah oleh Atri Yuanda elpariamany
selengkapnya »
Nikahilah Karna Agamanya, Disitulah Kebahagian

Nikahilah Karna Agamanya, Disitulah Kebahagian

Nikahilah Karna Agamanya, Disitulah Kebahagian

Sudah Menjadi ketetapan Allah dan fitrahnya Manusia memiliki kecondongan kepada lawan jenis, naluri alami ini haruslah diarahkan dengan ilmu yang benar agar tidak menimbulkan dampak buruk kepada dirinya sendiri.

bentuk rahmat Allah ta'ala adalah dengan menetapkan syariat nikah yang banyak hikmah besar dibaliknya, oleh karena itu bagi pemuda yang telah yakin dirinya sudah siap untuk menghalalkan wanita yang telah dia pilih, di ingatkan kembali yaitu wanita bukan sesama jenis maka segeralah menikah dengan tahapan yang dibenarkan syariat islam seperti ta'aruf bukan berpacaran.

sebelum melangkah menentukan pilihan wanita yang ingin dinikahi, maka selayaknya seorang muslim menentukan prioritas utama yaitu agamanya

قال الإمام ابن العثيمين رحمه الله : وينبغي أن يختار من النساء ذات الخلق والدين؛ لأن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قال: «تنكح المرأة لأربع لمالها وحسبها وجمالها ودينها فاظفر بذات الدين تربت يداك» وهذه الجملة تربت يداك؛ تعني الحث البالغ على أن يختار الإنسان ذات الدين؛ لأن ذات الدين تكون سبباً؛ لصلاحه، أو لقوة إيمانه، وازدياد صلاحه. فتاوى نور على الدرب [273]
Berkata al-imam ibnu al-utsaimin rahimahullah: dan hendaklah seseorang memilih wanita yang punya budi pekerti dan agama; karena Nabi shallallahu alahi wa salam telah berkata: <<wanita dinikahi karna 4 hal, karena hartanya, jalur nasab keturunannya, kecantikannya dan agamanya maka pilihlah wanita yang baik agamanya maka kamu akan beruntung>> (HR. Bukhari-Muslim) maksud dari kalimat kamu akan beruntung yaitu anjuran yang sangat ditekankan bahwa seorang muslim hendaknya memilih wanita yang baik agamanya; karena dengan agamanya yang baik menjadi sebab mendatangkan kedamaian baginya, memperkuat imannya dan terus bertambah kebahagian baginya. fatawa nurun alad darby [273]

jadi, bagi teman-teman yang ingin menikah maka jangan dengan cara berpacaran, wanita yang baik agamanya tidak akan mau berpacaran, dia akan tetap bertahan menjaga kesucian dirinya hingga datang pria sholeh yang dia ridhoi menghalalkan dirinya.

pacaran hanyalah kebahagian semu yang dibuat indah oleh syaitan dan para pengusungnya yang ingin merusak kehormatan wanita. oleh karena itu, wahai muslimah, janganlah terbuai dengan fatamorgana yang mereka kampanyekan. jagalah kesucianmu hingga datang waktunya engkau sah berdampingan dengan pria yang telah menghalalkan dirimu.

untukmu yang terlancur masuk kedalam lumpur hina pacaran, maka keluarlah dan segera kembali ke jalan yang Allah ridhoi. tata diri kembali dan berdoalah agar Allah beri keistiqomahan hingga berjodoh dengan pasangan baik agamanya agar engkau beruntung dunia dan di akhirat.

semoga Allah ta'ala memudahkan para jomblo menemukan belahan hatinya tanpa harus melewati fase pacaran pra-nikah, amin ya robbal a'lamin.

ditulis oleh Atri Yuanda El-pariamany
selengkapnya »
Sunnah Nabi, sumber Rujukan Kedua Umat Islam setelah Al-Qur'an

Sunnah Nabi, sumber Rujukan Kedua Umat Islam setelah Al-Qur'an

Sunnah Nabi, sumber Rujukan Kedua

sesungguhnya sunnah nabi atau dikenal dengan istilah hadist merupakan sumber rujukan kedua dari berbagai sumber rujukan bagi umat islam sebagaimana Allah tabaraka wa ta'ala telah sifatkan nabinya shallallahu alahi wa salam bahwasanya

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al- Jumu'ah: 2)

وقوله تعالى : ( هو الذي بعث في الأميين رسولا منهم ) الأميون هم : العرب كما قال تعالى : ( وقل للذين أوتوا الكتاب والأميين أأسلمتم فإن أسلموا فقد اهتدوا وإن تولوا فإنما عليك البلاغ والله بصير بالعباد ) [ آل عمران : 314 ] وتخصيص الأميين بالذكر لا ينفي من عداهم ، ولكن المنة عليهم أبلغ وآكد
berkata ibnu katsir dalam tafsirnya
dan perkataan Allah ta'ala: ( هو الذي بعث في الأميين رسولا منهم ) al-ummiyun mereka adalah : bangsa arab pada zaman tersebut sebagaimana perkataan Allah ta'ala 

وقل للذين أوتوا الكتاب والأميين أأسلمتم فإن أسلموا فقد اهتدوا وإن تولوا فإنما عليك البلاغ والله بصير بالعباد
dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab dan kepada orang-orang yang buta huruf, "sudahkah kamu masuk islam?" jika mereka masuk islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk, tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. dan Allah maha melihat hamba-hamba-Nya. (QS. Ali- Imran: 314)

adapun pengkhususan al-ummiyin dalam penyebutan bukan maksudnya menafikan selain mereka akan tetapi berupa pemberian yang lebih pas dan penekanan

berkata assady 

الأميين مشركي العرب وغيرعم
alummiyiin mereka para musyrikin arab dan selain mereka

{ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ } أي: علم القرآن وعلم السنة
makna ayat adalah ilmu alquran dan ilmu hadist

dan nabi shallallahu alahi wa salam berkata

حدثنا عبد الوهاب بن نجدة حدثنا أبو عمرو بن كثير بن دينار عن حريز بن عثمان عن عبد الرحمن بن أبي عوف عن المقدام بن معدي كرب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال ألا إني أوتيت الكتاب ومثله معه أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ أَلَا لَا يَحِلُّ لَكُمْ لَحْمُ الْحِمَارِ الْأَهْلِيِّ وَلَا كُلُّ ذِي نَابٍ مِنْ السَّبُعِ وَلَا لُقَطَةُ مُعَاهِدٍ إِلَّا أَنْ يَسْتَغْنِيَ عَنْهَا صَاحِبُهَا وَمَنْ نَزَلَ بِقَوْمٍ فَعَلَيْهِمْ أَنْ يَقْرُوهُ فَإِنْ لَمْ يَقْرُوهُ فَلَهُ أَنْ يُعْقِبَهُمْ بِمِثْلِ قِرَاهُ  (أخرجه الترمذي وابن ماجه ، وقال الترمذي حسن غريب)
Telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahhab bin Najdah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Amru bin Katsir bin Dinar] dari [Hariz bin Utsman] dari ['Abdurrahman bin Abu Auf] dari [Al Miqdam bin Ma'di Karib] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al -Qur'an dan yang semisal bersamanya (As Sunnah). Lalu ada seorang laki-laki yang dalam keadaan kekenyangan duduk di atas kursinya berkata, "Hendaklah kalian berpegang teguh dengan Al-Qur'an! Apa yang kalian dapatkan dalam Al-Qur'an dari perkara halal maka halalkanlah. Dan apa yang kalian dapatkan dalam Al-Qur'an dari perkara haram maka haramkanlah. Ketahuilah! Tidak dihalalkan bagi kalian daging himar jinak, daging binatang buas yang bertaring dan barang temuan milik orang kafir mu'ahid (kafir dalam janji perlindungan penguasa Islam, dan barang temuan milik muslim lebih utama) kecuali pemiliknya tidak membutuhkannya. Dan barangsiapa singgah pada suatu kaum hendaklah mereka menyediakan tempat, jika tidak memberikan tempat hendaklah memberikan perlakukan sesuai dengan sikap jamuan mereka."

قال البيهقي : هذا الحديث يحتمل وجهين أحدهما : أنه أوتي من الوحي الباطن غير المتلو مثل ما أوتي من الظاهر المتلو ، والثاني أن معناه أنه أوتي الكتاب وحيا يتلى ، وأوتي مثله من البيان أي أذن له أن يبين ما في الكتاب فيعم ويخص وأن يزيد عليه فيشرع ما ليس في الكتاب له ذكر فيكون ذلك في وجوب الحكم ولزوم العمل به كالظاهر المتلو من القرآن .
berkata al-baihaqi: hadist ini kemungkinan mengandung 2 sudut pandang salah satunya: sesungguhnya aku telah diberikan wahyu yang bersifat bathin (tidak terlihat) selain yang dibacakan sebagaimana aku telah diberikan wahyu yang tampak dan dibaca, yang kedua maknanya bahwasanya aku telah diberi kitab wahyu yang dibaca dan diberikan yang semisalnya berupa penjelasan yaitu diizinkan memberikan penjelasan  atas apa yang ada dalam alqur'an yang dijadikan berlaku secara umum dan dikhususkan dan menambahkan sehingga menjadi syariat yang tidak terdapat dalam alquran sehingga wajib hukumnya dan harus diamalkan sebagaimana yang tampak dibaca dari alquran.

هذا حديث من الأحاديث الصحيحة الثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ومعنى «ومثله معه» يعني أن الله أعطاه وحياً آخر وهو السنة التي تفسر وتبين معناه، كما قال الله عز وجل: {وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ} [النحل: 44]، فالله أوحى إليه القرآن وأيضاً السنة وهي الأحاديث التي ثبت عنه صلى الله عليه وسلم فيما يتعلق بالصلاة والزكاة والصيام والحج، وغير ذلك من أمور الدين والدنيا، فالسنة هي وحي ثان أوحاه الله إليه لإكمال الرسالة وتمام البلاغ، وهو صلى الله عليه وسلم يعبر عن ذلك بالأحاديث التي بينها للأمة قولاً وفعلاً وتقريراً
dan hadist ini diantara hadist-hadist shahih lainnya dan makna «ومثله معه» yaitu bahwa Allah memberinya (muhammad) wahyu lain yaitu sunnah yang mentafsirkan dan menjelaskan maknanya (alquran), sebagaimana perkataan Allah azza wa jalla: 

{وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ} [النحل: 44]
dan kami turunkan adz-zikr (alquran) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. (QS. An-Nahl: 44)

maka Allah mewahyukan kepadanya al-qur'an dan juga sunnah yaitu hadist-hadist yang telah jelas kebenarannya dari Rasulullah shallallahu alahi wa salam yang berkaitan dengan sholat, zakat, haji dan selainnya yang berkaitan dengan perkara agama dan dunia dan sunnah juga merupakan wahyu kedua yang Allah wahyukan kepadanya (muhammad) untuk menyempurnakan risalah islam dan penyampaian, Rasulullah yang menjelaskan dengan hadist-hadistnya mengenai alquran kepada umat berupa perkataan, perbuatan dan penetapan.

munculnya ilmu mustalahul hadist dikarenakan semakin jauhnya umat dari zamannya Rasulullah shallallahu alahi wa salam dan para sahabatnya ridhwanullahi alaihim dan melemahnya penyebaran agama islam di masyarakat dan munculnya sekte dan kelompok yang semakin jauh dari dari petunjuk islam bahkan ada yang menyerang dan mencederai syariat islam dan beramal dengan hadist palsu sehingga tersebar di masyarakat bidah dan kesesatan, hal ini terjadi dikarenakan sebagian orang yang jahil namun semangat beragama membuat hadist palsu untuk memotivasi manusia melakukan kebaikan.

atas keprihatinan ini, maka para ulama mujtahid terdahulu berusaha menjaga hadist-hadist nabi dengan mempelajarinya dan menjelaskan kepada umat sehingga bisa dibedakan mana shahih dan cacat dengan membuat kaedah.

referensi
1. kitab mustahalul hadist li syaikh ibnu utsaimin rahimahullah
2. aplikasi mushaf alquran 
3. carihadis.com

Disusun dan diterjemahkan oleh Atri yuanda elpariamany
selengkapnya »
Beranda